Browse By

Fitnah Ghuluw di Rumah Tangga Aktifis Islam

Orang ini murah senyum. Dia sangat mudah bergaul, sopan, santun, dan hormat kepada sesama anggota pengajian. Inilah sikap yang saya dapati dari si Fulan. Selama pengajian ia sangat khusyu’ dan perhatian penuh pada materi yang disampaikan oleh ustadz. Sesekali kepalanya mengangguk tanda paham.

Di lain waktu, ia sangat cekatan menyiapkan tempat, meja dan sound system yang biasa digunakan untuk kajian, di salah satu masjid pinggiran kota S. Kadang ia menyiapkan minuman untuk para ustadz yang mengisi kajian di masjid ini. Saya sendiri sangat mengagumi orang ini.

Suatu ketika, iseng-iseng saya bertanya, “Akhi, antum sudah zawaj (nikah)?” Dia menunduk sesaat, lalu dengan senyum khasnya ia memandang saya, sejenak. Lalu berkata, “Sudah nikah tadz, tapi juga sudah cerai.”

Sambil menatap sekeliling masjid yang sudah sepi ditinggal oleh jama’ah shalat Isya, ia melanjutkan ceritanya, “Dulu saya menikah dengan seorang akhwat alumni pondok A, dari Kota K. Bertahan cuma beberapa tahun, setelah itu saya putuskan untuk melepaskan dia.”

“Saya boleh tahu, apa yang melatar belakangi perpisahan itu.?” Tanya saya dengan hati-hati, khawatir ia tersinggung. Mendengar pertanyaan saya, dia melemparkan senyum khasnya. “Tidak apa tadz, saya akan cerita.” Jawabnya.

“Di awal-awal pernikahan kami tidak masalah. Pada saat lamaran hingga pernikahan pun tidak ada masalah sama sekali. Hingga suatu masa, dimana eks istri saya itu banyak menjelajah dunia maya, membaca banyak kajian dan tulisan.” Ia berhenti sejenak mengatur napas, “Diantara kajian yang ia cenderungi adalah masalah takfir. Terutama tulisan Ust. SA. Yang lebih tinggi volume takfirnya.”

“Ia pun mulai mempermasalahkan saksi pernikahan dulu, yaitu abang saya yang PNS. Pertama kali saya tidak pernah menggubris masalah ini, sampai pada puncaknya ia ingin mengabdi di sebuah pondok yang jauh dari rumah. Saya tentu berat hati, namun dia nekat, sebab ia merasa nyaman dengan pondok tersebut, sebab dianggap satu fikroh dengan dia terutama dalam masalah takfir.”

“Ia sangat memaksa, saya pun akhirnya mengizinkan, toh saya pikir ini juga bagian dari dakwah yang menjadi komitmen saya menikah dulu. Beberapa bulan kemudian, ia mengabari saya, bahwa ia meminta saya untuk menceraikannya.” Ceritanya berhenti sesaat, seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Tentu saja ini membuat saya sedih dan bingung. Saya diminta untuk menghadap kantor KUA pada hari yang ia tentukan. Saya sudah tidak bisa menghindar lagi. Akhirnya, berangkatlah saya, niatan saya bukan untuk menceraikannya, tetapi untuk membicarakan baik-baik dengan beliau.”

“Singkat cerita, sampailah saya di kota yang ia minta, di sana dia telah menyiapkan para saksi dan berkas-berkas untuk sidang. Para saksi yang menyaksikan kedzaliman saya terhadap istri, belum pernah saya kenal, bukan tetangga atau keluarga saya maupun dia.  Memang saya merasakan skenario perceraian ini. Dan melihat kondisi demikian dengan saksi-saksi yang memberatkan saya, akhirnya saya meluluskan permintaanya agar menceraikannya.”

***

Sepotong kisah hidup saudara yang saya jumpai ini mewakili realitas yang telah, sedang dan mungkin akan terus terjadi di tengah masyarakat Islam. Kisah tentang perbedaan prinsip dalam memahami Islam, sering menjadi batu menyandung bahtera rumah tangga masyarakat Islam, terlebih aktifis yang beda harokah dan juga beda prinsip-prinsip pemahaman Islam.

Ada cerita sebagian pengikut kajian salafi mendapat gugatan dari istrinya. Ia ditahdzir oleh sang istri disebabkan beda ustadz dan beda kitab yang dikaji. Sampai istri minggat dari rumah suami, ‘mengembara’ ke lingkungan yang diyakini lebih nyalaf, dan jauh dari kebid’ahan.

Masa Fitnah dan Ujian

Masa dimana manusia hidup hari ini bisa dikatakan masa-masa yang begitu banyak fitnah. Diantara fitnah yang dihadapi oleh umat manusia adalah fitnah kebodohan dan pemikiran. Hal ini disebabkan banyaknya ulama robbani yang meninggal, hanya sedikit yang tersisa, selain itu hanya orang-orang bodoh yang sok tahu persoalan umat.

Rasulullah SAW bersabda

“Sesungguhnya diantara tanda kiamat adalah ilmu diangkat, kebodohan menyebar, minum khamer marak, dan perzinaan merajalela.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain beliau bersabda

“Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan, seorang pembohong dibenarkan dan seorang yang jujur dianggap berbohong, seorang pengkhianat dipercaya dan seseorang yang dipercaya dianggap khianat, dan saat itu Ruwaibidhah akan berbicara.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ibnu Majah)

Ada juga ulama yang tersisa, namun mayoritas adalah pecinta dunia, yang menjual agamanya untuk dunia. Sedangkan ulama-ulama yang jujur, terbelenggu lisannya oleh hukum thaghut yang berkuasa, dijauhkan dari umat, sehingga umat hanya mengakses Islam lewat para ustadz di Televisi, yang lebih cocok menyandang gelas artis daripada ulama. Minim ilmu, minim juga akhlaknya.

Diantara efek fitnah ini, umat tersesat mencari ilmu. Bertanya kepada orang-orang yang tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap Islam (su’ul fahmi) atau kepada orang yang buruk orientasi hidup maupun orintasi dakwahnya (su’ul irodah).

Jika sudah demikian, terjadilah seperti dalam kisah di atas. Ini kasus di internal aktifis Islam. Kondisi masyarakat awam tentu lebih parah lagi. Sebab, mereka salah dalam mengambil rujukan, sehingga melahirkan sikap yang salah fatal.

Fitnah-fitnah yang dihadapi umat manusia di akhir zaman ini telah membuat hati mereka hitam pekat, tidak memiliki cahaya untuk menerangi perjalanan hidupnya. Ia seperti hidup di lorong gua yang gelap gulita, pekat, dan menggulita.

Hudzaifah Ibn Yaman meriwayatkan;

“Aku telah mendengar Rosulullah SAW bersabda, “Akan ditampakkan berbagai fitnah, pada hati seperti teranyamnya tikar seutas demi seutas,  maka hati manapun yang telah dimasuki oleh fitnah maka akan dititik padanya noktah hitam dan hati manapun yang dapat mengingkari fitnah maka dititik padanya cahaya  putih.

Sehingga hati manusia menjad dua; hati yang putih seperti batu yang kokoh, fitnah apapun tidak membahayakannya, selama ada langit dan bumi.Dan hati kedua adalah hitam pekat seperti cangkir yang terbalik, yang tidaklah hati itu mengetahui yang makruf dan tidak bisa mengingkari yang mungkar kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai fitnah-fitnah yang ada.Do’a perlindungan ini dianjurkan untuk dibaca setelah tahiyyat akhir sebelum salam;

اللَّهُمَّإِنِّىأَعُوذُبِكَمِنْعَذَابِجَهَنَّمَوَمِنْعَذَابِالْقَبْرِوَمِنْفِتْنَةِالْمَحْيَاوَالْمَمَاتِوَمِنْشَرِّفِتْنَةِالْمَسِيحِالدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlidung kepadaMu dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah saat hidup maupun setelah mati, dan dari keburukan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Bukhari) (Akrom)

Editor, Sahlan Ahmad

Diambil dari majalah Islam An-Najah edisi 107, Oktober 2014, rubrik Oase Imani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *