Dubes Suriah Rupanya Sering Mondar-Mandir ke Solo

 

SOLO (an-najah.net) – Sedianya Sabtu, (24/08) kemarin bakal dihelat suatu acara berskala internasional. Acara Seminar Interdisciplinary oleh Program Pascasarjana UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) itu akan mengambil tema “Peta Konflik Timur Tengah; Dinamika dan Orientasinya.” 

Seperti diberitakan sebelumnya, seminar itu menghadirkan tiga duta besar negara asing sekaligus, yaitu Suriah, Mesir dan Amerika Serikat. Sekadar diketahui, ketiga negara tersebut hari-hari ini sedang “bermasalah” dengan umat Islam.

Itulah yang kemudian membuat ratusan massa aktivis Islam yang menamakan diri sebagai SIMPUL (Solidaritas Muslim Peduli) Kemanusiaan menentang acara tersebut. Rabu, 21/08/2013 lalu ratusan massa SIMPUL berdemonstrasi di depan kampus UMS, menolak kehadiran duta besar ketiga negara tersebut. Menurut SIMPUL Kemanusiaan, dengan diundangnya Dubes Amerika, Mesir dan Suriah ke UMS, Solo akan kembali ternoda. Alasannya, pada saat umat Islam dan beberapa negara mengecam dan memutuskan hubungan dengan Mesir dan Suriah akibat pembantain terhadap rakyatnya, pihak UMS justru memberikan panggung untuk membenarkan pembantaian itu.

 Dubes Suriah Sering ke Solo

Sementara itu, ditemui an-najah.net di kediamannya, Joko Ekram salah satu inisiator acara tersebut memaparkan asal-muasal mengapa ketiga duta besar itu ke Solo. Pria yang akrab dipanggil Joko Beras itu mengisahkan pertemuannya dengan KH. Muhyiddin Junaidi, salah seorang anggota PP. Muhammadiyah, di sebuah hotel di Solo. “Kami bertemu dan berbincang terkait beberapa hal. Sampai kepada masalah Suriah, lalu Pak Muhyiddin menawarkan bagaimana kalau dihadirkan Dubes Suriah ke Solo,” tutur Joko. Muhyidin sendiri adalah Bidang Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah.

Karena kapasitasnya sebagai pengurus Muhammadiyah, lanjut Joko, gagasan tersebut ditawarkan ke pihak UMS, dan disambut oleh Direktur Pascasarjana, Prof. Dimyati. Pemilihan Dubes Suriah sebagai pembicara diharapkan menjadi representasi resmi dari rezim yang sedang berkuasa. “UMS sebagai lembaga ilmu, tentu harus mendengarkan penjelasan dari berbagai pihak,” kata Joko. Anggota Komisi Ukhuwah MUI Solo itu juga mengakui selama ini sudah ada para masyayikh dan doktor asal Suriah yang sudah menjelaskan kondisi Suriah di pengajian-pengajian.

Selain sebagai pihak yang dianggap mewakili rezim, proses menghadirkan Dubes Suriah juga dianggap mudah, mengingat yang bersangkutan sudah beberapa kali mengisi acara di UNS (Universitas Sebelas Maret Surakarta). “Jadi, fasilitator yang menghubungkan dengan Dubes Suriah itu ya Pak Muhyidin,” tutur Joko. “Saya bisa datangkan Dubes pekan depan,” ucap Muhyidin sebagaimana ditirukan Joko. Ketika proses persiapan itu berlangsung, terjadilah tragedi kemanusiaan di Mesir. “Pak Muhyidin bilang, lha apa sekalian saja kita undang Dubes Mesir?” “Karena saya melihat biang berbagai tragedi ini adalah Amerika, sekalian saya usulkan untuk menghadirkan Dubes AS,” imbuh Joko.

Acara Tertutup

Rencana pun dimatangkan. Pihak Pascasarjana UMS malah memasukkan acara tersebut dalam jadwal matakuliah wajib bagi peserta program S2 dan S3. “Peserta seminar 250 orang. Terdiri dari 150 mahasiswa pasca, 50 pengurus rektorat dan 50 lainnya undangan luar.” Joko sendiri mengaku mendapat tugas mengisi jatah 50 tamu undangan luar. Selain itu, ia juga diminta menghadirkan pembicara lain. “Saya kemudian undang dr. Joserizal, karena sudah kenal lama sejak tragedi Ambon.”

Acara yang direncanakan tertutup itu mulai mendapatkan kritik dari kalangan internal Pascasarjana UMS. Di antaranya, Dr. Muinuddinillah Basri. Doktor luluasan Madinah itu mempertanyakan perlunya mengundang Dubes Suriah. Alasan digelarnya seminar internasional sebagai bentuk forum ilmiah, juga tidak lepas dari kritikan Alumni Universitas Islam Madinah ini. “Forum ilmiah kan harus didudukkan secara Islam, semuanya harus mengikuti aturan Islam,” pungkasnya Sebagai catatan, diantara tokoh intelektual yang ada di kota Solo, Dr. Muin termasuk paling gigih mengkampanyekan solidaritas kemanusiaan untuk rakyat Suriah. Rencana seminar itu pun sudah terdengar di kalangan tokoh Islam Solo.

Dalam pertemuan para tokoh Solo di Ma’had Al-Islam Gumuk pada tanggal 19/08/2013, rencana seminar itu juga sedikit disinggung. Salah satunya oleh pimpinan Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Ust. Wahyudin. Kepada Rektor UMS, Prof. Dr. Bambang Setiadji, Ust. Wahyudin menanyakan urgensi mengundang ketiga dubes tersebut di UMS. Sumber an-najah.net menyebutkan, pertanyaan Ust. Wahyudin tersebut disahut oleh Joko Beras. “Tanya itu Ustadz…” sambil menunjuk ke arah Ust. Mudzakir. Ust. Mudzakir pun menjawab, “Ya biar kita bisa dengar apa yang sebenarnya terjadi di sana.. Jadi kita bisa tahu yang sebenarnya.”

 

PP Muhammadiyah Batalkan Seminar

Rencana seminar itu pun semakin tersebar luas. Beberapa massa aktivis Islam Solo seperti LUIS, FKAM, IRM, Majlis Taklim Al-Ishlah dan berbagai ormas pemuda Islam pada Rabu 21/08/2013 menggelar orasi di simpang UMS. Mereka menyatakan menolak kehadiran ketiga dubes negara yang mereka tuding sebagai biang pembantaian umat Islam. Demo tersebut disambut UMS dengan sikap akomodatif. Muhammad Dai, Pembantu Rektor I  mewakili pihak rektorat naik ke panggung orasi. Dai mengumumkan bahwa acara urung dilaksanakan.

Mengetahui pembatalan acara tersebut, Joko Beras mengaku sangat legowo. “Bagi saya sederhana. Saya ini kan orang awam. Apa yang Allah kehendaki, tidak bakal bisa ditolak,” tutur juragan beras itu dengan senyum renyah khasnya. (hamdan)