Empat Doa Ajaib

Empat doa ajaib
Empat doa ajaib

Imam Asy-Sya’bi, seorang tabiin yang berguru kepada lebih dari 500 sahabat pernah menceritakan kejadian unik.

Di antara kisah uniknya, pada sebuah majelis yang dihadiri para ulama di antaranya, Ibnu Umar putra khalifah Umar bin Khattab. Abdullah dan Mushab putra sahabat Zubair bin Awwam. Hadir pula Abdul Malik bin Marwan bin Hakam, satu dari empat ulama terbaik kota Madinah.

Saat itu Imam Asy-Sya’bi sedang berbicang dengan beberapa sahabat dan tabiin di depan pintu Ka’bah. Tiba-tiba muncul sebuah ide. “Sebelum kita pulang ke tempat masing-masing, ada baiknya jika satu-persatu berdiri di Rukun Yamani Ka’bah untuk berdoa kepada Allah Ta’ala

“Semoga Allah Ta’ala mengabulkan permintaan kita, karena itu tempat yang mustajab?” kata salah satu hadirin disambut anggunkan para hadirin.

Baca juga: Teladan Hebat dari Para Sahabat

“Ayo berdiri wahai Abdullah bin Zubair, kamukan anak pertama yang lahir setelah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah,” kata Ibnu Umar.

Abdullah bin Zubair lalu mendekat ke Tiang Yamani dan berdoa;

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَظِيمٌ ، تُرْجَى لِكُلِّ عَظِيمٍ ، أَسْأَلُكَ بِحُرْمَةِ وَجْهِكَ ، وَحُرْمَةِ عَرْشِكَ ، وَحُرْمَةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَلا تُمِيتَنِي مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى تُوَلِّيَنِي الْحِجَازَ ، وَيُسَلَّمَ عَلَيَّ بِالْخِلافَةِ

“Ya Allah. Dzat yang maha besar. Tempat permintaan segala hal-hal besar. Aku berdoa atas kesucian wajah-Mu dan kesucian arsy-Mu, dan kesucian Rasul-Mu;

Jangan cabut nyawaku kecuali setelah aku menjadi penguasa wilayah Hijaz dan aku dipanggil dengan gelar khalifah.”

Mereka yang hadir mengucapkan amin.

Setelah itu Mushab bin Zubair dipersilahkan maju menyampaikan harapan dan doanya.

اللَّهُمَّ إِنَّكَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ، وَإِلَيْكَ مَصِيرُ كُلِّ شَيْءٍ ، أَسْأَلُكَ بِقُدْرَتِكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ، أَلَّا تُمِيتَنِي مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى تُوَلِّيَنِي الْعِرَاقَ ، وَتُزَوِّجْنِي سُكَيْنَةَ بِنْتَ الْحُسَيْنِ”

Ya Allah, tuhan segala mahluk, kepada-Mu lah semua mahluk kembali. Aku memohon kepada-Mu karena engkau yang memiliki kekuasaan atas segala Makhluk.

Jangan cabut nyawaku kecuali setelah aku menjadi penguasa Irak dan menikahi Sukainah binti Husain bin Ali.”

Para sahabat mengucapkan amin.

Berikutnya giliran Abdul Malik bin Marwan untuk berdoa.

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ ، وَرَبَّ الأَرَضِينَ ذَاتِ النَّبْتِ بَعْدَ الْقَفْرِ ، أَسْأَلُكَ بِمَا سَأَلَكَ عِبَادُكَ الْمُطِيعُونَ لأَمْرِكَ ، وَأَسْأَلُكَ بِحُرْمَةِ وَجْهِكَ ، وَأَسْأَلُكَ بِحَقِّكَ عَلَى جَمِيعِ خَلْقِكَ ، وَبِحَقِّ الطَّائِفِينَ حَوْلَ بَيْتِكَ ، أَلَّا تُمِيتَنِي مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى تُوَلِّيَنِي شَرْقَ الدُّنْيَا وَغَرْبَهَا ، وَلا يُنَازِعَنِي أَحَدٌ إِلا أَتَيْتُ بِرَأْسِهِ

“Ya Allah Rabb langit berlapis tujuh. Rabb bumi yang hijau setelah tandus. Aku memohon kepadamu segala hal yang diminta oleh hamba-hambamu yang shalih.

Dan aku memohon atas kesucian wajah-Mu, atas hak-Mu di atas seluruh mahluk, atas thawafnya kaum muslimin di ka’bah-Mu. Jangan cabut nyawaku kecuali setelah aku menjadi penguasa bumi belahan timur hingga barat. Dan tidak satupun orang yang melawanku kecuali dia akan dikalahkan.”

Doa ini diaminkan para sahabatnya.

Terakhir, Abdullah bin Umar dipersilahkan maju dan berdoa. Sahabat dikenal zuhud ini meminta kepada Allah;

” اللَّهُمَّ إِنَّكَ رَحْمَنٌ رَحِيمٌ ، أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي سَبَقَتْ غَضَبَكَ ، وَأَسْأَلُكَ بِقُدْرَتِكَ عَلَى جَمِيعِ خَلْقِكَ ، أَلَّا تُمِيتَنِي مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى تُوجِبَ لِي الْجَنَّةَ

“Ya Allah, Dzat yang maha pengasih dan penyayang. Aku berdoa karena rahmat-Mu mendahului murka-Mu. Dan atas kekusaan-Mu di atas seluruh mahluk-Mu.

Jangan cabut nyawaku kecuali setelah aku layak untuk masuk jannah-Mu.”

Baca juga: Zuhud, Modal Perjuangan Ketabahan

Kemudian para tokoh tersebut pulang ke rumah masing-masing. Hari berganti hari, tahun berganti tahun.

Hingga akhirnya Imam Asy-Sya’bi menyadari betapa ajaibnya doa para sahabat dan anak sahabat yang pernah ia saksikan dulu. Satu-persatu harapan mereka menjadi nyata.

Pada tahun 64 Hijriyah Khalifah Yazid bin Muawiyah meninggal, Abdullah bin Zubair lalu mendeklarasikan diri sebagai khalifah di kota Makkah.

Seruan itu disambut oleh kaum muslimin di berbagai wilayah. Mulai dari Hijaz, Irak, Khurasan hingga sebagian besar wilayah Syam berbaiat kepadanya. Ia menjadi khalifah hingga tahun 73 H.

Sedangkan Mushab bin Zubair diangkat sebagai gubernur yang membawahi wilayah Madinah hingga Kufah.

Doa Abdul Malik bin Marwan untuk menjadi penguasa pilih tanding ternyata menjadi kenyataan. Ia diangkat sebagai khalifah saat Dinasti Bani Umayyah di ambang kehancuran. Tepat setelah meninggalnya khalifah Yazid bin Muawiyah.

Hanya tersisa kota Damaskus dan sebagian kecil wilayah Yordania yang masih tunduk. Wilayah yang lain melepaskan diri dan menyatakan perang melawan Bani Umayyah.

Banyak yang menduga Bani Umayyah akan runtuh. Tapi ajaibnya, Abdul Malik membalik prediksi itu. Ia mampu mengatasi semua pemberontakan.

Atas keberhasilan itu, para sejarawan menyebutnya sebagai muassis ats-tsani atau pendiri dinasti umawiyah kedua.

Adapun Abdullah bin Umar menjauhi dunia politik. Ia menghabiskan waktunya untuk beribadah dan berdakwah.

Ketika terjadi krisis politik ia memilih menghindar ke Makkah hingga wafat pada tahun 73 H. Hari pemakamannya menjadi hari berkabung kaum muslimin. Mereka kehilangan tokoh yang tidak ada tandingannya.

Nah, dari kisah ini kita dapat menyimpulkan beragam hikmah dan pelajaran. Antara lain;

– Dahsyatnya doa orang mukmin. Karena doa adalah senjata. Dan doa merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan harapan dan cita-cita.

Baca juga: Doa Perlindungan dari Fitnah Akhir Zaman

– Berkawanlah dengan orang-orang shalih. Mereka tidak hanya memengaruhi watak dan sifatmu. Hidup bersama mereka akan membawa keberkahan hidup.

– Jangan malu menunjukkan cita-cita dan harapan. Kawan yang baik akan mengaminkan dan memberi jalan. Bukan mengolok-olok dan menertawakan. Hal ini memang remeh, namun jarang kita temukan. Kita lebih sering menemukan orang yang menertawakan temannya. Bahkan cenderung membuatnya down.

Baca juga:Saya Indonesia Tapi Bagi Saya Islam di Atas Segalanya

– Gantunglah cita-cita setinggi langit. Allah Ta’ala menyukai hal-hal yang besar, bukan hal-hal remeh temeh yang tidak ada nilainya. Cita-cita merupakan cerminan kepribadian. Seorang yang bermental inlander tak memiliki impian yang tinggi. Padahal, inilah yang diinginkan musuh-musuh Islam.

– Kaum muslimin tidak akan menguasai dunia ini kembali jika mereka belum berani memiliki impian menjadi majikan para penjajah. Karena inilah mental para pemenang. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber : Ibnu

Editor    : Ibnu Alatas