Empat Perkara Sumber Petaka

doa-selamat1
doa-selamat1

An-Najah.net – Dari sahabat Zaid bin Arqom RA mengatakan, “Maukah kalian aku ajarkan do’a yang sering Rasulullah SAW ucapkan?” Beliau berdo’a;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan dari do’a yang tidak pernah terkabulkan.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan an-Nasa’iy.)

Ilmu Tidak Bermanfaat

Mendapatkan ilmu tidaklah mudah. Membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki yang tidak ternilai. Dengannya, seseorang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan: perkara yang diridhoi oleh Allah SWT dan perkara yang dimurkai oleh Allah SWT.

Ilmu yang bermanfaat, memotivasi pemiliknya untuk lebih giat beramal. Tidak berhenti pada belajar saja. Tapi, bergerak untuk beramal.

Inilah rahasia do’a yang dipanjatkan oleh Rasulullah SAW ini. Di lain tempat, beliau SAW meminta ilmu yang bermanfaat terlebih dahulu sebelum meminta yang lainnya.

Beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang bermanfaat, mengantarkan pemiliknya menjadikan orang yang sangat takut kepada Allah SWT, menjauhi larangan-larangan-Nya, beribadah semaksimal potensinya.

Ketakutannya kepada Allah SWT, lahir dari sebuah pemahaman yang benar terhadap ma’rifatullah. Ketakutan ini bukan membuatnya menjauh dari Allah SWT, tetapi justru berlari mendekat kepada Allah SWT.

Para ulama menjadi manusia yang takut kepada Allah SWT, karena mereka adalah orang-orang memiliki ma’rifatullah yang mendalam:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah SWT dari kalangan hamba-hambaNya adalah ulama. (Qs. Fathir, 28)

Sebaliknya, ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah SWT, tidak memotivasi pemiliknya untuk beramal sholeh.

Syaikh An-Nablusi menjelaskan, termasuk ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak memberikan manfaat bagi kehidupan akhirat, dan juga bagian kehidupan akhirat.

Hati Tidak Khusyu’

Agar ibadah dan ketaatan terasa nikmat dan indah di hati, seyogyanya jiwa kita dipenuhi dengan ma’rifatullah: merenungi keagungan Allah SWT, mentadabburi ayat-ayat Allah SWT baik yang qur’aniyah atau kauniyah.

Namun ada saat hati seorang manusia tidak bisa merenungkan itu semuanya. Ia tidak mampu mentadabburi ayat-ayat Allah SWT.

Jika anda merasa jengah saat membaca Al-Qur’an. Membaca novel atau status demi status, di sosmed lebih dinikmati daripada tilawah Al-Qur’an.

Bila Anda melihat, ada orang yang bisa menangis saat dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, sementara Anda merasa biasa, seperti ada batu atau beban di hati Anda.

Maka catatlah, fenomena ini semuanya, menandakan bahwa Anda kehilangan hati khusyu’. Ini juga pertanda petaka dahsyat akan menimpa Anda.

Diantara kondisi yang paling menyiksa seorang hamba adalah saat ia tidak menikmati aktivitas dan rutinitasnya. Yang paling dahsyat, adalah hamba tersebut tidak menikmati ibadah yang dia kerjakan. Justru merasa terbebani.

Jiwa Tidak Puas

Anda mungkin pernah melihat seseorang yang melaksanakan kemaksiatan sejak muda hingga tua renta. Bertahun-tahun, ia tidak bisa keluar dari kubangan dosa tersebut. Seperti mabuk, zina atau sejenisnya.

Mungkin, Anda juga pernah menyaksikan seseorang yang mengejar dunia. Umur dan seluruh potensinya, dikerahkan untuk mendapatkan dunia. Padahal, kekayaannya sudah menumpuk.

Inilah yang dimaksud dengan jiwa yang tidak pernah kenyang, tidak pernah puas dalam melakukan kemaksiatan, juga tidak puas mencari dunia. Keduanya menjadi candu yang susah dijauhi. Celakanya, ibadah terlalaikan, bahkan tidak pernah beribadah sama sekali.

Ia akan menjadi sumber petaka baginya. Betapa banyak maksiat yang kecil, membakar iman seseorang. Bukankah api unggun besar, dimulai dari percikan korek api?.

Do’a Tidak Didengar

Saat seseorang mendapatkan kesulitan, ia akan berlari menuju Allah SWT. Berwudhu, menengadahkan tangan ke atas, bermunajat kepada Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang ia harapkan kecuali permasalahannya terselesaikan

Cara terbaik mewujudkan cita-cita dan menghindar dari ketakutan adalah dengan mendekat kepada Dzat Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan itu semuanya. Dia-lah Allah SWT. Menemui-Nya dalam munajat, dan berlari menuju ridho-Nya dengan ibadah.

Ibarat seorang prajurit memasuki medan tempur. Musuh-musuhnya menyerang dengan ganas. Ia pun mencoba menghadang mereka. Namun, senjatanya tidak berfungsi; panahnya putus, pedangnya tumpul, AK-47 nya tidak bisa menembak. Kekacauan, pasti terjadi. Besar kemungkinan ia terkoyak pedang musuh.

Do’a adalah senjata seorang mukmin di dunia dalam menghadapi musuh-musuhnya; baik setan yang terus mengintai kelemahannya; orang kafir yang hendak membunuhnya; orang munafik yang membencinya; dan orang-orang muslim yang hasad kepadanya.

Sebagaimana diungkapkan oleh sahabat Abu Umamah al-Bahiliy

الْمُؤْمِنُ فِي الدُّنْيَا بَيْنَ كَافِرٍ يَقْتُلُهُ , وَمُنَافِقٍ يُبْغِضُهُ , وَمُؤْمِنٍ يَحْسُدهُ , وَشَيْطَانٍ قَدْ وُكِّلَ بِهِ

“Seorang mukmin di dunia ini berada antara orang kafir yang berhasyrat membunuhnya, orang munafik yang membencinya, orang mukmin lain yang hasad kepadanya, dan setan yang -hendak- menguasainya.” (Shifat Nifak, al-Faryabi, 65)

Jika senjata do’a tidak bisa digunakan untuk menghadapi musuh-musuhnya di atas, tentu ia terancam segala-galanya; nyawa, harta dan imannya.

Kesungguhan Berdo’a dan Beramal

Do’a saja tidak cukup untuk dijauhkan dari empat sumber petaka di atas. Harus ada upaya riil untuk menjauhkan diri dari sebab-sebab datangnya empat sumber petaka di atas.

Suatu waktu Sa’ad bin Waqqash RA berdiri menghadap Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, berdo’alah kepada Allah SWT, agar aku termasuk orang yang mustajab do’anya.”

Rasulullah SAW pun bersabda;

يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ، وَأَيُّمَا عَبْدٍ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ وَالرِّبَا فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Wahai Sa’ad, makanlah yang baik, niscaya engkau akan menjadi orang yang mustajab do’anya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bila seorang hamba memasukan satu suapan makanan haram ke dalam lambungnya, maka amalnya tidak diterima selama 40 hari. Dan siapa saja yang dagingnya tumbuh dari harta haram dan riba, maka neraka lebih layak baginya, kelak. ” (HR. Ath-Thabrani)

Semoga kita diselamatkan dari empat sumber petaka di atas.

Penulis : Mas’ud Izzul Mujahid

Sumber : majalah An-najah Edisi 150 Rubrik Oase iman

Editor : Abu Khalid