Dua Sejoli Penghancur di Akhir Zaman

Dua Sejoli
Dua Sejoli
Dua Sejoli
Dua Sejoli

An-Najah.net – Bagaimana cara untuk memastikan bahwa diri Anda selamat atau tertimpa fitnah?

Sahabat hudzaifah bin Yaman yang bakar dalam kajian fitnah memiliki jawabannya.

“Jika kalian ingin tahu apakah telah tertimpa fitnah atau tidak, maka perhatikanlah; Jika dia menilai yang halal sebagai haram, atau sebaliknya, Iya menilai yang haram menjadi halal, Iya telah tertimpa fitnah.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dan Adz-Dzahabi)

Jika kita meneliti hadits-hadits fitnah, kita akan menemukan dua tipe manusia yang bisa memiliki dua peran berlawanan. Mereka bisa berperan menyelamatkan manusia dari fitnah akhir zaman.

Namun, mereka juga mampu berkolaborasi dan membentuk kekuatan super power untuk menghancurkan manusia.

Mereka yaitu Umaro’ (pemimpin) dan ulama. Ketika ulama menjadi Suu’ dan penguasa menjadi dzolim, umat akan menjadi korbannya.

Pertama: Pemimpin Sesat

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan fitnah pemimpin dalam sebuah hadis;
“Akan ada pemimpin pemimpin yang zalim sepeninggalku. Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, mereka melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan.

Maka siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya, ia seorang mukmin. Siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya, ia seorang mukmin. Siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, ia seorang mukmin. Dan tidak ada Iman lagi setelah itu.” (HR. Ibnu Hibban, shahih)

Sahabat Abdullah bin Abbas meriwayatkan, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “akan ada dari kalian para pemimpin yang lebih buruk daripada majusi.” (HR. Tabrani)

Sahabat hudzaifah bin Yaman berkata, “akan ada pemimpin yang akan menyiksa kalian, sehingga Allah pun akan menyiksa mereka.”

Pemimpin bisa menjadi aktor perbaikan dan penghancuran masyarakat karena mereka memiliki otoritas. Mereka menentukan hukum dan kebijakan yang mengikat masyarakat.

Pelaksanaan hukum dan kebijakan Pemimpin juga dikawal dengan kekuatan Aparatur Negara yang siap memberikan apapun demi terlaksananya hukum tersebut.

Hukum mengubah cara pandang rakyat. Yang Haq dianggap batil, jika memang hukum yang berlaku mengatakan demikian. Sebaliknya, yang batil dan sesat bisa dianggap haq dan benar.

Seringkali masyarakat lebih takut melanggar hukum buatan penguasa daripada hukum yang diturunkan oleh Allah ta’ala. Kerapkali masyarakat merasa bersalah,

jika melanggar aturan penguasa atau berani memberi sanksi kepada seseorang yang melanggar aturan Desa daripada melanggar ketentuan Allah.

Inilah Kenapa rasulullah sangat mengkhawatirkan nasib umatnya di bawah kekuasaan para penguasa sesat. Beliau bersabda;

“Perkara yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah pemimpin yang menyesatkan. Jika pedang sudah diletakkan di tengah umatku, tidak akan diangkat hingga hari kiamat.

Tidak akan terjadi kiamat hingga ada beberapa kelompok dari umatku yang mengikuti orang-orang musyrikin, dan hingga ada beberapa kelompok dari umatku yang menyembah berhala.” (HR. Abu Dawud)

Sahabat Umar Bin Khattab Radiallahu anhu berkata, “ada tiga hal yang menghancurkan Islam; ketergelinciran seorang Alim, orang-orang munafik yang memperdebatkan Al Quran dan penguasa penguasa yang sesat.” (Sifat an-nifaq wal munafiqin, al-faryabi).

Kedua: Ulama Sesat

Pengaruh ulama dalam kehidupan masyarakat sangat vital. Hidup matinya masyarakat Islam terletak pada ulama. Inilah Kenapa Allah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi para ulama Rabbani. Karena mereka sangat berjasa dalam mengawal umat agar sesuai tuntunan Allah ta’ala.

Pun ulama diancam dengan hukuman yang sangat mengerikan, jika menyimpang dari jalan Allah dan menyesatkan umat. Imam Ad-Dailamiy meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas,

“Akan ada di akhir zaman para ulama yang menghasung manusia untuk meraih akhirat, namun mereka sendiri tidak berhasrat. Mereka menyuruh manusia zuhud, namun mereka sendiri tidak zuhud.

Mereka Sangat terbuka dengan para tokoh (orang-orang kaya), dan mereka sangat kikir di hadapan orang-orang fakir. Mereka melarang manusia mendatangi pintu penguasa, namun mereka sendiri melakukannya. Merekalah manusia-manusia yang bengis dimata Ar-Rahman.” (HR. Ad-Dailamiy)

Dalam hadis riwayat Imam As-Subkiy, Rasulullah bersabda yang artinya;

“Umatku hancur karena seseorang alam yang fajir (pelaku maksiat), orang bodoh yang jelas dan yang paling buruk diantara yang buruk adalah ulama-ulama yang buruk. Dan sebaik-baik perkara adalah ulama yang baik.” (HR. As-Subkiy)

Walau jalur periwayatan kedua hadis yang menjelaskan karakter mayoritas ulama akhir zaman di atas dihukumi soif oleh ulama. Namun maknanya adalah benar adanya. Demikian jelas Syaikh Rosyid Ridho dalam tafsir Al-Manar.

Hal ini dikuatkan beberapa Hadits Shahih, antara lain dari Imam Bukhari dari sahabat hudzaifah. Terjadi dialog yang panjang antara Rasulullah dengan hudzaifah tentang fitnah fitnah yang akan menimpa umat.

Hingga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menyebut bahwa akan ada dakhon (asap), lalu hudzaifah bertanya, “wahai Rasulullah, Apakah Dakhon itu?” Beliau menjawab, “sekelompok manusia yang mengatur bukan dengan petunjuk ku, kalian mengenal mereka dan mengingkari.”

Hudzaifah bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Rasulullah menjawab, “Ya, akan ada para Dai yang menyeru ke neraka jahanam. Siapa yang menyambut seruan mereka, mereka melempar orang tersebut ke jahanam.”

Hudzaifah bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, Sebutkan sifat mereka kepada kami!”
Rasulullah menjawab, “mereka berasal dari kulit kita, berbicara dengan lisan (bahasa) kita.”

Kekuatan ulama terletak pada ilmu. Sementara ilmulah yang membentuk karakter, pemikiran dan sikap seseorang. Maka jika penyampai ilmu rusak serta menjadikan ilmu sebagai alat untuk memuaskan syahwat dan kepentingan pemimpin sesaat. Maka, keyakinan, karakter dan sikap umat awam pun akan rusak.

Penguasa sesat dan ulama buruk, adalah dua sejoli yang memiliki potensi menghancurkan Islam dan umat Islam, terutama di akhir zaman. Disaat ilmu dan hukum agama diabaikan. Semoga Allah menjauhkan kita dari dua kelompok manusia ini.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 125 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian