Browse By

Etika dan Adaptasi

Ilustrasi, Baktii anak kepada orang tua

Ilustrasi, Baktii anak kepada orang tua

An-Najah.net – Ada kisah menarik dari seorang ikhwan. Ia berkawan dengan seorang yang cenderung kesufi-sufian. Mereka akrab dan saling memahami, si sufi tahu bahwa ikhwan tadi seorang haraki dan jihadi. Suatu hari kawan yang sufi itu memberikan nasehat yang mengejutkan.

“Belajarlah tentang sufi agar hati menjadi lembut dan perilaku tidak keras. Kebanyakan orang sepertimu jauh dari kelembutan dan cenderung berlaku keras dan kaku,” kata teman itu. Ikhwan itu pun terperanjat, antara tersinggung dan penasaran. Benarkah seorang yang terbina dalam tarbiyah harakah jihadi seperti itu?

Mari kita ikuti kisah lainnya berikutnya. Seorang mertua mengeluh, “Menantu saya kurang etika dan tata krama, kalau bertandang ke rumah saudara ia tak segan makan sebelum orang lain makan. Padahal katanya ia seorang akhwat militan.”

Tak hanya itu, ketika sang mertua duduk lesehan di lantai atau leyeh-leyeh tiduran, si menantu militan itu melewatinya tanpa permisi. Kadang, ketika kaki si mertua terulur menghalangi jalan, si menantu melompatinya begitu saja tanpa kata-kata.

Sebelum menikah, saat ta’aruf, anaknya dengan bangga mengabarkan ia akan dijodohkan murabbinya dengan akhwat pilihan. Terbina dalam tarbiyah dan dakwah, militan dalam memegang prinsip perjuangan. Ibunya pun bersyukur dan berharap ia bisa ditemani di hari tuanya oleh menantu yang shalihah dan baik budi.

Si ibu pun kecewa berat namun keluhannya tak mengubah situasi. Si menantu masih tak peka dalam bersikap, sementara anaknya hanya bisa membela sang istri, bahwa ia dibesarkan dalam kultur yang berbeda dengan keluarganya. “Apa kalau militan harus begitu? Nggak bisa ngewongke (memanusiakan) mertua?” si ibu menjawab dengan sedih dan kecewa.

Lama tinggal di rumah kos agaknya membuat si menantu kehilangan kepekaan tentang etika pergaulan. Sementara, meskipun ia mengaji, kajiannya yang padat kurikulum materi aqidah hingga wala dan bara’ mungkin tak sempat membahas hal yang terlalu sederhana semisal berlaku santun pada mertua.

Bisa juga si menantu menganggap bahwa budaya dan etika bukan nash yang harus diikuti. Bahkan bisa juga ia memang sedang memberontak pada sistem yang ia bara’ dengan cara yang salah. Memberontak pada sistem thaghut ia terjemahkan secara keliru dengan mengabaikan tata krama pada mertua.

Kejutan Budaya

Seorang takmir masjid yang ketempatan seorang dai muda juga mengeluh. Sang dai yang sedang menjalani penugasan dari almamaternya, sebuah pesantren yang dikenal lugas dan militan dalam dakwah, kerap dirasani masyarakat. Beberapa jamaah mengadu pada si takmir.

Dakwahnya bagus, ceramah dan khutbah oke, namun sang dai dianggap kurang anggah-ungguh. Bertamu ke tetangga masjid tentu disuguh minuman dan camilan. Mungkin menganggap “kalau sudah dihidangkan tentu maksudnya untuk dimakan.” Maka ia dengan santainya minum dan makan meskipun belum dipersilahkan.

Hal sepele ini rupanya menjadi perhatian dan gunjingan. Apalagi ada warga lain yang punya keluhan berbeda. Kadang si dai diundang makan di rumah warga. Tuan rumah tentu senang menjamu tamu istimewa dengan hidangan ala kadarnya. Namun, sepulang si dai, ia kecewa. “Waduh, ustadz kok makan di kursi sambil mengangkat sebelah kaki. Macam di warung koboi.”

Kebiasaan di pesantren, makan bersama lesehan dengan satu kaki ditegakkan sementara sebelahnya diduduki, agaknya kuat melekat. Namun celaka, kebiasaan itu dianggap tidak etis dan sopan ketika dilakukan di kursi. Citra sang dai pun tercemar karena persoalan remeh, kurang memperhatikan kebiasaan di tengah masyarakat.

Bisa jadi sang dai memang belum terbiasa terjun di tengah masyarakat yang heterogen. Yang ia lakukan juga tak melanggar aturan halal haram sehingga tak ada rasa bersalah untuk dilakukan.

Dalam ilmu sosial, apa yang terjadi pada akhwat dan ibu mertuanya, serta dai muda dan jamaah masjidnya ini disebut kejutan budaya alias cultural shock. Orang-orang yang dibesarkan dalam tata nilai yang berbeda bertemu dalam satu ruang dan waktu. Gesekan karena perbedaan kebiasaan pun mudah terjadi.

Kebiasaan di kos-kosan yang warganya sebaya dan secara relatif bebas dan egaliter. Tentu berbeda dengan rumah mertua yang diwarnai sopan santun orang muda pada yang tua. Pepatah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” pun berlaku. Sang menantu seharusnya menyesuaikan diri pada orang tua baru dan tata nilainya.

Memang tidak ada dalil yang mewajibkan permisi sebelum lewat, atau mengharamkan melompati kaki orang tua. Namun tak berarti sopan santun adat itu menjadi tak perlu dilakukan. Bukankah adat atau ‘urf, sepanjang tidak bertentangan dengan syariat, bisa diakui menjadi hukum dalam fikih Islam?

Tradisi di pesantren yang membiasakan kesederhanaan dan sikap apa adanya memang baik. Namun suasana di tengah masyarakat kampung yang memiliki standar etika lebih rumit perlu juga dipahami. Meski warga kampung menghormati tamu, mereka jeli dan kritis mencermati kebiasaannya yang dianggap tak sesuai tata nilai di situ.

Memang tidak ada dalil yang mengharamkan makan dan minum sebelum dipersilahkan tuan rumah. Juga tidak ada ancaman neraka bagi orang yang makan di kursi sambil mengangkat sebelah kaki. Namun etika keseharian ini juga tidak melanggar syariat Islam sehingga pantas saja diperhatikan.

Kemampuan Adaptasi

Jadi solusinya adalah kemampuan beradaptasi. Suatu hal sederhana yang hari ini mulai menghilang dari sebagian generasi muda. Didikan yang doktriner dan hitam putih agaknya membuat sosok seperti si akhwat militan merasa tak perlu mengindahkan etika umumnya orang.

Para murabbi perlu juga memahami bahwa tarbiyah bukan hanya mengasah sisi keras dan teguh prinsip, namun juga kelembutan dalam sikap. Tanpa itu, dakwah akan diwarnai manusia-manusia yang bak robot tanpa kenal tenggang rasa. Asal tak ada dalil yang melarang, bertindak semaunya sendiri.

Kembali pada orang sufi tadi yang sinyalemen dia bahwa kalangan haraki jihadi cenderung keras dan kaku bersikap di tengah masyarakat, mungkin ada benarnya. Namun sebenarnya solusinya sederhana, jeli mengamati sekitar dan beradaptasi dalam perilaku. Tak harus jadi seorang sufi. Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 143 Rubrik Sekitar Kita

Penulis : Togar

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *