Fitnah Akhir Zaman, Merebaknya Kebohongan

Jaga lidah

An-Najah.net –

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ ، لَا يُضِلُّونَكُمْ وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ .

Dari Abu Hurayrah RA berkata, RasululLah SAW bersabda, “Di akhir zaman nanti akan muncul para dajjal, para pendusta. Mereka mendatangi kamu dengan perkataan yang tidak pernah kamu dengar, juga bapak-bapakmu.Hendaklah kamu waspada, jangan sampai mereka menyesatkan kamu dan jangan sampai mereka mendatangkan fitnah bagi kalian.” (HR. Muslim)

Merebaknya Kebohongan

Syaikh Maher Ahmad ash-Shufiy dalam tulisan beliau Asyrath as-Sa’ah menukil hadits tentang kemunculan para pendusta sebagai tanda-tanda sughra wa wustha (tanda-tanda kiamat kecil dan sedang). Adapun kemunculan Dajjal yang buta sebelah matanya termasuk‘alamat al-kubra (tanda besar kiamat).

Kedatangan tanda-tanda dari yang kecil, sedang dan kubra terjadi susul-menyusul tanpa henti dari waktu ke waktu, kurun ke kurun. Menurut beliau ‘alamat ash-shugra semua telah terjadi, kita sedang berada pada periode ‘alamat al-wustha, diambang kemunculan ‘alamat al-kubra.

Ibnu Mandhur dalam Lisan al-‘Arab mengatakan “Setiap pendusta adalah dajjal, bentuk plural-nya dajjalun, dinamakan demikian karena menutupi kebenaran dengan kedustaannya”.Beberapa hadits shahih yang lain menyebut jumlah para pendusta tersebut secara definitif yang mencapai hampir tiga puluhan orang. Mereka semua meng-klaim sebagai nabi.

Bahkan, terdapat hadits yang menegaskan bahwa empat dari ketigapuluh orang tersebut adalah perempuan. Antara lain tukang sihir Sajah dari bani Tamim yang telah muncul di zaman Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq bersamaan dengan nabi-nabi palsu yang lain seperti Aswad al-Ansi, Thulaihah dan Musailamah al-kadzdzab. Generasi di belakangnya ada Al-Mukhtar ats-Tsaqafiy, Al-Mirza Abbas di Iran, Mirza Ghulam Ahmad di India, Mahmud Muhammad Thaha di Sudan. Di level lokal ada Mosaddeq yang mengaku sebagai Al-Masih Al-Mau’ud, juga Lia Aminuddin yang mengikuti jejak tukang sihir Sajah.

Selain person-person yang secara definitif telah mengaku sebagai nabi dan telah terbukti kedustaannya, keadaan akan terus berjalan memenuhi iradah kauniyah qadariy yang telah ditetapkan oleh Allah atas makhluq-Nya, dengan tetap adanya orang-orang yang menyusul mengaku Nabi sehingga memenuhi jumlah yang telah di-nubuwah-kan.

Diangkatnya Ilmu, Ketamakan kepada Dunia

Ketika Iradah kauniyah-Nya telah ditetapkan, Allah akan menciptakan sebabnya. Ketika manusia berpaling dari memenuhi panggilan iradah syar’iyyah-Nya berupa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka pasti sedang menempuh sebab-sebab yang mengantarkannya untuk menjadi pelaku (aktor) atau korban dari iradah kauniyah-Nya.

Hidayatu al-irsyad (penempuhan jalan kebenaran) tidak mungkin dilakukan oleh seorang hamba tanpa didahului oleh hidayatu al-bayan (ilmu tentang kebenaran). Tidak mungkin seseorang menempuh jalan kebenaran tanpa mengerti ilmu tentang al-haq. Sedangkan mereka yang telah mengetahui ilmu tentang al-haq saja, tidak selalu mengamalkannya.

Kebodohan terhadap al-haq menjadikan seorang hamba berpotensi menjadi pendusta (fa’il, subyek pelaku dusta) maupun korban dari aktivitas kebohongan (maf’ul bihi, obyek penderita). Ketika seseorang tidak mengenal al-haq; tanda-tanda kebenaran dan ukuran-ukurannya yang telah diturunkan kepada nabi-Nya, sementara dirinya dianggap sebagai tokoh, diikuti perkataannya oleh banyak orang, dia (karena kebodohannya) tidak mengerti bahwa dirinya memiliki keterbatasan, sedang para pengikutnya selalu men-support-nya benar maupun salah, hal itu mendorong dan menggiringnya untuk memandang dirinya memiliki kelebihan-kelebihan itu.

Paduan antara kebodohan dengan keinginannya untuk diikuti dan didengar, mendorongnya untuk (minimal) al-qoulu bi laa ‘ilmin (berbicara tanpa ilmu), al-qoulu ‘alalLohi bi laa haqqin (mengatakan suatu perkataan atas nama Allah secara bathil), dan (maksimalnya) mengaku tuhan, seperti perkataan Fir’aun Ana rabbukum al-a’la (aku lah tuhan kalian yang paling tinggi).

Adapun dajjal, subyek kedustaan setiap zaman, pasti mengumpulkan salah satu dari paduan dua keburukan; pertama buruknya tashawwur disertai dengan rusaknya iradah, atau bagusnya tashawwur tetapi iradah rusak. Jika tashawwur saja yang rusak tetapi iradah-nya bagus, kesesatannya menyerupai orang-orang Nashrani, lain halnya jika yang rusak tashawwurnya sekaligus rusak iradahnya, tak hanya merusak dirinya sendiri, sebab kerakusannya itu mengantarkan untuk hubbu al-jah, hubbu ad-dunya, hubbu al-mal, hubbu ar-riasah. Di titik ini kerusakannya menjadi muta’addiy, membutuhkan obyek untuk disesatnya, dirusak. Dajjalun, si pendusta, dari yang pertama hingga yang ke-tiga puluh, membutuhkan obyek untuk didustai dan dibohongi demi memuaskan dahaga ketamakannya kepada dunia.

Peringatan Nabi, “..para dajjal pendusta itu datang kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar, begitu juga bapak-bapak kalian tidak mendengarnya” adalah penegasan bahwa,.. mereka mengaku nabi, tetapi menyampaikan suatu ajaran yang tidak kamu kenal dalam ajaran Nabimu. Generasi ummat yang lebih dahulu (yang lebih dekat kurunnya dengan Nabi) juga tidak mengenal ajaran itu.

Nabi memperingatkan agar waspada menghadapi kedustaan mereka, jangan sampai mengiyakan dan mengikuti mereka sehingga mendatangkan fitnah terhadap (agama) kalian. Jika ummat pada kondisi seperti itu saat menghadapi para dajjal pendusta tersebut, sungguh beruntung, sebab gambaran tersebut menunjukkan bahwa ummat ketika itu masih memiliki filter yang mampu menyaring kebenaran dari kebathilan.

Celaka bagi ummat yang tidak lagi mempunyai furqan untukmembedakan kebenaran dari kebathilan. Sebab kemampuan para dajjal untuk menutupi kebathilan yang ditawarkannya, semakin dekat dengan hari Qiyamat semakin menakjubkan. Rasul dalam nubuwah-nya menggambarkan bahwa penutup para dajjal yakni dajjal al-a’war (pendusta yang buta sebelah matanya) diberikan kemampuan oleh Allah untuk mendatangkan hujan, menumbuhkan tetanaman, menghidupkan orang mati, bahkan memiliki surga dan neraka palsu.

Orang yang tidak mempunyai ‘ilmu an-nafi’ tentang asyrath as-sa’ah, niscaya berada dalam kerentanan menjadi korban dari kedustaan tingkat tinggi ini. Dan kaum perempuan (secara umum) berada pada posisi lebih rentan menjadi korban, maka tidak berlebihan jika di zaman itu seorang lelaki beriman terpaksa mengikat ibu, istri dan saudara perempuannya agar tidak keluar rumah menemui pembohong canggih tersebut, supaya tidak menjadi korban kepalsuannya, sehingga rusak agamanya.

Fenomena Kekinian

Jika kita memperhatikan definisi yang diberikan oleh Ibnu Mandhur tentang dajjal, sebenarnya memiliki sifat lebih umum, yakni aksi menutupi kebenaran dengan kedustaan, tanpa membatasi apakah kebohongannya disertai dengan meng-klaim sebagai nabi atau pun tidak. Kita sering menyaksikan bagaimana kekuasaan dengan kewenangan, penguasaan data dan informasi, media massa yang berkemampuan untuk mengarahkan opini, mendistorsi informasi dan menyebarkannya, biaya unlimited untuk menggerojok publik dengan informasi yang dikehendaki, memungkinkan pengendalian penyebaran informasi sesuai kehendaknya, mana yang ingin dikukuhkan sebagai ‘kebenaran’ (meskipun tidak sesuai fakta) dan mana yang dinafikan meskipun merupakan fakta yang sesungguhnya.

Di zaman ini data yang disajikan baik kabar, penjelasan, bukti-bukti dan publikasi yang dilansir media massa, atau temuan-temuan team pencari fakta, hasil polling atau jajak pendapat yang dilansir lembaga-lembaga penelitian, atau yang terungkap di persidangan dalam sebuah kasus, belum tentu merupakan fakta yang sesungguhnya terjadi.

Dengan kata lain, banyak pendusta yang berusaha untuk menutupi fakta dengan cara men-distorsi data-data yang disuguhkan sehingga bahan untuk mengambil kesimpulan atas fakta yang sesungguhnya terjadi telah berubah. Kedustaan dan kebohongan dilakukan di hulu, sehingga hilir pengambilan kesimpulan menjadi bias.

Dapat dibayangkan, jika fakta telah dirusak dari hulu (dari data), pangkal tempat suatu kesimpulan disandarkan, maka dipastikan kesimpulan tentang fakta yang terjadi tidak menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Di atas itu masih ada kebohongan yang lebih tinggi, data yang ditemukan dan disajikan sebagai landasan untuk mengambil kesimpulan benar dan obyektif, akan tetapi kekuasaan memang menghendaki fakta tersebut demi menutupi fakta lain yang sesungguhnya terjadi.

Masyarakat awam lebih sering disuguhi sajian seperti itu, sandiwara di persidangan yang berkepanjangan, atau sajian berbagai peristiwa yang menyedot perhatian, sementara fakta materiil yang terungkap di persidangan bukanlah hakikat yang sebenarnya terjadi. Kebenaran dan keadilan yang tersaji tak lain hanyalah kebenaran dan keadilan formal, hasil dari dijalankannya standard operational procedure (SOP), yang jauh dari rasa keadilan hakiki.

Khatimah

Mu’min yang benar tidak menipu dan memanipulasi data, sekaligus tidak dapat ditipu oleh kesimpulan bodong hasil manipulasi data; jujur dan obyektif dan tidak menjadi korban dari tindakan tidak jujur yang memanipulasi data.

Selain sikap diri yang jujur dan obyektif, seorang beriman juga memiliki sikap yang dengan sikap itu menjadikannya memiliki ‘mata bathin’ yang kuat, buah dari menjaga diri dari memasukkan ke dalam rongga perutnya asupan yang haram dan syubhat. Selain itu secara khusus RasululLah SAW menasehati orang-orang yang beriman agar melazimi ‘amalan yang akan menjaganya agar diberi cahaya oleh-Nya dan dijaga dari fitnahnya dajjal.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:إِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy RA, bahwa RasululLah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumu’ah, Allah akan meneranginya dengan cahaya diantara dua Jumu’ah.”(HR. Al-Hakim)

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْف عُصِمَ مِنْ الدَّجَّالِ

Dari Abu ad-Darda’ berkata, “Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat dari awal surat al-Kahfi, dia akan dijaga dari fitnahnya dajjal.”(HRMuslim)

Marilah kita menempuh semua sebab yang menjadikan kita selamat dari sifat ‘dajjal’ dan agar kita dijaga oleh Allah dari fitnahnya Dajjal.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 148 Rubrik I’dadul uddah

Editor : Anwar