Dzulhijjah, Tamu Kita Setelah Ramadhan

10 hari di bulan Dzulhijjah
An-Najah.net – Dzulhijjah bulan yang dicinta Allah Ta’ala. Saudaraku, tak terasa bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan, telah ‎meninggalkan kita beberapa saat yang lalu. Dengan berpisahnya kita dengan bulan ‎Ramadhan, kita berharap semoga amal-amal kita di terima di sisi-Nya, begitu pula ‎pada bulan-bulan lainnya selain bulan Ramadhan.‎
Terntunya kita selaku orang beriman yang mengharapkan pahala dari Allah ‎Ta’ala tidak ingin kehilangan begitu saja sesuatu yang nilainya sangat utama dan mulia ‎di sisi Allah Ta’ala bukan ? ‎

Ketahuilah saudaraku, kita tidak boleh berkecil hati dengan berlalunya bulan ‎mulia tersebut. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang taat, kita tidak henti-hentinya ‎berupaya untuk tetap beriman akan ketentuan Allah Ta’ala. Kita harus selalu berharap ‎akan kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala yang dilimpahkan atas kita.‎

Ternyata, Allah Ta’ala melalui utusan-Nya Rasulullah Saw, telah menjanjikan ‎bulan lain yang tidak kalah utamanya dibanding dengan keutamaan bulan Ramadhan. ‎Mengapa demikian?‎
Tidak lain, karena Rasulullah Saw telah bersabda :‎
عَن النَّبيِ صَلَي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّم قاَلَ: شَهْرَا عِيْدٍ لاَ يَنْقُصَان، رَمَضَانَ وَذُوالْحِجَّة
Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan ‎Dzulhijjah.” (Hr. Muslim 1089)‎
Tidak hanya itu, Rasulullah teladan kita memberi kabar gembira dengan keutamaan ‎bulan Dzulhijjah. Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda:‎
مَا مِنْ أَيَّامَ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ إِلَى الله َعَزَّ وَجَلَّ مِنْ هذِهِ اْلأَياَّمَ الْعَشْر، قَالُوا:ياَ رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ جِهَادُ فِي ‏سَبِيْلِ اللهِ؟ قاَلَ: وَلاَ جِهَادُ فِي سَبِيْلِ الله، إِلاَّ رَجُوْلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَيْئ مِنْ ذَلِكَ ‏
Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah Ta’ala daripada ‎hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (dari bulan Dzulhijjah). Mereka bertanya: “Tidak ‎juga jihad fi sabilillah, kecuali yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, ‎kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” (Hr. Ahmad: 6505, at-Turmudzi: ‎‎757)‎
Dikarenakan adanya keutamaan yang besar dari beberapa hari diantara bulan ‎Dzulhijjah tersebut, maka sangat utama pula kita mengisinya dengan berbagai amal ‎shalih sebagai kelanjutan tabungan pahala amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang ‎lalu.‎
Diantara amal-amal yang perlu kita lakukan, cukuplah sekiranya hal itu ‎membuat kita dicintai Allah Ta’ala, antara lain adalah :‎

‎1.‎ Memperbanyak Dzikir

Bukankan Rabb kita Allah Ta’ala telah berfirman:‎
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
‎“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan.” ‎‎(Al Hajj 28).‎
Ibnu Katsir dalam menafsrikan kata ‘‎أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ‎’ menukil perkataan Ibnu Abbas ‎yang menafsirkannya dengan 10 hari di bulan Dzulhijjah. (Ibnu Katsir, Tafsir ‎Qur’anul ‘Adzim, cet III, jilid 5, hal. 415 ). Begitu pula menurut imam Qotadah yang ‎menafsirkan dengan 10 hari di bulan Dzulhijjah.‎
Namun berbeda dengan imam adh-Dhahak yang dinukil oleh Imam ath-‎Thabari dalam tafsirnya yang manafsirkan kalimat ‘‎أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ‎’ dengan hari Tasyriq. ‎‎(Imam ath-Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Al-Qur’an, cet I, jilid 18, hal. 610)‎

Walaupun para ulama berbeda pendapat mengenai maksud kalimat di atas. ‎Tidak ada masalah karena itu adalah pendapat. Yang pada intinya adalah ‎memperbanyak berdzikir pada waktu-waktu tersebut. Rasulullah Saw bersabda :‎

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ ‏وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidaklah ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih yang lebih ‎dicintai Allah ta’ala daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka perbanyaklah ‎ucapan tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad no. 6154)‎

‎2.‎ Berpuasa, Khususnya Pada Hari Arafah

Bukankah telah dituntunkan oleh teladan kita yang mulia, Rasullah Saw agar ‎kita berpuasa pada hari Arafah, karena Allah Ta’ala melalui beliau Saw telah ‎menjanjikan:‎
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
Berpuasa pada hari Arafah (karena mengharap pahala dari Allah) melebur dosa-dosa ‎selama dua tahun, tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya.”‎‏ ‏‎ (Hr. Muslim: 1162)‎

‎3.‎ Banyak Bertaubat Dan Menjauhi Maksiat

Perlu diketahui wahai saudaraku, Allah Ta’ala adalah Dzat yang gembira atas ‎taubat seorang hamba-Nya, melebihi dari sesuatu apapun, sebagaimana sabda ‎Rasulullah Saw :‎
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ ‏وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ ‏فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat ‎pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas ‎kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan ‎yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada ‎perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia ‎mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan ‎hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, ‎kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat ‎gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah ‎Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim: ‎‎2747).‎
‎ Demikian pula Allah Ta’ala sangat cemburu manakala hamba-Nya berbuat ‎maksiat. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda :‎
إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ المُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. ‎Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan ‎sesuatu yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari: 5223 dan Muslim: 2761)‎

‎4.‎ Mengisi dan memperbanyak amalan sunnah setelah apa-apa yang diwajibkan
Pada akhirnya saudaraku, cobalah kita simak janji Allah Ta’ala yang disabdakan ‎melalui Rasul-Nya Rasulullah Saw:‎
اِنَّ اللهَ تَعَالَ قَالَ:مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ ‏عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إَلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحَبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الّذِي ‏يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلْنِي َلأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي َلأُعِيْذَنَّهُ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang memusuhi waliku ‎‎(orang yang Allah cintai) maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang ‎terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku ‎dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan/fardhukan ‎atasnya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-‎amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, jadilah ‎Aku sebagai pendengaran-Nya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai ‎penglihatan-Nya yang ia gunakan untuk melihat dan sebagai tangan-Nya yang ia ‎gunakan untuk bekerja keras, dan sebagai kaki-Nya yang ia gunakan untuk berjalan. ‎Dan jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku memberinya dan jika ia meminta ‎perlindungan kepada-Ku, pasti Aku melindunginya.” (HR Bukhari: 6502)‎
Itulah beberapa janji Allah dan Rasul-Nya Rasulullah Saw kepada kita. ‎Apakah kita masih meragukan janji-Nya dan janji Rasul-Nya. Karena itu, wahai ‎saudaraku, marilah kita isi hari-hari di bulan Dzulhijjah dengan amalan ibadah yang ‎membuat diri kita dicintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Wallahu Ta’ala A’lam.‎
Penulis: Ibnu Jihad
Editor  : Ibnu Alatas