Empat Pola Hancurkan Gerakan Islam

Gerakan Islam di seluruh dunia tidak pernah lepas dari gangguan dan rintangan. Beragam cara dilakukan musuh guna menumpas tunas kebangkitan Islam.

Jika diperhatikan, setidak-tidaknya ada empat sasaran yang dibidik oleh musuh untuk menghacurkan gerakan Islam. Yaitu kepemimpinan, jaringan, logistik, dan mesin kaderisasi.

Pertama, kepemimpinan. Pemimpin ibarat kepala bagi suatu tubuh. Kendali dan arahan datang darinya. Dengan memotong kepala, musuh berharap jika tubuh akan ikut mati. Karena tidak mungkin tubuh bisa hidup tanpa kepala.

Maka kita lihat berbagi operasi dilakukan untuk membunuh pemimpin-pemimpin gerakan Islam. sebut saja Hasan al-Banna, beliau ditembak mati. Abdul Qodir al Udah dan Said Kutub, mereka berdua berakhir di tiang gantungan . DR. Abdullah Azzam kendaraannya dibom ketika hendak melaksanakan shalat Jumat.

Sayang, apa yang mereka terjadi tidak mulus apa yang diharapkan. Betapa banyak pemimpin gerakan Islam meninggal di ujung tombak mereka, akan tetapi pikiran dan gagasan mereka tetap hidup setengah umat. Kepala boleh terpotong, namun cita-cita dan harapan akan terus hidup bersama umat.

Kedua, memutus jaringan. Dalam sebuah gerakan, jaringan ibarat panca indra untuk menyalurkan ide dan arahan seorang pemimpin kepada anggotanya. Musuh gerakan Islam berharap dengan memutus jaringan sebuah gerakkan, putuslah gerakan Islam tersebut.

Salah satu cara untuk  memutus jaringan adalah dengan menciptakan efek ketakutan yang domino. Caranya, sebuah organisasi dilabeli dengan cap teroris, dengan seketika semua orang akan merasa takut untuk mendekat sekalipun sekedar duduk bersama. Mereka takut dianggap membantu atau terlibat kegiatan terorisme.

Sekali lagi, upaya mereka menciptakan efek domino tidaklah efisien. Karena para aktivis adalah orang yang terbiasa berhubungan dengan umat. diantaranya dengan dakwah, khutbah, sholat berjamaah, silaturahmi, dan saling mendoakan. Selama kegiatan tersebut ada, jaringan tidak akan pernah terputus.

Melihat kenyataan tersebut, beberapa musuh terpaksa menerapkan kebijakan brutal. menutup atau membatasi fungsi rumah ibadah. masjid dan langgar dianggap sebagai sarang terorisme. Sebuah tuduhan yang sangat keji.

Ketiga, logistik. Musuh tentu sudah tahu bahwa siapa pun tidak akan mampu bertahan tanpa logistik. Mereka berusaha mematikan jalur logistik bagi gerakan Islam. Diantaranya dengan membuat regulasi pembatasan dan penyelidikan setiap aliran dana yang berasal dari luar negeri.

Musush menganggap seolah-olah gerakan islam terdiri dari barisan pengemis yang tidak mempu mencukupi kebutuhan pribadi. Justru ini menjadi tantangan tersendiri, agar para aktivis bisa bersinergi dengan umat membangun kemandirian logistik.

Keempat, Menumpas mesin kaderisasi. Musuh paham betul bahwa gerakan Islam bukanlah gerakan fisik yang jika dilumpuhkan, lumpuh lah aktivitas mereka. Akan tetapi gerakan Islam merupakan sebuah pesan lintas generasi. Dan mesin kaderisasi yang paling berbahaya versi mereka adalah pondok pesantren. Tidak heran jika beberapa pondok dimasukkan ke dalam daftar hitam. Sehingga kaum muslimin enggan dan was-was menitipkan anak-anak mereka kepada pondok pesantren.

Logika yang dibangun adalah kebanyakkan pelakuk teror adalah para alumni pondok pesantren. Padahal jika logika ini dipakai, tentu perguruan tinggi di indonesia adalah perguruan tinggi koruptor. Bukankah pejabat yang korup lahir dari universitas-universitas?

(Togar)

Diambil dari majalah An-Najah edisi 55. Hal. 22-23.

Editor: Sahlan Ahmad.