Apa Itu Dosa Mukaffirah?

(An-najah) – Berikut adalah penjelasan tentang dosa-sosa yang dapat membuat pelakunya jatuh ke dalam kekafiran dan penjelasan apakah lari dari pertempuran termasuk menjadikan pelakunya kafir:

Assalamu’alaikum. Ustadz, sebagian kaum muslimin memahami bahwa melarikan diri dari medan pertempuran merupakan dosa besar. Bahkan ada yang mengatakan menjadikan pelakunya kafir. Dasarnya adalah firman Alloh, “Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).  Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Alloh, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (al-Anfal: 15-16) Kesimpulan itu diambil dari frase “tempatnya ialah neraka Jahannam.” Apakah kesimpulan ini benar? Mohon penjelasannya. (Ummu Syahid—Garut Jawa Barat)

 

Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga terlimpah ruah kepada Rasululloh SAW, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau sampai akhir zaman.

kabair

Para ulama Ahlussunnah sepakat dalam mengklasifikasi dosa besar menjadi dosa-dosa mukaffirah (yang mengeluarkan pelakunya dari Islam) dan dosa-dosa ghayru mukaffirah (yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam).

Dosa besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam adalah dosa syirik besar, kufur besar, nifaq besar, dan murtad dari agama Islam. Sedangkan dosa mencuri, berzina, durhaka kepada orang tua, makan riba, lari dari medan perang, dan lain sebagainya (bisa merujuk buku Dosa-Dosa Besar karya Imam adz-Dzahabiy) termasuk dosa ghayru mukaffirah.

Apabila seseorang melakukan suatu dosa mukaffirah, lalu ia meninggal dunia sebelum bertaubat, ia mati dalam keadaan musyrik—kafir. Alloh tidak akan mengampuninya. Sedangkan apabila dosa yang dilakukannya termasuk dosa-dosa ghayu mukaffirah, ada kemungkinan Alloh mengampuninya. Hal itu tergantung kepada masyiah (kehendak) Alloh. Alloh berfirman,

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa`: 48)

Untuk mengetahui apa saja yang termasuk dosa mukaffirah dan apa saja yang ghayru mukaffirah, kita mesti merujuk kepada penjelasan para ulama. Kita yang awam tidak diperkenankan mengambil kesimpulan sendiri hanya dengan bersandar pada makna tekstual suatu dalil, baik ayat al-Qur`an maupun hadits Nabi SAW.

Ketika menyimpulkan bahwa suatu keyakinan, ucapan atau perbuatan termasuk dosa mukaffirah, para ulama membaca dan memperhatikan semua dalil yang berkaitan dengan hal itu. Bahkan mereka memperhatikan dan berpijak pada pernyataan para ulama salaf: para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Tidak ada satu pun yang ditinggalkan. Meninggalkan satu saja bisa berakibat fatal: menghukumi suatu dosa mukaffirah sebagai dosa ghayru mukaffirah atau sebaliknya.

Selain itu, menafsirkan ayat tanpa memperhatikan rambu-rambu yang telah digariskan oleh para ulama juga berakibat fatal. Rasululloh saw bersabda,

 مَنْ قَالَ فِي القُرآنِ بِرأيِهِ ، فَلْيَتَبوأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang menafsirkan al-Qur`an dengan akal/pendapatnya, hendaklah bersiap-siap menduduki tempat duduknya dari api neraka.” (HR. at-Tirmidziy)

Wallahu a’lam bish shawab.

 

web counter