Dua Sisi Mata Uang Perlawanan

Ketika Usamah bin Laden wafat diterjang peluru M-4 Navy SEALs, Amerika bergembira. Musuh yang mereka anggap momok nomor satu akhirnya binasa. Tetapi di sisi lain, Amerika mulai ketar-ketir dengan perkembangan baru di timur Tengah. Satu-persatu boneka dan budak setianya di kawasan tumbang digoyang rakyatnya sendiri.

Para pengamat Barat kemudian menuangkan kegembiraan bercampur kecemasan itu dalam analisa mereka. Mereka yang optimis beranggapan bahwa wafatnya Usamah adalah kemenangan Barat menumpas terorisme. Sebutan miring mereka terhadap jihad dan perlawanan Islam di seluruh dunia.

Kejumawaan itu mirip kecongkakan Francis Fukuyama ketika menganalisa bahwa sejarah sudah berakhir. Semua sistem sudah terbukti tumbang dan hanya demokrasi dan kapitalisme yang eksis. Betapa tidak, kini Cina komunis pun terpaksa menelan ludahnya sendiri, menerapkan ekonomi kapitalis yang dahulu mereka haramkan.

Para pengamat yang bergembira ini mengukur eskalasi perlawanan dengan figuritas kepemimpinan. Tewasnya seorang pemimpin memang kerap mematahkan perlawanan yang sedang berlangsung.

Namun para pengamat model ini lupa belajar sejarah dan rabun melihat realita. Perlawanan Islam selalu tumbuh selama umatnya berpegang pada Quran dan Sunnah. Perlawanan Islam bukanlah hasil orasi politik dan pemikiran seorang ideolog. Melainkan perintah dari langit yang abadi untuk selalu menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan.

Di sisi lain, Al-Qaeda adalah bentuk terkini dan tercanggih dari trial and error gerakan yang sudah dilakukan umat Islam selama 88 tahun. Yatu sejak Khilafah Islamiah ditumbangkan tahun 1924. Sejarah mencatat, setelah 1924 tiada tahun yang kosong dari upaya menegakkan kembali khilafah.

Al-Qaeda adalah hasil renungan terhadap perjalanan gerakan shahwah Islamiah atau kebangkitan Islam selama kurun yang panjang. Kolaborasi antara banyak harakah Islam yang digodog bersama di atas tungku peperangan Afghan yang panjang.

Perlu diingat pula, bahwa Afghan melahirkan kemenangan mujahidin atas Uni Soviet yang begitu perkasa militernya. Al-Qaeda belajar dengan modul lengkap. Modul materi panjang kekalahan demi kekalahan yang terjadi di seluruh dunia Islam, sekaligus modul berbuah kemenangan di Afghanistan.

Ironi Perjuangan

Maka optimisme perlawanan Al-Qaeda tak akan padam hanya lantaran pemimpinnya tewas. Mereka memiliki modul sempurna dari langit sekaligus modul hasil pembelajaran panjang harakah Islam sedunia.

Di sisi lain, para pengamat Barat melihat bahwa gelombang revolusi di Timur Tengah adalah sebuah isyarat. Pertanda bahwa hegemoni mereka, yang ditunjang para budak dan boneka setia, ternyata begitu rapuh menghadapi perlawanan sipil. Ben Ali, Mubarak hingga Qadhafi ternyata roboh diterjang gelombang perlawanan.

Sebagian mereka melihat bahwa ini sebuah ironi perlawanan, Al-Qaeda menyerukan jihad bersenjata namun para rejim boneka justru roboh oleh demonstasi dan demokratisasi. Maka pengamat seperti Lawrence Wright mengejek perlawanan Al-Qaeda sebagai tindakan sia-sia.

Wright sebenarnya tengah upaya menghibur diri. Al-Qaeda memang memilih angkat senjata, namun mereka sadar bahwa dukungan umat adalah syarat kemenangan. Dan dukungan umat tak hanya dengan turunnya mereka ke medan pertempuran. Karena tak semua orang mampu berjihad seperti Al-Qaeda.

Pemikir Al-Qaeda, Abu Mush’ab As-Suri, menelaah bahwa jihad memang perlawanan bersenjata. Namun jihad harus ditunjang kekuatan politik, upaya-upaya membakar muqawamah dengan memanfaatkan setiap kunci konflik, miftah shara.’

Al-Qaeda mengendakan tumbangnya rejim-rejim lokal boneka Barat pada kurun 2010-2013 dalam master plan mereka. Mereka mencatat dengan jeli, bahwa rakyat Muslim yang tertindas akan mengalami titik jenuh dan puncak kulminasi toleransi terhadap kezhaliman.

Meski boneka-boneka Barat di Timur Tengah roboh karena gelombang massa, bukan berarti jihad Al-Qaeda sia-sia. Harus diingat bahwa massa yang bergelombang dan menyapu para tiran itu adalah massa Muslim. Lawrence Wright harus ingat, demonya rakyat di Kairo bernuansa perlawanan terhadap Mubarak dan majikannya di Washington dan Eropa.

Ada insiden beberapa jurnalis Barat yang meliput demo tersebut diserang oleh massa. Bahkan jurnalis lokal yang melindungi sejawatnya tak luput dari serangan. Mereka dianggap sebagai “pengkhianat.” Jadi demo itu adalah perlawanan terhadap Barat.

Jangan lupakan juga, bagaimana spirit keberanian dan perlawanan Al-Qaeda juga berpengaruh terhadap keberanian rakyat Muslim melawan penguasanya yang zhalim. Tak hanya mengilhami keberanian angkat senjata, Al-Qaeda memberi teladan bahwa semut bisa membuat gajah kelabakan.

Keberhasilan Al-Qaeda merobohkan WTC dan Pentagon memberikan ilham: tiada menara yang tak bisa roboh, tiada dinding yang tak bisa dijebol. Syaratnya asal ada kemauan dan keberanian melawan.

Dua Sisi

Maka muncullah perlawanan berani di Tunis, Kairo dan Tripoli. Rakyat sipil tak bersenjata melawan militer yang dilengkapi arsenal mematikan. Kebrutalan rejim yang membunuhi demonstran sipil malah melahirkan para martir yang membakar perlawanan lebih menggila.

Maka apapun bentuknya; jihad bersenjata ataupun revolusi sipil, adalah perlawanan masyarakat Muslim terhadap kezhaliman boneka lokal yang disokong Barat. Lawrence Wright tak harus gembira karena Muslim Timur Tengah memilih revolusi sipil ketimbang jihad bersenjata.

Ini masalah kemampuan. Rakyat di negeri-negeri Muslim memang dilucuti oleh rejim bersenjata dukungan Barat sehingga tak mampu angkat bedil. Namun ini masalah metode saja. Ujungnya tetap satu: menumbangkan hegemoni Barat kafir yang dijaga anjing-anjing munafik di negeri Muslim.

Wright, Fukuyama dan para pengamat lainnya harus kembali merujuk pada guru besar mereka, Samuel Huntington. Ini pertarungan antarperadaban, bukan pertandingan olahraga yang harus taat cabang kejuaraan. Ini benturan antara kafir Barat dengan Muslim, jihad bersenjata atau revolusi sipil hanyalah caranya. Keduanya hanya sisi pada mata uang yang sama; perlawanan dan kebangkitan Islam. *(Faqih Al-Hindi)