Gaya Hidup Yang di Ridhoi Ilahi

kaligrafi-pemandangan

An-Najah.net – Cukuplah syariat Islam pedomanku. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. ‎Dengan agama inilah Allah Ta’ala menutup agama-agama sebelumnya. Allah Ta’ala telah ‎menyempurnakan agama ini bagi hamba-hamba-Nya sehingga rahmat, ampunan dan ridho ‎bisa mereka raih lewat agama ini.‎

Namun, pada umumnya setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda-beda dalam ‎menjalani kehidupan ini. Ada yang menempuh jalannya yang sesuai (diridhoi)  oleh ‎Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, namun ada juga yang nyeleweng dari jalan-Nya.‎ Dalam pandangan Islam gaya hidup manusia itu ada dua: pertama, gaya hidup Islami. ‎Kedua, gaya hidup jahili.‎

Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu Tauhid. Inilah gaya ‎hidup orang yang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan ‎rapuh, yaitu syirik. Dan inilah gaya hidup orang kafir. ‎

Gaya Hidup Islam, Harus!

Bila kita mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya maka, sudah menjadi ‎keharusan baginya untuk memilih gaya hidup yang Islami dalam menjalani kehidupannya ‎sehari-hari. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:‎

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak ‎‎(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk ‎orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).‎

Para mufassirin menafsirkan bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap ‎Muslim, dengan keyakinan setingkat ‘ainul yakin’ karena Islam adalah manhaj, metode, ‎jalan yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetapkan. Dan barangsiapa yang berpegang ‎teguh di jalannya maka baginya surga. (Imam al-Qurthubi, Al-jami’ lil Ahkamil Qur’an, ‎cet. II, jilid 9, hal. 274, versi syamila)‎

Namun, pada kenyataannya justru membuat kita sangat prihatin dan sangat menyesal, ‎sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar ‎umat Islam. Baik dari segi bergaul, barpakaian, sampi pada ranah ibadah. ‎

Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah Saw . Beliau bersabda:‎

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِيْ بِأَخْذِ الْقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَفَارِسَ ‏وَالرُّوْمِ. فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَـئِكَ. (رواه البخاري)‏

‎“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad ‎sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang ‎bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa ‎lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari, no. 7319).‎

لَتَتَّبِعَنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ ‏اللهِ، اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. قَالَ: فَمَنْ. (رواه البخاري)‏

‎“Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal ‎demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, ‎niscaya kamu mengikuti mereka”. Kami bertanya,”Ya Rasulullah, orang Yahudi dan ‎Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa lagi?” (HR. Al-Bukhari, no. 7320 ).‎

Saudaraku, bukankah Rasulullah Saw melarang kita untuk menyerupai ber-tasyabbuh ‎kepada orang kafir. Yang mana seluk beluk kehidupannya diatur dengan sistem jahili. ‎Rasulullah Saw bersabda,‎

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. (رواه أبو داود)‏

‎“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu ‎Dawud, no. 4031).‎

Lalu apa maksud dari ber-tasyabbuh dari hadits di atas? Nuruddin al-Qori’ ketika ‎menjelaskan hadits di atas berkata, “Menyerupai suatu kaum baik dalam berpakaian, ‎prilaku, adat istiadat mereka dan lain sebagainya”. (Abul Hasan Nuruddin al-Qori, ‎Mirqotul Mafatih Syarhu Miskatul Mashobih, cet.‎‏ ‏I, jilid 7, hal. 2782)‎

Tentu saja lingkup pembicaraan tentang tasyabbuh ini masih cukup luas, intinya kita harus ‎mencontoh prilaku para salaf ash-Sholeh jika kita mengaku umat Muhammad Saw yang ‎beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.‎

Saudaraku, tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di Neraka. Marilah ‎kita kembali kepada jalan yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetapkan. Cukuplah bagi ‎kita syariat Allah Ta’ala dan Rasulnya sebagai pedoman kita. Kita bimbing keluarga kita agar selamat duania maupun akhirat.  Wallahu Ta’ala ‘alam ‎

Penulis : Ibnu Jihad
Editor   : Ibnu Alatas