Menyelamatkan Generasi Bangsa dari Kehancuran

An-Najah edisi 165
An-Najah edisi 165

Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah. Kepada-Nya kita memuji, meminta ampun dan mengiba pertolongan. Kepada-Nya pula kita berlindung dari segala macam perbuatan buruk kita dan dampak segala maksiat kita.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi agung Muhammad SAW. Juga kepada ahlu baitnya, para sahabat dan pengikut-pengikut sunnahnya hingga hari pembalasan. Amma ba’du;

Pembaca rahimakumullah.

Kita hidup di zaman yang aneh. Suatu masa yang orang berani melakukan maksiat secara terang-terangan. Tidak ada rasa malu lagi. Bahkan maksiat yang dulu orang-orang jijik, sekarang dikatakan lumrah. Dianggap bukan hal yang tabu lagi.

Anehnya lagi, saat diingatkan dengan cara yang baik mereka justru berontak. “Ah, itu bukan urusan anda. Ini urusan kami,” mereka.

Baca juga: Pemimpin Islam Vs Diktator Jahiliyah

Sebagian lain membantah, “anda saja belum baik. Lebih baik anda perbaiki diri dulu baru mengingatkan kami.” Atau, “untuk menjadi baik tidak harus pakai agama. Kami baik dengan cara kami sendiri.”

Naudzu billah, sungguh benar peringatan Rasulullah SAW bahwa akan tiba suatu masa. Dimana zaman setelahnya akan semakin buruk.

Waallahu a’lam apakah kita sudah di zaman tersebut. Namun satu hal yang  pasti, ungkapan-ungkapan para pembela maksiat itu tak usah dimasukkan hati. Jangan sampai menyurutkan kita dari amar makruh nahi mungkar. Karena manfaat sebenarnya amar makruh nahi mungkar itu kepada diri sendiri bukan kepada orang lain.

Fenomena para pendukung maksiat ini membuat kita mengelus dada. Ini juga melatarbelakangi kami mengulas tema tentang nahi mungkar. Satu kewajiban yang hari ini banya dilalaikan.

Baca juga: Lelah Berpisah Rindu Bersatu

Semoga dengan beramar makruh nahi mungkar mungkar, terutama di lingkungan yang paling dekat perubahan yang baik akan segera terwujud. Semoga.

Walakhir, selamat membaca dan semoga bermanfaat.