Browse By

Hukum Dzikir Jahar dan Secara Berjamaah

Ilustrasi Dzikir secara berjama'ah

Ilustrasi Dzikir secara berjama’ah

An-Najah.net – Ustadz, bolehkah berdzikir dengan suara yang keras dan dilakukan secara berjamaah setiap selesai shalat wajib seperti yang banyak kita jumpai di negeri kita ini? Terima kasih atas jawabannya. (Luthfi—Lampung)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ada perbedaan antara men-jahar-kan dzikir seusai mengerjakan shalat lima waktu dengan dzikir berjamaah. Yang pertama ada sunnahnya; sedangkan yang kedua tidak ada sunnahnya, bahkan sebagian ulama mengkategorikannya sebagai perbuatan bid’ah.

Syaikh ‘Abdulaziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum dzikir berjamaah seusai mengerjakan shalat; dan bagaimana berdzikir yang sesuai sunnah: apakah secara jahr ataukah sirr. Beliau menjawab, “Cara berdzikir yang sesuai sunnah seusai mengerjakan sholat lima waktu dan seusai shalat Jumat adalah jahr (suara keras). Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Abbas, beliau berkata, “Mengeraskan suara dalam berdzikir setelah selesai mengerjakan shalat Fardhu adalah kebiasaan yang terjadi pada masa Nabi saw.” Ibnu ‘Abbas juga berkata, “Saya mengetahui bahwa mereka telah selesai mengerjakan shalat apabila telah mendengarnya.” Adapun membaca dzikir secara berjamaah yang satu orang memimpin dan yang lain mengikutinya, sungguh ini tidak ada asalnya. Ini adalah bid’ah. Yang disyariatkan adalah semua berdzikir kepada Allah dengan suara jahr tanpa menyengaja untuk membacanya secara bersama-sama, baik dalam permulaan ataupun akhirannya.” (Fatawa Syaikh Bin Baz 11/191)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin pernah ditanya tentang hukum mengulang-ulang dzikir yang sunnah setelah shalat secara berjamaah. Beliau menjawab, “Ini bid’ah. Tidak ada riwayat dari Nabi SAW yang menyatakan hal itu. Yang ada, masing-masing beristighfar dan berdzikir untuk dirinya sendiri. Hanya saja, setelah shalat disunnahkan menjaharkan dzikir. Yang penting, pendapat yang kuat adalah disunnahkan berdzikir seusai mengerjakan shalat dengan cara yang disyariatkan, salah satunya adalah dengan menjaharkannya; yakni dengan tetap tidak membuat kegaduhan.” (Majmu’ Fatawa ‘Utsaimin 13/261-262)

Pendapat para Ulama Terdahulu

Imam ‘Alauddin al-Kasaniy, salah satu ahli fikih madzhab Hanafi dalam Badai’ush Shanai’ 1/196 menyatakan, “Mengeraskan bacaan takbir adalah bid’ah yang tidak ada asalnya. Sebab takbir adalah dzikir, dan sunnah dzikir itu dibaca sirr (suara lirih) sebagaimana difirmankan oleh Allah, “Serulah Rabb-mu dengan khusyuk dan lirih.” Juga sabda Nabi SAW, “Sebaik-baik doa adalah yang dibaca secara lirih.” Oleh karena itu, doa secara lirih lebih dekat kepada kekhusyukan dan adab serta jauh dari riya. Maka janganlah meninggalkan prinsip ini kecuali ada dalil yang mengkhususkannya.”

Penulis Kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidziy, Abul ‘Ala` Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarakfuri, 1/246 menyatakan bahwa para ulama madzhab Hanafi pada zaman beliau punya kebiasaan mengangkat tangan saat berdoa setiap selesai shalat fardhu sehingga terkesan itu wajib. Seakan-akan mereka berpendapat hal itu wajib. Mereka mengingkari orang yang selepas salam dari shalat langsung membaca wirid sejenak lalu berdiri meninggalkan tempat shalat tanpa melakukan apa yang mereka lakukan: tidak berdoa dan tidak mengangkat tangan. Perbuatan mereka ini bertentangan dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan pendapat para ulama madzhab Hanafi yang diakui sebagai rujukan.”

Syaikh Muhammad bin Ahmad Miyarah al-Maliki—salah seorang ulama madzhab Maliki—menyatakan bahwa Imam Malik dan para ulama madzhab Maliki memakruhkan bagi imam-imam masjid dan imam-imam shalat jamaah berdoa secara jahr seusai shalat agar didengar oleh khalayak yang hadir.” (Ad-Durruts Tsamin wal Mawrid al-Ma’in, hal 173 dan 212)

Dalam Kitab al-Umm 1/111 dijelaskan bahwa Imam Syafi’i lebih memilih dzikir lirih bagi imam dan makmum seusai shalat. Kecuali ia adalah imam yang jamaah senang belajar darinya.

Di dalam Kitab al-Majmu’ 3/465-469 menulis, “ Imam Syafi’i dan para ulama madzhab Syafi’i sepakat bahwa disunnahkan berdzikir selepas salam. Sunnah bagi imam, makmum, yang shalat sendirian, laki-laki, perempuan, musafir dan lainnya. Adapun kebiasaan orang-orang atau kebanyakan mereka yang mengkhususkan bakda shalat Shubuh dan ‘Ashar sebagai waktu bagi imam untuk berdoa (lalu mereka mengamini), hal ini tidak ada asalnya.”

Dalam at-Tahqiq halaman 219, Imam an-Nawawi menulis, “ Disunnahkan berdzikir dan berdoa selepas setiap shalat (fardhu). Doa yang dibaca lirih. Apabila imam ingin mengajarkan dzikir kepada jamaah, boleh dia menjaharkannya. Jika mereka telah belajar, kembalilah ia melirihkannya.”

Ibnu Muflih al-Hambali menulis, “ Muhanna berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdullah (Imam Ahmad) tentang orang yang duduk di tengah-tengah kerumunan lantas ia berdoa dan ada orang lain yang berdoa sehingga orang-orang berkata, ‘Kamu saja yang berdoa!’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak tahu tentang hal itu. ’ Yakni beliau mengingkarinya.

Yahya bin Ma’in pernah ditanya tentang orang-orang yang berkumpul untuk membaca Al-Quran dan berdzikir kepada Allah. Yahya menjawab, “ Hendaklah ia membaca mushhaf, berdoa bakda shalat, dan berdzikir kepada Allah sendiri-sendiri.”

Di dalam kitab al-I’tisham, Imam asy-Syathibi menyebut tentang bid’ah idhafiyah –bid’ah yang memiliki dua sisi. Satu sisi, dia memiliki dalil. Dilihat dari sini, dia tidak termasuk bid’ah. Sisi yang lain, dia tidak memiliki dalil kecuali seperti apa yang dialami bid’ah haqiqiyah (tidak ada dalilnya). Dengan kata lain, dipandang dari satu segi, dia tergolong Sunnah karena bersandar kepada suatu dalil. Dan dipandang dari segi yang lain, dia tergolong bid’ah, karena dia bersandar kepada syubhat, bukan kepada dalil atau tidak bersandar kepada sesuatu apapun. Asy-Syathibi menyebut di antaranya menjaharkan dzikir dan berkumpul untuk berdzikir seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang Shufi pada zaman ini.

Kesimpulan

Demikianlah, ada perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah dzikir secara jahar dan berjamaah untuk selain tujuan taklim. Dalam pada ini, semestinya kita memilih secara bijak. Yakni memilih pendapat yang tidak akan menimbulkan fitnah saat kita melaksanakannya di daerah kita masing-masing. Wallahu a’lam bish shawab.

Dikutip dari Majalah An-Najah edisi 135 Rubrik Konsultasi Islam hal 56

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *