Browse By

Empat Kaedah Membentuk Komunitas Super

An-Najah.net– Empat Kaedah Membentuk Komunitas Super. Dikisahkan, ketika tokoh Hindu India, Mahatma Gandhi selesai membaca sejarah nabi Muhammad SAW ia meneteskan air mata. Ia berucap, “Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung,” Kata Gandhi di Majalah Young India 1928, Volume X.

Empat Kaedah membentuk manusia super seperti mujahidin

Ilustrasi

Kekaguman yang sama ada pada Napoleon, panglima legendaris Perancis.  Ketika di Mesir, ia kagum dengan akhlak dan peradaban Mesir. Dia juga mengagumi Muhammad SAW yang berhasil mengubah bangsa Arab, dari bangsa kolot, percaya takhayul dan khurafat menjadi bangsa berperadaban tinggi. Sempat tersiar kabar, bahwa Napoleon terbesit masuk Islam.

Sebuah kejujuran dari orang yang tidak pernah mengucapkan kalimat syahadat. Memang demikianlah keagungan nabi Muhammad SAW, siapapun akan kagum atas keindahan akhlaknya.

Sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, kota itu sangat kacau. Sulit untuk mewujudkan keamanan lantaran dua kabilah paling besar di kota itu terus berperang. Dengan cara apa Rasulullah SAW mengubah Madinah dari daerah tertinggal secara budaya maupun ekonomi, menjadi pusat peradaban dunia, ilmu dan titik sentral perubahan?

Menurut Syaikh Abu Qotadah –hafidzahullah-, salah satu faktor keberhasilan Rasulullah SAW adalah karena keberhasilan meletakkan pilar-pilar Negara yang baik.

Hal ini dikisahkan oleh sahabat Abdullah bin Salam. Mantan rabi Yahudi yang sangat cerdas itu telah lama menanti kedatangan utusan Allah SWT yang terakhir. Hampir setiap hari ia memanjat pohon kurma sembari melihat ke arah Makkah. Dia tengah menanti kehadiran nabi akhir zaman yang disebut-sebut dalam taurat maupun injil.

Abdullah salam mengisahkan, “Ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah, orang-orang berkumpul di sekitar beliau. Rasulullah SAW telah tiba, teriak manusia kala itu. Saya pun segera bergabung dengan kerumunan manusia. Sehingga saya melihat langsung Rasulullah SAW. Ketika saya melihat wajah beliau untuk pertama kali, saya tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah pendusta.”

Abdullah melanjutkan, “Kalimat yang pertama kali diucapkan oleh beliau setibanya di Madinah, di saat manusia berkumpul di sekitarnya yaitu;

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوْا السَّلَامَ ، وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ.

“‘Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.”(HR. Tirmidzi)

Menurut Syaikh Abu Qotadah al-Filasthini –hafidzahullah, dengan keempat pondasi inilah Rasulullah SAW membentuk manusia-manusia pilihan, sehingga melahirkan Negara Islam yang kuat. Keempat perkara yang disampaikan oleh Rasulullah SAW di atas adalah perangkat ampuh membentuk masyarakat yang solid dan saling mencintai serta menghargai antar sesama.

Kaedah Pertama: Menyebarkan Salam

Komunitas yang kuat, baik jama’ah, organisasi, Negara, atau sejenisnya, dibangun atas dasar mahabbah antara sesama anggota atau rakyat. Cinta inilah sumber kekuatan dan kesolidan komunitas tersebut.

Menyebarkan salam kepada sesama muslim adalah awal komunikasi cerdas untuk membangun hubungan baik manusia. Ketika Anda disapa oleh seseorang dengan salam hangat, saya yakin ada rasa tenang, hormat, solidaritas, empati dan simpati yang muncul seketika dalam jiwa kita. Inilah kekuatan salam.

Di saat si A memiliki masalah dengan si B. Di sebuah jalan keduanya bertemu, lalu salah seorang dari mereka memulai salam, saya yakin keduanya akan bisa berkomunikasi dengan baik, apalagi salam tersebut disusul dengan jabatan hangat. Tentu masalahnya semakin gampang teuraikan. Inilah keajaiban salam.

Bukan sekedar sebagai alat komunikasi yang efektif, salam juga menjadi pupuk yang membuat cinta bersemai antara sesama muslim. Bahkan cinta dan kesetian itu bias datang dari non muslim karena sebuah sapaan yang indah. Bisa jadi, salam bisa menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah.

Rasulullah SAW menjelaskan salah satu keajaiban salam dalam sabdanya;

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan membuat kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam kepada sesama.” (HR. Muslim)

Salam yang membangkitkan rasa cinta dan simpati di sini, adalah salam yang diucapkan dengan tulus, sopan, santun dan disertai senyum cinta. Jika tidak demikian, salam hanya menjadi formalitas belaka, tidak memunculkan keterpautan hati.

Kaedah Kedua: Berbagi Makanan

Jika ada tetangga Anda datang mengetuk pintu rumah, lalu memberikan sayur-lauk lainnya. Tentu Anda merasakan kebahagian dan ketentraman, bukan karena sayurnya lezat atau karena Anda sedang kelaparan. Tetapi karena Anda merasa, tetangga Anda begitu peduli, perhatian dan baik. Setelah itu, Anda akan berazam untuk membalasnya dengan pemberian yang terbaik.

Jika Anda melakukan hal yang sama, apalagi yang Anda berikan adalah oleh-oleh dari luar kota. Yakinlah, tetangga Anda akan merasakan hal yang sama. Lama kelamaan, benih kasih sayang, cinta, empati, dan penghormatan itu akan muncul secara natural. Perasaan itu menjadi panggilan jiwa, bukan sebuah keterpaksaan.

Inilah rahasia masyarakat Madinah yang diprakarsai oleh nabi agung, Muhammad SAW. Mereka menjadikan berbagi makanan sebagai salah satu budaya mereka.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa perbuatan ini adalah salah satu ciri khas seorang mukmin yang baik. Adik ipar Rasulullah SAW, sahabat Abdullah bin Umar RA, pernah meriwayatkan;

“Suatu waktu, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Islam manakah yang baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu, engkau berbagi makanan, mengucapkan salam kepada siapa saja; baik yang kamu kenal atau yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Masyarakat yang membudayakan saling berbagi makanan, mereka lebih siap untuk saling membantu dalam perkara yang lebih besar dari itu. Sebab dengan budaya ini jiwa sosial mereka menjadi sangat tinggi.

Kaedah Ketiga: Menyambung Silaturahim

Silaturahim adalah sarana yang paling efektif membangun hubungan kuat antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Terutama antar keluarga atau karib kerabat. Silaturahim mampu mendekatkan antara manusia yang tak memiliki ikatan darah. Juga kian mempererat insan yang masih terikat tali persaudaraan.

Ketika jalinan keluarga menguat, dukung mendukung pun semakin kuat. Nah, jika jalinan itu dibangun atas dasar iman dan Islam, tentunya akan menjadi kekuatan tersendiri dalam dakwah maupun jihad. Sebab, sokongan dan dukungan moril dari keluarga, lebih menguatkan seseorang daripada motivasi dari orang lain.

Inilah yang disadari oleh Rasulullah SAW. Maka, beliau menjanjikan pahala yang besar bagi siapa saja dari umat ini yang bersedia membangun hubungan persaudaraan. Beliau SAW bersabda;

Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahim.” (HR Muslim)

Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahim.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahim menimbulkankecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian.” (HR Imam Tirmidzi)

Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturahim.” (HR Imam Muslim)

Begitu kuatnya sebuah komunitas atau jamaah yang dibangun atas tali kekeluargaan yang erat. Tentu sangat susah untuk digoncangkan. Apalagi diadu domba dengan isu murahan.

Kaedah Keempat: Shalat Malam

Shalat tahajud merupakan salah satu ibadah sunnah yang utama, dan merupakan media yang mustajab untuk menghantarkan doa-doa kita kepada Yang Maha Memberi. Harapan dan doa-doa tentang kehidupan yang barokah, obsesi menegakkan syariat Islam, mengalahkan para thaghut, tentang impian membangun keluarga yang sakinah dan permohonan akan hadirnya hidayah yang semoga terus mengalir bisa kita wujudkan shalat tahajud.

Dengan keyakinan yang teguh, kita merapalkan doa dan harapan itu kehadirat Allah, Dzat Yang Maha Pemurah dan Penuh Kasih Sayang.

Rasulullah SAW bersabda;

 يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Pada tiap malam Rabba kita SWT turun (ke langit dunia) , ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman: “Barang siapa yang berdo’a kepada-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” (HR Bukhari dan Muslim).

Jika nomor satu sampai tiga, adalah tentang bagaimana membangun hubungan dengan masyarakat, poin ke-4 Rasulullah SAW menjelaskan tentang jalan pintas membangun hubungan yang baik dengan Allah, rabb-nya masyarakat dan seluruh manusia.

Seakan-akan Rasulullah SAW mengajarkan kita; setelah kita berupaya meraih simpati, empati, berusaha menaklukkan hati dan pikiran umat, langkah selanjutnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, seraya berharap Dia berkenan memberi taufik, ridho, dan inayah-Nya kepada kita dalam usaha-usaha tersebut. Caranya dengan shalat tahajjud, menyendiri bersama Allah, di saat mata manusia lainnya terlelap dalam mimpi.* (Akrom Syahid)

*Dinukil dari Majalah An-Najah edisi 125 -Rubrik Oase Imani-

One thought on “Empat Kaedah Membentuk Komunitas Super”

  1. risma says:

    subhanallah, artikel yang sangat bermanfaat. syukron akhi. Ilmu terus bertambah dan akan menjadi amal jariyah bagi kita smua. transparan.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *