Filosofi Tarian dan Seni Perang

Tarian Caci
Tarian Caci di Manggarai, Seni Membangun Jiwa Berani
Tarian Caci
Tarian Caci di Manggarai, Seni Membangun Jiwa Berani

An-Najah.net– Tarian perang. Sehabis membaca sebuah majalah di sebuah pesawat komersil -Flight Magazine-, dalam perjalanan dakwah ke Sumatera, saya teringat dengan sebuah tulisan mengenai tarian caci dari flores. Dan dikisahkan, tarian itu diringi gendang dari kulit perut manusia.

Tarian yang lebih cocok disebut latihan bela diri. Karena yang ditonjolkan adalah adu kecepatan dan ketangkasan. Mencambuk dan menangkis. Luka sobek berdarah ada sesuatu yang biasa.

Biasanya sorak sorai penonton semakin menggema jika pecutan seorang pemain mengenai wajah atau kulit lawannya. Apalagi bisa meninggalkan goresan luka ringan.

Tarian seperti ini, membuat saya nostalgia masa kecil di kampung halaman. Parado, Bima, Nusa Tenggara Barat. Mengingatkan saya tentang tarian yang diajarkan oleh para tetua di kampung.

Orang tua kami di kampung menyebutnya GANTAO. Mirip dengan tarian Caci di Flores. Hanya saja, gantao seringkali pakai tangan kosong. Memukul dan menjatuhkan lawan, tanpa senjata.

Tetapi terkadang juga, memakai tombak. Yang diandalkan adalah, menombak, memukul dan menangkis. Tak jarang, kawan jatuh terkena pukulan. Saat itulah sorak sorai penonton, mayoritas kaum Adam, bergemuruh. Acara ini semakin meriah, jika permainan diiringi hentakan rebana gendang yang terbuat dari kulit kambing.

Bagi masyarakat zaman sekarang, mungkin ini dianggap sebagai tarian yang tak berseni, dan terkesan sadis. Tidak ada liuk pinggul dan pantat, khas tarian modern. Jauh dari kosmetik khas yang mempermak muka pemain.

Tetapi, tahukah Anda? tarian tradisional, seperti Gantao & Caci, mengajarkan keberanian dan ketangkasan. Rasa sakit dan luka lecutan cambuk itu menguatkan mental. Mental laki-laki dan jawara tumbuh bersemi dalam tradisi ini.

Kalaupun kita membaca sejarah, hampir semua tarian tradisional selalu mirip dengan dua jenis tarian di atas. Bahkan ada beberapa jenis kesenian di daerah timur, seperti di Papua mengajarkan seni perang. Terkadang jauh dari unsur musik.

Dengan seni model ini, kita menjadi tahu sejarah perjuangan negeri ini. Kenapa penjajah susah menaklukkan Bangsa ini? Selain jihad yang menjadi ciri khas anak negeri, seperti Tengku Umar maupun Diponegoro, dan mati syahid sebagai cita-cita tertinggi, sejak kecil anak-anak di negeri ini diajarkan keberanian, dan ketangkasan, dengan seni yang mengalir di masyarakat.

Menurut saya, semua aktifitas mereka, _hatta_ kesenian, menanamkan jiwa ksatria. Lebih baik raga berkalung tanah, daripada kehormatan dinista orang. Inilah filosofi tarian tradisional tadi.

Saat Barat menjajah negeri ini, mereka tidak sekedar mengambil harta dan sumber daya alam milik rakyat. Mereka juga membawa ideologi, agama, tradisi dan budayanya ke negeri jajahan. Tradisi tarian saru dari negerinya, pun dibawa ke sini. Barat, sangat mendewa perut dan dibawah perut. Anak bangsa yang dulu diajarkan oleh nenek moyangnya tentang keberanian, harga diri dan kehormatan, akhirnya tergoda dengan tardisi bangsa penjajah.

Wajar kiranya, jika kiranya, di negeri ini, muncul para pemimpin yang berjiwa kerdil. Tidak peduli kehormatan negeri, menjadi pelayan bagi kepentingan asing.  Menyebar kebohongan (hoax) demi mempertahankan tahta. Menyebar teror kebencian terhadap agama, demi memuaskan para sponsor.

Life style, tradisi & budaya Barat-Kafir, menjadi alat efektif untuk memperbudak bangsa. Akhirnya, kita menyaksikan anak negeri menangis sedih, menyaksikan derita pemain drama Eropa, yang digambarkan miskin papa, dikhianati oleh temannya di layar televisi. Di saat yang sama tidak setetes pun air mata dari mereka untuk derita saudaranya di Palestina, untuk anak-anak Suriah yang telah yatim-piatu, menggigil kedinginan di tengah badai salju, tanpa makanan-minuman, tanpa kejelasan nasib.

Maaf, di sini saya sengaja tidak menyinggung halal-haramnya musik yang mengiringi tarian ketangkasan tersebut. Itu ruang fikih. Saya hanya ingin menegaskan, bahwa ruh seni dalam tradisi bangsa ini, warisan leluhur, adalah seni ketangkasan dan keperwiraan.

Dalam konteks modern, apalagi setelah tercelup manhaj salaf, setidaknya bau-bau musik yang diharamkan oleh ulama tersebut, bisa dihilangkan. Bisa juga tarian itu diganti dengan olah raga atau bela diri. Yang terpenting, nilai filosofis dari tarian itu bisa diraih. Yaitu; menanamkan keberanian, dan sikap kesatria. Keduanya melahirkan perlawanan terhadap setiap kedzaliman; baik penjajahan, neo imperialism dan selainnya.* (Mas’ud Izzul Mujahid –Pimpinan Redaksi Majalah Islam An-Najah-)