Editorial : MENJAWAB TEORI TERORIS DI INDONESIA

LOGO PENA An-Najah.Net- Suasana istirahat karyawan Mall Alam Sutra di siang hari yang panas dan gerah ini menikmati makan dan minum di kantin Mall. Suasana kenikmatan istirahat makan siang itu tiba-tiba di kagetkan dengan ledakan sebuah Bom di Toilet Mall Alam Sutra yang tidak jauh dari kantin para karyawan Mall menikmati istirahatnya. Spontan, para karyawan dan pengunjung Mall berhamburan menjauh dari Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Masyarakat yang mengetahui akan ledaklan Bom tanpa berfikir panjang langsung menunduh pelaku tindakan pengeboman tersebut adalah Teroris. Itulah masyarakat, fram pemikirannya telah terpatri, disetiap kejadian ledakan Bom langsung mengarah pada Teroris. Kenapa demikian ? karena semua media dan pejabat wewenang Negara, Yakni Kepolisian, BNPT dan Densus 88 secara bernafsu mengopinikan setiap kejadian ledakan digiring pada issu terorisme. Bahkan, Ledakan Mall Alam Sutra pun di buat narasi keterkaitan pelaku peledakan dengan jaringan terorisme tertentu di Indonesia.
Namun, bingkai opini yang telah dinarasikan sebagai jaringan terorisme Bom Alam Sutra ini menjadi kelu dan malu. Setelah aparat dengan cepat menangkap pelakunya dan hasil penyididkannya yang di buka secara publik. Realitas baru berbicara, lain dengan opini fram yang selama ini di hembuskan kepada khalayak masyarakat pelaku peladakan itu mesti jaringan terorisme ideologis Islam. Kali ini, ternyata membantah hal tersebut, dimana pelaku Bom di Mall Alam Sutra adalah Leopard Wisnu Kumolo (29) alias Leo dari keturunan Tionghoa, beragama Katholik.
Isu Terorisme, stigma masyarakat dengan pandangan tendensius memberikan kesan toeri bahwa pelakuknya beragaman Islam, berjenggot, jidat hitam, celana cingkrang, keluarga bercadar dan memandang Barat Amaerika serikat musuh. Meski orang tersebut baru dituduh hendak mengebom, dengan alat bukti tuduhan adanya material bahan petasan bahkan kawat jemuran pun dijadidkan alat bukti. Bila seseorang tersebut memiliki cirri-ciri tersebut diatas secara otomatis langsung disandarkan kepada mereka jaringan terorisme. UU Terorisme tahun 2003 yang dijadidakan payung hukum Aparat Kepolisian, BNPT, Densus 88 dan Pejabat kewenangan lainnya langsung mengtrapkan jeratan hukuman sebagai terorisme. Sehingga Terorisme di maknai dengan radikalisme agama Islam. Kontruksi teori terorisme di Indonesia itu identik dengan Islam.
Hadirnya sosok Leopard dalam kasus Bom Mall Alam Sutra membuat titik balik yang bisa menjawab stigmasi masyarakat terhadap islam selama ini tentang issu terorisme yang selalu disandarkan terhadap Islam. Karean Leopard Wisnu Kumola keturunan etnis China Tionghoa, beragama Katholik pandai meracik bom pertama di Indonesia dengan daya ledak hight explosive jenis Triaceton Triperoxide (TATP). Tindakan meledakkan Bom di Toilet Mall Alam Sutra telah melahirkan teror rasa tidak aman bagi public masyarakat. Jika pihak-pihak yang selama ini berteriak-teriak terorisme dengan sikap konsistennya tentu Leopard ini adalah tindakan terorisme.
Inilah terorisme di Indonesia, sebuah image yang memiliki dimensi tendensi, stigma, kepentingan politis dan ideologisd disetiap kejadian. Kini tindakan terorisme sekedar spirit crusader non muslim tapi motif kepentingan perutpun bisa jadi, putus asmara tanpa control iman dan moral pun juga jadi seorang teroris. Itulah jawaban bagi Terorisme yang selama ini sebagai Jaringan Mujahidin yang komitmen terhadap agama tidaklah mesti menjadi terorisme yang dituduhkan oleh kaum barat dan Kuffar.