Fitnatul Akbar Ketika Meninggalkan Jihad

Hati Yang Sakit
Hati Yang Sakit
An-Najah.net – Adab dan aturan jihad membedakan antara perang dalam Islam dan perang dalam ‎pandangan ideologi lain. Masih ada sebagian kalangan meyakini bahwa jihad yang bermakna ‎perang merupakan fitnah, karena banyaknya pertumpahan darah dan menciderai sisi kejiwaan ‎manusia. ‎
Mereka tidak sadar, jika statemen itu bermakna mencela Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sebab, ‎Rasulullah Saw memaknai jihad dengan perang bersenjata dengan segenap perangkatnya, seperti ‎telah beliau praktekkan di masa kehidupan Beliau.‎

Jangan Salah Persepsi

Memang makna jihad dari segi etimologi (bahasa) mempunyai banyak makna, diantaranya; ‎kekuatan, usaha, kesulitan. (Ibnu Mundzir, Lisan al-‘Arab, (Kairo: Darul Ma’arif, 1119 H). Jilid. ‎‎1, hal.  708).‎
Namun, dari segi istilah hampir para ulama memaknai dengan berperang mengangkat senjata, ‎melawan orang kafir. Sebagimana pendapatnya ash-Shon’ani dalam Subulus Salam-nya, Sayyid ‎Sabiq dalam Fikih Sunnah-Nya, Al-‘Ulyani dalam Ahammiyatul Jihad-nya, dan beberapa ulama ‎yang lain, yang berpendapat demikian.‎

Apalagi kata jihad berdampingan dengan kata fi sabilillah, maka tidak lain bermakna memerangi ‎orang kafir. Sebagaimana pendapatnya Yusuf al-Qordhowi, apabila fi sabilillah setelahnya diikuti ‎kalimat jihad dan qital maka artinya adalah jihad (perang). (Yusuf  al-Qordhawi, Fiqh Zakah, ‎‎(Bairut: Mu’assasatur Risalah), cet ll, 1405H/1985M, bab: Mashorifuz Zakat, vol 2, hal.  655 )‎

Hati-Hati Fitnah Besar

Ketika manusia meninggalkan jihad karena khawatir fitnah, saat itu mereka sedang terjatuh ‎dalam fitnah, yaitu fitnah yang muncul karena enggan berjihad. Pada peristiwa Tabuk, orang-‎orang munafik meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk tidak ikut perang. Alasan yang mereka ‎kemukakan adalah khawatir terkena fitnah. Justru Allah Ta’ala mengatakan, keengganan mereka ‎untuk berjihad, merupakan fitnah tersendiri.‎
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
‎“Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan ‎janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah ‎terjerumus ke dalam fitnah.”(at-Taubah: 49)‎

Saudaraku, sudah menjadi kepastian dalam aktifitas jihad dan amar makruf nahi munkar terdapat ‎ujian dan cobaan yang membuat seseorang terfitnah (diuji). Sehingga sebagian kalangan rela ‎meninggalkan kewajiban jihad dan amar makruf nahi munkar dengan alasan; agar selamat dari ‎fitnah. Ucapan tersebut persis seperti alasan orang-orang munafik terdulu, sebagaimana yang ‎tercantum di surah At-Taubah ayat 49‎

Padahal jika dia mengetahui, justru saat ia meninggalkan kewajiban jihad, ia tertimpa penyakit ‎hati, imannya lemah, takut mati karena cinta dunia dan ini merupakan fitnah yang lebih besar ‎daripada fitnah (ujian) saat berjihad

Paham Orientalis

Orang yang berpandangan miring tentang ibadah jihad, sejatinya telah termakan provokasi kaum ‎Orientalis yang bertujuan menghancurkan Islam dengan mendiskreditkan syariatnya lewat ‎gambaran kengerian syariat Islam seperti jihad dan hukum had. Sementara, mereka menutupi ‎kekejaman pasukan Salib saat memerangi umat Islam. Pembantaian, penjarahan dan pemerkosaan ‎selalu mengiringi invasi (penyerbuan ke dalam wilayah negeri lain) Kristen dan orang-orang kafir ‎lainnya.‎

Sedangkan jihad memiliki adab dan aturan yang jelas yang tidak boleh dilanggar oleh setiap ‎prajurit Islam. Dalam pembahasan fikih Islam, terdapat bab Fikih Jihad yang di dalamnya ‎dibahas pula adab dan etika jihad.

Baca juga : Jihad Harta, Naungan Perlindungan Allah Dijanjikan

Dalam jihad, ada larangan membunuh wanita, anak, pendeta dan orang tua dengan syarat; selama ‎mereka tidak terlibat dalam peperangan. Ada larangan membakar pohon, menghancurkan ‎bangunan dan perbuatan-perbuatan nista. Ada perintah untuk menepati janji, berbuat baik kepada ‎tawanan dan lain sebagainya.‎

Adab dan aturan jihad membedakan antara perang dalam Islam dan perang dalam pandangan ‎ideologi lain. Tentu jihad lebih beradab dan perang yang dilancarkan orang-orang kafir sangat ‎biadab. Lantas, dimana kengerian jihad itu sendiri? Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis ‎: Ibnu Jihad‎
Editor   ‎: Ibnu Alatas‎