Fikih Tamkin Jalan Nabi Meneladani Islam

Fikih Tamkin Edisi 160
Fikih Tamkin Edisi 160

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang maha pengasih tak pilih kasih. Lagi maha penyayang dimana nikmatnya tak terbilang. Shalawat dan shalawat kita haturkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sang tauladan dalam menegakkan Islam. Barangsiapa yang mengikutinya akan mendapatkan kemuliaan. Sebaliknya Barangsiapa yang menyimpang dari manhajnya kesengsaraan akan meliputinya.

Pembaca An-najah Yang dimuliakan Allah Ta’ala

Kemenangan Islam pasti datang. Itulah adalah janji dan kabar gembira dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala tidak akan pernah mengingkari janji-janjinya. Kemudian Rasulullah Saw, tidak akan berdusta dalam ucapannya.

Melihat realita umat zaman sekarang memang cukup memprihatinkan. Khabar derita Palestina belum usai, datang berita yang lainnya. Derita Muslim Afghanistan, Suriah, Yaman, Rohingnya dan terbaru kaum muslimin di Xinjiang Cina.

Namun fajar kemenangan Islam mulai datang. Sinar matahari akan tetap bersinar. Meskipun upaya menghadang dilakukan musuh-musuh Islam senantiasa dilakukan. Akan tetapi, Allah Ta’ala senantiasa menyempurnakan cahayanya dan akan memberikan tamkin kepada umat islam.

Oleh karena itu, pada edisi 160 kali ini. Kami mengangkat tema Fikih Tamkin ‘Meneladani Nabi, Memenangkan Islam”. Dengan membaca majalah ini pembaca akan mendapatkan gambaran seperti apa bentuk-bentuk tamkin (kemenangan) yang diberikan kepada para nabi. Bagaimana cara mengusahakan untuk memperoleh tamkin pada zaman ini. Kemudian apa tujuan dari tamkin dalam iqamatuddin ini.

Pembaca An-Najah yang berbahagia

Zaman ini kita berada diakhir zaman. Di zaman banyak fitnah yang datang menghantam kepada umat Islam. Sebagai bentuk tadzkirah dalam rubrik khutbah jum’at kami mengangkat tema “Menjual Agama, Demi dunia”. Fenomena ini bukan untuk diikuti akan tetapi untuk diwaspadai.

Akhirnya, kami berharap semoga dengan sajian majalah ini. Bisa memberikan kabar gembira, membuat kita lebih bersemangat dan senantiasa optimis bahwa masa depan adalah milik Islam. Kemudian kita mengetahui barometer kemenangan itu sebagai diraih oleh para nabi. Semoga pula kita senantiasa diberikan keistiqamahan dalam mengemban amanah iqamatuddin di muka bumi ini. Aamiin…!