Gelora Dakwah Dan Jihad Sunan Kudus

Sunan-Kudus
Sunan-Kudus

An-Najah.net – Siapa yang tidak kenal dengan sunan Kudus. Akan tetapi, kebanyakan ketika berbicara tentang wali Songo lebih cenderung mistik, kecuali orang yang dirahmati Allah Swt. Siapa sebenarnya sunan Kudus itu dan apa perannya dalam penegakan syari’at Islam.

Sunan Kudus sebenarnya bernama Ja’far Shadiq. Ia berdarah Palestina dan datang ke Jawa tahun 1436 M. Sunan Kudus adalah putra Raden Utsman Haji (Sunan Ngudung) dengan Nyai Anom Mayuran bin Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel.

Sunan Kudus ketika masih kecil belajar tentang Islam dibawah asuhan ayahnya sendiri, Raden Utsman Haji. Sementara Utsman Haji terkenal sebagai salah satu ulama yang dihormati dan menjadi tokoh masyarakat.

Melihat kemampuan akalnya yang cerdas dan cepat menangkap pelajaran dalam waktu singkat. Maka Sunan Ngudung berharap agar putranya menjadi orang besar yang berjuang demi membela Islam.

Dalam masa berikutnya Sunan Kudus belajar kepada Raden Rahmat di Ampel Denta dan Sunan Giri di Gresik. Dengan ketajaman fikiran dan kebersihan hati beliau. Ia mampu menguasai bidang-bidang ilmu dalam Islam seperti tauhid, Ushul Fiqih, Hadits, Tafsir, dan Sastra. Kedalaman ilmunya inilah yang membuat beliau terkenal dengan gelar “Waliyul Ilmi”, Penguasa  ilmu. (Rahmad Abdullah,Walisongo Gelora Dakwah dan Jihad Di Tanah Jawa, hal 95)

Baca Juga : Jihad Fatahillah di Jakarta

Atmodarminto dalam buku Babad Demak menyebutkan bahwa Sunan Kudus sebagai satu-satunya wali yang paling menguasai ilmu Fiqih. Beliau menggantikan kedudukan Maulana Malik Isra’il pada tahun 1436 M.

Jejak Dakwah dan Jihad

Sunan kudus memiliki reputasi besar. Ia dikenal sebagai wali paling tegas dalam memegang teguh syari’at Islam. Bahkan beliau tidak segan-segan menggunakan jalan kekerasan dalam menjaga kemurniaan Islam dari berbagai penyimpangan. Diantara buktinya adalah pendapat beliau agar menghukum mati syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging (Kebo Kenongo).

Ketika Sunan Ngudung menemui Syahid pada tahun 1524 M dalam perang melawan Prabu Udhoro, sisa kekuatan Majapahit di Kediri. Kerajaan Islam Demak mengangkat Sunan Kudus sebagai Senopati, Panglima Perang. Bukan hanya karena beliau putra sunan Ngudung yang menjadi panglima perang sebelum syahid, akan tetapi lebih dikarenakan pengetahuan dan keberanian sunan Kudus.

Baca Juga : Sifat dan Karakter Wali Syaitan dalam Islam

Beliau mengetahui tentang ilmu militer (‘Asykariyah) dan siasat perang dari ayahnya yang telah berpengalaman. Selain itu sunan Kudus memahami tentang sistem pemerintahan kerajaan Islam Demak, berjiwa pemimpin, fisik tubuh yang kokoh, serta memiliki ketangkasan dan keberanian yang melekat kuat dalam jiwa beliau. Inilah sifat-sifat sunan Kudus yang sangat layak diangkat sebagai panglima perang kerajaan Islam demak Bintoro.

Sebagai seorang wali, sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan kesultanan Demak. Yaitu sebagai panglima perang yang gagah berani, penasehat Sultan Demak dan hakim peradilan negara. Beliau banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa.

Sunan Kudus memimpin masyarakat muslim di Kudus dengan panduan hukum Allah, yaitu syari’at Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Ketika permasalahan dalam masyarakat Islam, beliau yang selalu memutuskan perkara dengan hukum Allah.

Pelaksanaan hukum Islam yang berkaitan dengan hadd dan jinayat biasa ditegakkan di alun-alun, tanah lapang yang terletak di sebelah timur Masjid Menara Kudus. Karena kedalaman ilmu beliau tentang ajaran Islam, beliau juga diangkat oleh sultan Fattah menjadi hakim pengadilan kerajaan Islam Demak.

Saat memimpin rongongan jama’ah haji dari kerajaan Islam demak. Beliau mendapat gelar Amirul Hajj. Kabarnya Sunan Kudus mendapat hadiah dari gubernur di Mekah. Karena ia memberikan jasa berupa solusi atas serangan wabah penyakit.

Akan tetapi hadiah kenang-kenangan itu ditolaknya. Sunan Kudus hanya meminta sebuah batu yang kemudian dipasang pertama kali saat pendirian Masjid Menara Kudus.

Baca Juga : Strategi Wali Syaitan Menghancurkan Islam

Sunan Kudus memiliki ide menukar nama negeri tempat beliau mengajar dengan nama Arab, yaitu Kudus (Al Quds). Quds berarti suci yaitu nama negeri Baitul Muqaddas sampai sekarang. Beliau juga memberi nama Muria bagi bukit tempat mendirikan perguruan Islam sunni di pesisir utara tanah jawa. Muria adalah nama bukit tempat berdirinya Masjidil Aqsha, sampai sekarang ini namanya jabal muria.

Strategi dakwah yang beliau tempuh salah satunya dengan mendirikan Masjid menara Kudus, yang arsitekturnya masih bergaya campuran hindu dan Islam. Tujuannya agar masyarakat jawa yang masih menganut Hindu dan Budha mudah menerima Islam.

Dimasjid menara Kudus inilah sunan Kudus mengajarkan sekaligus menjadi pemimpin panutan masyarakat Islam Kudus. Untuk memperbanyak jumlah umat Islam dengan cara melakukan tabligh keliling, dari satu tempat ke tempat yang lain.

Beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama dan mubaligh penggelora dakwah Islam saja. Akan tetapi juga menggelorakan jihad sebagai panglima perang kerajaan Islam Demak yang tangguh lagi gagah berani.

Selain sebagai panglima perang yang memimpin pasukan melawan sisa kekuatan Syiwa-Budha. Beliau juga pernah diutus sultan Fattah membunuh Kebo Kenongo. Dalam cerita yang beredar dimasyarakat, Kebo Kenongo disebutkan sebagai salah satu murid syekh Siti Jenar, seorang tokoh misterius dan kontroversial yang terkenal dinisbatkan kepadanya ajaran manunggaling kawulo gusti.

Sunan Kudus juga pernah ikut dalam perang melawan Portugis bersama Pati Unus pada akhir tahun 1512 M hingga awal 1513 M. Sebagai panglima perang angkatan laut, beliau diserahi tugas sebagai pimpinan yang mengepalai puluhan armada kapal.

Pada tahun 1513 M, Sunan Kudus sampai di perairan Malaka dan memerangi Portugis. Meskipun kemudian dapat dipukul mundur oleh pasukan Katolik Portugis dengan diserang muntahan-muntahan peluru meriam.

Baca Juga : Pertarungan wali Allah dengan Wali Syaitan

Diantara yang pernah menjadi murid sunan Kudus ialah sunan Prawoto, raja Demak ke-4 dan Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Salah satu penginggalannya yang terkenal ialah masjid menara Kudus, yang arsiteknya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550 M.

Spirit Sunan Kudus

Sunan kudus memberikan pandangan agar setiap hari Jum’at diadakan musyawarah para wali bersama sultan kerajaan Islam Demak di masjid Agung Demak. Tujuannya untuk mengambil berbagai kebijakan terhadap permasalahan yang muncul dalam upaya menggelorakan dakwah Islam dan Jihad fisabilillah.

Setelah selesai shalat Jum’at, diadakan tabligh akbar untuk menyeru masyarakat agar semakin kuat dalam menjalankan ajaran Islam. Sebelum dimulai ceramah, diadakan pertunjukan dengan pengiring syair-syair islam. Tujuannya untuk mengumpulkan pengunjung dari masyarakat sekitar agar mereka datang menghadiri dalam jumlah yang besar.

Baca Juga : Wali Songo Tonggak Kejayaan Dakwah Islam di Jawa

Sunan Kudus adalah seorang ulama yang besar jasanya dalam memperhatikan keagungan kerajaan Islam demak. Beliau hendak menjadikan kerajaan Islam Demak benar-benar menjadi kubu pertahanan Islam pusaka Nabi Muhammad Saw guna mendidik orang jawa memeluk Islam yang sejati.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 157 Rubrik Jelajah

Penulis : Anwar

Editor : Miqdad