Edisi Khusus: Syi'ah dan Sunni, Teman Sejati atau Musuh Abadi

1005796_178197222359182_747692906_n

Penyimpangan dan kesesatan Syi’ah sangat lengkap. Hampir semua kesesatan yang ada pada agama-agama selain Islam ada pada Syi’ah, misalnya Yahudi, Kristen, Majusi ataupun Hindu-Budha. Namun yang paling mempengaruhi ajaran Syi’ah adalah Yahudi dan Majusi.

Hal ini tidak terlepas dari masa lalu Syi’ah yang tidak lebih dari hasil kolaborasi Yahudi (Abdullah bin Saba’) dan Majusi Persia. Untuk menyingkap hakekat kesesatan Syi’ah membutuhkan ratusan hingga ribuan lembar buku. Tulisan ulama salaf maupun kontemporer membuktikan hal itu. Misalnya, Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam, ditulis untuk membantah Rafidhah sebanyak sembilan jilid. Syaikh DR. Ali Muhammad As-Salus, menulis Ma’al Itsna ‘Asyariyah, sebanyak empat jilid.

Berikut pokok-pokok penyimpangan Syi’ah secara umum:

Rukun Iman: Syi’ah hanya memiliki rukun Iman, yaitu: Tauhid (Keesaan Allah swt), al-‘Adl (Keadilan Allah swt), Nubuwwah (Kenabian), Imamah (Kepemimpinan Imam), dan Ma’ad (Hari kebangkitan dan pembalasan). Rukun iman ini disebutkan dalam buku-buku Syi’ah, (lih. Muhammad Ridho Mudzaffar, Al-Aqa’id Al-Imamiyah)

Rukun iman Syi’ah jelas berbeda dengan rukun iman dalam ajaran Islam. Syi’ah tidak menyertakan: Iman kepada Malaikat Allah swt, Para Rasul, Qadha dan Qadar.

Rukun Islam: Al-Kulaini meriwayatkan rukun Islam menurut Syi’ah ada lima yaitu: Shalat, zakat, puasa, haji, dan wilayah (loyalitas kepada imam), (al-Kafi, 2/18). Saat ditanya, manakah rukun iman yang paling utama, Abu Ja’far, salah satu ahlu bait yang diklaim sebagai imam Syi’ah menjawab, “Wilayah lebih utama, karena ia adalah kunci semuanya, dan wali (pemimpin) adalah bukti atas itu.” (Muhammad Shadiq Shadr, asy-Syi’ah al-Imamiyah, hlm. 131)

Syi’ah tidak mencantumkan syahadatain dalam rukun iman. Ini merupakan kauh dari akidah Islam. Pada pemahaman dan praktek rukun iman serta rukun Islam, sangat berbeda jauh dengan apa yang dipahami oleh Rasulullah saw maupun umat Islam.

Al-Qur’an; Syi’ah meyakini tiga hal terkati al-Qur’an: (1) Al-Qur’an telah mengalami perubahan, ditambah atau dikurangi, sehingga al-Qur’an tidak bisa dijadikan dalil. (2)Membatasi ilmu al-Qur’an hanya dari imam-imam Syi’ah, maka cara memahami al-Qur’an pun harus sesuai ketentuan para tokoh yang diklaim seabagai imam Syi’ah. (3) Mereka mengklaim, perkataan imam mereka, bisa mengkhususkan sesuatu yang umum dalam al-Qur’an, bahkan sabda imam Syi’ah diyakini lebih layak suci dari al-Qur’an, (al-Quffary, Ushul Madzhab Syi’ah al-Imamiyah, 1/127).

Hadits: Mereka menolak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat Rasulullah saw, kecuali melalui jalur ahlu bait. Mereka memposisikanperkataan para imamnya sejajar dengan firman Allah swt dan sabda Rasulullah saw, (Ushul Madzhab Syi’ah al-Imamiyah, 1/308).

Menurut orang Syi’ah hadits adalah segala sesuatu yang datang dari al-ma’shum (imam-imam mereka), baik berupa perkataan, perbuatan dan atau ketetapan, (al-Ushul al-‘Aamah lil fiqh al-Muqorin, hlm. 132).

Bagi Syi’ah, apa yang dinukil dari imam mereka itulah hadits, tanpa mensyaratkan sanadnya sambung hingga Rasulullah saw. Jelas ini berbeda dengan konsep hadits dalam Islam.

Ada dua landasan Syi’ah menetapkan hadits di atas, yaitu:

(1)  Sumber ilmu para imam mereka langsung dari Allah swt, dengan cara ilham dan wahyu. Jadi, menurut Syi’ah, selain para nabi ada manusia lain yang bisa mendapatkan wahyu dari Allah swt, yaitu para imam Syi’ah. Dalam kitab Ushul Kafi, terdapat Bab, “Bahwa Para Malaikat Mendatangi Rumah Para Imam (Syi’ah), dan Memberi Akhbar Kepada Para Imam Tersebut.”

(2)  Satu-satunya sumber ilmu yang terpercaya dalam ajaran Syi’ah adalah para imam. Mereka adalah pemilik hak veto penetapan syari’ah. Karena, menurut Syi’ah, Imam-imam mereka mengetahui semua ilmu yang ada di seluruh nabi dan para malaikat. Sehingga ilmu para imam mereka lebih tinggi dari para Nabi Allah, (Ushul, hlm. 1/324-327)

Inilah merupakan sebuah kebathilan yang dikarang-karang tokoh-tokoh zindiq untuk menghancurkan Islam. Jika keyakinan ini diakui oleh seseorang, secara tidak sadar ia akan meragukan Islam dan Rasulullah sa. Ia tidak akan membutuhkan Islam lagi.

Ijma’: Jika umat Islam meyakini ijma’ sebagai salah satu sumber hukum. Maka Syi’ah meyakini sebaliknya, ijma’ tidak bisa dijadikan sumber hukum. Namun, perkataan imam-imam Syi’ah lebih tinggi nilainya dari pada ijma’.  Kalaupun ada ijma’ yang mereka sepakati, maka ijma’ tersebut harus ada rekomendasi dari imam-imam mereka, (Ushul, 1/403-404).

Sahabat Rasulullah SAW: Syi’ah meyakini bahwa sepeninggalan Rasulullah saw, semua sahabatnya murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti; al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary, dan Salman al-Farisi RA., (Arraudhah minal Kafi, 8/245).

Arwah: Syi’ah meyakini bahwa arwah orang yang telah meninggal akan kembali ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum kiamat, yaitu tatkala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyian dan menghidupkan Ali beserta anak cucunya untuk balas dendam terhadap lawan-lawannya.

 

Tauhidullah: Mereka meyakini bahwa Allah swt memiliki sifat Bada’. Yaitu bahwa Allah baru mengetahui sesuatu setelah terjadi. Dan sebelumnya tidak tahu. Jadi bisa saja Allah khilaf. Di sisi lain, mereka meyakini imam-imamnya mengetahui semua perkara ghaib, tidak ada yang samar bagi imam mereka. , (Abdullah as-Salafi, Inilah Kesesatan Akidah Syi’ah, hlm. 12-13).

Tauhid dalam definisi Syi’ah adalah mengakui keimamahan Ali RA dan  syirik adalah menduakan Ali dalam masalah kepemimpinan, (Usuhul, 2/433). Menurut Syi’ah, syarat sah amal-ibadah adalah mengakui keimamahan dalam konsep Syi’ah, jika tidak mengakui, berarti ia kafir. Sehingga amalnya tertolak, pasti masuk neraka.” (Ushul Kafi, 1/437).

Jika umat Islam meminta keselamatan dan segala kebutuhan kepada Allah saja, tetapi Syi’ah berkeyakinan; Boleh, bahkan harus, meminta itu semua kepada para imam, karena itu menziarahi kuburan Husein di Karbala pada hari Arofah merupakan amal yang tertinggi, karena Karbala –menurut Syi’ah- lebih utama dari Ka’bah, (Biharul Anwar, 49/101).

Bila umat Islam meyakini bahwa pengatur alam semesta ini adalah Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tetapi Syi’ah berkeyakinan, tuhan yang mengatur langit dan bumi menurut Syi’ah adalah para imamnya, demikian juga dunia dan akherat adalah milik imam, bukan Allah swt, (Ushul Kafi, 1/407-410). Bahkan, mereka mengatakan, Fathimah putri nabi Muhammad SAW adalah Allah yang berwujud manusia perempuan, (al-Washilah ilallah, hlm. 7).

v Imamah: Keimaman merupakan inti dari segala keyakinan Syi’ah. Menolak imam versi Syi’ah adalah kekafiran. Menurut Syi’ah hak memimpin hanya Ali dan beserta keturunannya. Amal seorang manusia tidak akan diterima kecuali setelah ia mengakui kepemimpinan Ali RA. Kedudukan imam adalah pada posisi ketuhanan yang serupa dengan posisi kenabian, bagi Syi’ah  adalah makhluk yang ma’shum, yaitu tidak pernah melakukan kesalahan, kekhilafan, dosa besar maupun kecil, baik disengaja, tidak sengaja, lupa atau tidak sebab lainnya. Imam Syi’ah memiliki berhak menentukan orang yang masuk surga maupun neraka.(Ushul, 2/437, 656, 775)

Dari beberapa poin pokok-pokok penyimpangan Syi’ah di atas, jelas sudah bahwa Syi’ah memang berbeda dengan Islam. Yang tersisa dari keislaman Syi’ah hanyalah klaim saja. Tidak lebih.* (Akrom Syahid)