Gunakan Istilah Udhiyah!‎

Udhiyah
Udhiyah

An-Najah.net – Tidak tepat jika Udhiyah dimaknai dengan Kurban. Agama Islam sungguh agama yang sempurna dan rahmat bagi seluruh alam. Di dalam syariat Islam dijumpai banyak istilah syari yang bahasa aslinya Arab. Pemaknaan terhadap istilah syari selalu merujuk kepada keterangan yang disampaikan oleh Allah Ta’ala atau oleh Rasulullah Saw.

Banyak kita jumpai istilah Syari yang ternyata jika dialih-bahasakan ke dalam Bahasa Indonesia ia akan kehilangan kesempurnaan makna sebagaimana yang diinginkan syariat, atau bahkan memiliki makna yang jelas berbeda.

Oleh karenanya, penting bagi setiap muslim di Indonesia untuk serius memerhatikan persoalan istilah-istilah khusus dalam syariat Islam. Agar tidak keliru dalam memaknai dan memahami setiap ajaran yang ada dalam syariat Islam. Karena belum tentu pemaknaannya senada dengan yang diinginkan syariat.

Istilah  Kurban

Jika kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kita tidak akan menemui istilah Qurban, dengan huruf ‘Q’ di awal kata. Dalam tulisan formal Indonesia, tentu kata Qurban tidak bisa dipakai. Untuk istilah yang berhubungan dengan itu, hanya ditemui istilah Kurban, dengan huruf ‘K’ di awal kata.

Kurban dalam KBBI didefinisikan sebagai, “Persembahan kepada Tuhan (seperti biri-biri, sapi, unta yang disembelih pada hari Lebaran Haji).” (lihat: https://kbbi.web.id/kurban)

Namu, Istilah kurban ini juga diberlakukan di agama-agama selain Islam. Dalam teologi (kepercayaan ketuhanan) Kristen, kurban adalah Korban Todah (Upacara Ungkapan Syukur), yang perayaan utamanya adalah Hari Paskah sesuai Hukum Musa. (lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Kurban_(Kristen))

Mereka juga menyakini peristiwa penyaliban yesus sebagai kurban dirinya pada Tuhan. Kematian Yesus di kayu salib Golgota (bukit di dekat Yarussalem, Israel) adalah persembahan kurban suci dan sangat erat hubungannya dengan dosa dan kesalahan manusia secara turun temurun. Yesus mati disalib sebagai Kristus (penyelamat) adalah bertujuan mengangkat penderitaan dosa manusia. (Dieter Becker, Pedomon bogmanka (Jakarta: Gunung Mulia, 1996), hal. 159).

Jangan Salah Istilah

Istilah kurban dalam Bahasa Indonesia memiliki kemiripan bunyi dengan istilah Qurban dalam Bahasa arab. Berangkat dari sini mulai terjadi ada pengkaburan makna antara istilah Bahasa Indonesia dengan istilah Bahasa Arab.

Karena, kurban secara terminologi (istilah syar’i) adalah sesuatu yang dipersembahkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dalam bentuk apapun. Baik itu berbentuk hewan atau bukan hewan. Baik dengan cara disembelih atau selain disembelih.

Sedangkan binatang ternak (kambing, domba, sapi, unta) yang disembelih pada hari Idul Adha dan beberapa hari Tasyriq setelahnya, dalam syariat Islam memiliki istilah tersendiri yaitu Udhiyah (الأضحية), bukan dengan istilah Qurban.

Ringkasnya, perngertian Udhiyah adalah, sembelihan (hewan ternak) yang disembelih pada  hari nahr (Tanggal 9-12 Dzulhijjah) guna mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan persyaratan tertentu. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, cet II, Jilid 5, hal. 74, versi Syamila)

Jadi, istilah Udhiyah adalah istilah syari yang tidak memiliki padanan (bandingan) kata dalam Bahasa Indonesia. Maka, tidak tepat jika Udhiyah dimaknai dengan Kurban. Karena istilah Kurban lebih umum dari pada istilah Udhiyah. Dan kita mengetahui orang kafir juga menggunakan istilah kurban dalam ajaran mereka. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis            : Ibnu Jihad

Editor              : Ibnu Alatas