Doamu, Batas Minimal Keberpihakanmu

Doa
Doa
Doa

An-Najah.net – Akhir Maret 2016, saya melakukan safari dakwah ke salah satu kota terpencil di Borneo. Terletak di pinggiran sungai Barito di provinsi Kalimantan Tengah.

Beberapa jam sebelum travel yang akan membawa Saya menuju kota Banjarmasin menjemput, saya menyempatkan berdiskusi dengan beberapa eh whacktivity dakwah di sini. Temanya tidak jauh jauh dari isu global yang dihadapi umat Islam dewasa ini.

“Barat telah memastikan musuhnya. Mereka telah memutuskan dengan suara bulat, Islam lah yang dijadikan musuh setelah Ganjuran Uni Soviet pada jihad Afghanistan,” jelas saya, tatkala salah seorang ayah bertanya tentang perang melawan terorisme.

“Lantas apa yang akan mereka lakukan kepada Islam dan umat Islam?” Tanya hewan yang memoderatori kajian Akbar di Kota Barito ini.

“Mereka berupaya menghancurkan Islam dengan cara apapun. Ini konsekuensi logis dari sebuah permusuhan. Puluhan ayat dalam Al Quran menjelaskan bahwa Yahudi, Nasrani dan musyrikin lainnya telah, sedang dan akan terus berupaya menghancurkan Islam, serta menghalangi tegaknya hukum Allah di bumi ini.” Papar saya lebih lanjut.

“Lebih jelasnya bagaimana?” Tanyanya. Saya jawab, “sederhananya begini, Allah membagi manusia hanya dalam dua kelompok. Tidak ada kelompok ketiga. Yaitu Auliya’u Rahman (Wali-wali Allah) dan Auliya’u Syaitan (wali-wali setan).

Masing-masing memiliki ideologi, tujuan, karakter dan konsekuensi konsekuensinya. Baik di dunia ataupun di akhirat, nanti manusia tinggal pilih.”

“Semua muslim yang sehat imannya, pasti sepakat bahwa Amerika adalah salah satu penjelmaan Auliya’u Syaitan. Begitu kan?” Tanya saya kepada hadirin. “ya, itu sangat jelas. Sebab mereka orang-orang kafir. Dan orang-orang kafir itu musuh Allah, temannya setan.” Jawab mereka.

“Nah Amerika khususnya dan barat pada umumnya membuat berbagai macam senjata dan jerat untuk menaklukkan musuhnya yang bernama Islam dan umat Islam,” ucap saya lebih lanjut.

“Salah satu senjata tersebut berupa istilah-istilah untuk menjustifikasi kejahatan kejahatan mereka dibenarkan oleh dunia, atau bahkan disetujui oleh Muslimin. Antara lain terorisme, radikalisme, ekstrimisme dan sejenisnya,” kata saya melanjutkan penjelasan.

“Dengan istilah ini mereka leluasa melakukan kejahatan terhadap umat Islam; seperti membunuh, Mengapa wilayah dan negara-negara Islam, atau memenjarakan dan menyiksa umat Islam. Dan tragisnya, umat Islam mendiamkan bahkan mendukung kegiatan ini. Ini termasuk Wahyu setan yang difirmankan oleh Allah yang artinya;

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, Iya itu Setan Setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan (mewahyukan) kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka abaikanlah mereka dan apa yang mereka ada ada kan.” (QS. Al-An’am: 112)

Setelah diskusi panjang lebar, salah seorang ikhwan yang menyertai saya sejak awal perjumpaan berucap, “Baik ustadz, jika memang demikian jahatnya musuh-musuh Islam dan lemahnya umat. Terutama para aktivis Islam, apa yang bisa kita lakukan? Terutama kamu yang serba terbatas di sini?”

Pertanyaan ini menyentak, bukan karena saya tidak bisa menjawab. Sudah banyak solusi dari para pakar, ulama, aktivis senior yang pernah saya dengar dan baca. Tetapi yang dibutuhkan oleh para Ikhwan seperti ini adalah solusi praktis dan aplikatif, serta tidak muluk-muluk.

“Perbanyaklah doa kepada Allah, untuk kemenangan serta kebaikan Islam dan saudara-saudara kalian yang berjuang dijalan Allah yang telah mewakafkan hidupnya demi Islam. Berdoalah, agar Allah menghancurkan musuh musuh Islam dan sekutunya. Ini yang paling realistis dan gampang kita lakukan saat ini.” Jawab saya.

Doakanlah Mereka

Ya, doa adalah senjata pertama Dan terakhir seorang muslim. Kapanpun, dimanapun dan siapa pun bisa melakukannya; mengangkat senjata doa. Senjata ini tidak mampu dirampas oleh musuh-musuh Islam, seberapapun usaha mereka.

Doa selalu menjadi senjata andalan para Mujahidin sejak dahulu kala. Dikisahkan saat kecamuk perang melawan pasukan sekutu daerah bukhara, panglima Agung Islam pada kekhalifahan Bani Umayyah, Qutaibah bin Muslim mencemaskan kondisi pasukannya.

Ia melihat Mujahidin kewalahan menghadapi gelombang musuh yang jumlahnya berlipat ganda dengan perlengkapan yang lebih sempurna.

Di saat suasana Genting ini, tiba-tiba beliau menoleh ke kanan dan ke kiri. “Dimana Muhammad bin Washi’ Al-Uzdi?” Teriak beliau.

Siapakah Al-Uzdi ini, sehingga menjadi harapan besar Panglima Qutaibah saat genting seperti itu? Dia adalah ulama kharismatik. Kezuhudan, keilmuan dan kecapakan dalam pertempuran telah menyatu dalam diri Ulama’ hadits ini.

Tentang kelebihannya, seorang ulama tabi’in bernama Malik bin Dinar pernah berucap, “para ulama memiliki qurra, orang-orang kaya memiliki qurra dan Muhammad bin Washi’ adalah qurranya Ar-Rahman.”
Kembali ke medan tempur.

Saat itu Seorang Prajurit menjawab, ” wahai panglima, ia berada di barisan sebelah kanan.” Qutaibah bertanya, “apa yang ia lakukan?” “Dia sedang berdoa seraya mengarahkan jari telunjuknya ke langit. Apa saya panggil beliau?” Tanya prajurit.

“Tidak perlu, biarkan dia, Demi Allah, telunjuknya itu (doa beliau) lebih aku sukai daripada seribu pedang pilihan yang dihunus oleh seribu pemuda jagoan. Biarkan dia berdoa, karena kita tahu doanya mustajab.”

Laksana singa kelaparan, dua pasukan ini sering menerkam. Allah menurunkan ketenangan dan semangat yang kuat kepada Mujahidin. Perang ini berkecamuk hingga malam tiba. Allah menggoyahkan jiwa musuh. Akhirnya, para Ksatria Islam berhasil menaklukkan mereka dengan mudah.

Inilah kekuatan doa saat menghadapi musuh. Jangan remehkan doa. Apalagi saat saat ini, di mana musuh betul-betul pongah mencederai Islam dan Muslimin. Dengan mantra “perang melawan terorisme”.

Mereka menyihir mayoritas umat Islam untuk tidak peduli terhadap darah dan kehormatan saudaranya yang ditumpahkan oleh Amerika beserta sekutu-sekutunya.

Saudara dan saudariku, berdoalah! Banyak saudara mu yang sedang berjuang bahkan bertaruh nyawa demi tegaknya Islam.

Banyak para muslimah yang ditinggal suaminya berjuang membutuhkan uluran doamu. Berdoalah! Dakwah dan Jihad membutuhkan ketulusan doa dan munajatmu!.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 126 Rubrik Oase Imani

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian