Esih Penak Zamanku To?

Majalah An-najah: Sekitar Kita 

(An-najah) – Berjalan-jalan di Yogya dan Solo hari-hari ini, pemandangan unik kerap terlihat. Stiker bergambar Pak Harto, dengan senyum khasnya tengah melambaikan tangan, banyak menghiasi kaca belakang mobil. Tulisan “Esih penak jamanku to?” menambah daya tarik stiker itu. Gambar dan tulisan yang sama dengan ukuran besar bahkan menghiasi bak truk yang banyak berseliweran.

Masih enak jaman saya kan? Itulah yang seolah disuarakan sosok Soeharto dalam stiker. Jelas itu bukan suara aslinya, di alam barzakh entah apa yang sedang dialaminya. Apakah dinampakkan tempatnya di surga sebagai nikmat kubur, atau justru dinampakkan tempatnya di neraka sebagai siksa kuburnya. Wallahu a’lam.

Merebaknya stiker dan gambar Soeharto ini menimbulkan pertanyaan. Apakah masyarakat merindukan sosok seperti dirinya? Atau merindukan suasana “penak” di zamannya?

Zaman Soeharto memang bangsa ini disuguhi sosok presiden yang murah senyum, serius tapi bisa guyon. Komunikatif dengan rakyat dan petani dalam perbincangan yang disorot kamera TVRI. Harga-harga relatif stabil. Situasi keamanan terkendali. Semua itu jadi nostalgia manis buat mereka yang…

(Selanjutnya bisa dibaca di Majalah An-najah Edisi 92)