Editorial : Aksi Brutal Densus 88 Ciptakan Militansi Ummat

LOGO PENA
Editorial

An-Najah.Net – Densus 88 kembali menunjukkan aksi brutalnya terhadap seorang Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz di Makasar, Ust. Basri. Ditrabak kendaraannya bersama anaknya yang lagi berumur 3 tahun hingga roboh.

Disaat roboh, langsung seketika turun pasukan lengkap dengan perlengkapan perangnya dari mobil yang satunya menghampiri Basri, Pengasuh Pondok Pesantren tersebut memposisikan tengkurep dan menginjak Punggung serta memborgolnya, lalu di seret paksa masuk ke Mobil. Sedang anaknya berumur 3 tahun bersama motor kendaraanya ditinggal begitu aja.

Ummat dan warga setempat yang mengetahui hal tersebut, merasa terpanggil undtuk membatunya, namun adanya ancaman moncong laras panjang warga mengurungkan diri. Baru setelah Densusu 88 pergi meninggalkan lokasi warga masyarakat memberikan pertolongan terhadap anaknya dan kendaraan motornya.

Sebenarnya fragmen yang di pertontonkan Densus 88 bukanlah hal yang baru, dan bahkan sering kita lihat dan baca. Sehingga kini dari berbagai media mainstream jenuh untuk mengulas panjang lebar, karena monoton tanpa ada perubahan aksi yang lebih beradab. Sehingga stigma brutal dan kejam itu merupakan aksi Densus 88. Bukanlah Densus 88 kalau tidak brutal dan kejam.

Stigma brutal dan kejam dilakukan dengan alasan atas nama undang-undang dan peraturan protap (prosedur tetap). Memang sungguh aneh, menangkap seorang terduga teroris itu dilakukan dengan berbagai cara baik tembak ditempat, pukulan popor bedil dan menabarknya. Padahal belum tentu mereka yang ditangkap dengan perlakuan tersebut benar-benar orang jahat, bahkan dilakukan di depan anak, istri dan warga masyarakat.

Fragmen dari seri ke seri selanjutnya, yang di perankan Densus 88 dengan berbagai cerita dari penagkapan secara brutal dan jahat, pemeriksaan intrograsi dengan siksaan bogem, penistaan moral dan berbagai seri penodaan, penganiayaan serta perampasan HAM, yang dimaksudkan untuk membuat rasa takut dan phobi terhadap aktivitas Islam ini justru akan mengundang pembalasan generasi penerusnya secara militan.

Generasi penerus yang selalu di pertontonkan fragmen aksi Densus 88 ini mau tidak mau akan terpanggil untuk melakukan pembalasan, disaat kesabaran yang seharusnya dikedepankan dengan memberikan maaf itu sudah tidak bisa ditoleran lagi. Panggilan Ilahi sebagai pelaksanaan ibadah dalam melakukan aksi pembalasan akan tumbuh berkembang. Sehingga membuat Pemerintah tercengan dengan adanya gerakan Teroris yang tidak makin berkurang malah bertambah subur. Salah siapa ?

Aktivis Islam yang di dtuduh sebagai gerakan Teroris-Teroris itu  terpanggil oleh firman-fimran Tuhan diantaranya, Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 194 menyebutkan :

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
“Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu”
surat An-Nahl ayat 126 :

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرينَ
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

Dalam Tafsir Al-Qurthubi dijelaskan sebagai berikut :

فمن ظلمك فخذ حقك منه بقدر مظلمتك ومن شتمك فرد عليه مثل قوله ومن اخذ عرضك فخذ عرضه ولا تتعدى إلى أبويه ولا إلى ابنه أو قريبه
“Barang siapa yang menzalimimu maka ambillah hakmu yang dizalimi tersebut, barang siapa yang mencacimu, maka cacilah ia sesuai dengan cacian yang setimpal, barang siapa yang mempermalukanmu maka permalukan dia, dan janganlah kamu melebihi itu seperti mempermalukan kedua orang tuanya, anaknya atau kerabatnya yang lain”. (Tafsir Qurthibi Jld. 2 hal 360 terbitan Daar Al-Shaab Kairo th. 1372 H).

Sebagaimana di ungkapkan PP Muhammadiyah Majlis Pustaka dan Publik Musthofa Nahrawardaya, bahwa aksi brutal dan jahat Densus 88 dengan menangkap para aktivis dan ulama pesantren sebagai pemberantasan terorisme itu hanya omong kosong, malah dengan demikian akan menciptakan generasi penerus yang militan, sehingga membuat rasa takut dan tidak aman bagi polisi khusunya Densus 88 umumnya para pelaku pendholiman terhadap ummat islam tersebut.

Kejadian-kejadian yang menimpa para artis pelaku fragmen penanganan terduga teoris dengan brutal dan kejahatan itu sudah kita lihat dan dengar, diantarnya kematian yang mengenaskan, trauma dan pikun, ada rasa takut yang berkepanjangan dan lain sebagainya. Itu bukan terjadi karena sendirinya, akan tetapi berkat kesabaran dan do’a para penonton fragmen aksi brutal dan kejam Densus 88 yang di kabulkan Allahu Rabbul’alamiin. (*)