Generasi Rabbani, Kebutuhan Ummat Zaman Now

Generasi Rabbani
Generasi Rabbani
Generasi Rabbani
Generasi Rabbani

An-Najah.net – Akhir-akhir ini, banyak pemikiran yang aneh-aneh berkembang di tengah masyarakat Islam. Gerakan-gerakan sesat juga berkembang biak di tengah muslimin, ibarat cendawan di musim hujan.

Mulai dari menolak syariat Islam, seperti jenggot, cadar, poligami, negarai Islam, jihad bahkan ada yang merasa dirinya terbebas dari syari’at Islam. Karena telah menggapai derajat al-Yaqin.

Misalnya Mahmud Suyuti, dosen Universitas Islam Makassar, dalam beberapa tulisannya di Tribun Timur, menyatakan bahwa “Jenggot Bukan Sunnah.” dan “Cadar Bukan Pakaian Muslimah.” Tulisan ini menuai protes besar-besaran dari umat Islam Makassar.

Ada juga meyakini semua agama sama; antara Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan Islam tidak ada bedanya. Semuanya sama-sama menuju Allah SWT, dan kelak akan masuk surga. Bahkan ada seorang wanita berjilbab yang menghalalkan Gay dan Lesbi. Ini adalah buah dari liberalisme yang telah tersebar di perguruan-perguruan tinggi Islam di tanah air.

Quraisy Shihab, misalnya, dalam beberapa sesi dialog dan kajiannya yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV swasta menyatakan, bahwa jilbab itu tidak wajib, dan nabi Muhammad SAW tidak dijamin masuk surga.

Dalam bidang akhlak, lebih memprihatinkan lagi. Perzinaan, pembunuhan, perselingkuhan, dan tindakan asusila lainnya.

Kebutuhan Ummat kepada Ulama Rabbani

Salah satu factor terjadinya fitnah ini adalah jauhnya mereka dari ilmu yang benar, dan langkanya ulama-ulama yang siap sedia membimbing mereka, menuju ridho Allah SWT. Sebab ulama, ibarat bintang petunjuk arah di langit. Jika mereka hilang, umat mengalami kebingungan arah, sehingga mereka tersesat dari jalan Allah SWT.

“Ulama itu,” kata imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, “kedudukan mereka di bumi, seperti kedudukan bintang di langit. Lewat mereka, orang-orang yang bingung dalam kegelapan, mendapat petunjuk. Kebutuhan manusia kepada para ulama (robbani), lebih besar dari kebutuhannya kepada makanan dan minuman.” (al-I’lam, 1/9)

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits tentang bencana hilangnya ulama di tengah komunitas muslim. Rasulullah SAW bersabda;

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia secara langsung, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika Dia tidak menyisakan seorang ulama, orang-orang mengangkat para pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, akibatnya mereka sesat dan menyesatkan.”

Inilah yang menjadikan kebutuhan terhadap ulama robbani menjadi sangat urgen. Hadirnya mereka di tengah umat, menjadi penerang bagi kehidupan mereka. Menginspirasi kebaikan dan kesholehan untuk umat.

Maka wajar jika Allah SWT, lewat lisan rasulNya, menitahkan pengikut para nabi, untuk menjadi rabbaniyun;

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Qs. 3:79)

Penulis : Akram Syahid

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 108 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar