Haji Perempuan Tanpa Mahram

Assalamu’alaikumwaRahmatullahiwaBarakatuh.

Ustadz, Alhamdulillah saya telah melaksanakan ibadah haji dan tak lama kemudian Allah menambah rezeki, saya dimampukan menikah. Saya sangat berkeinginan untuk memberangkatkan istri saya melaksanakan ibadah haji. Berhubung saya sudah melaksanakan ibadah haji dan dana yang ada hanya cukup untuk membiayai keberangkatan satu orang, bolehkah saya memberangkatkan istri yang tentunya tanpa keberadaan saya sebagai mahramnya. Saya menanyakannya sehubungan dengan sudah adanya amir safar dalam setiap rombongan haji? (Khairul—Samarinda)

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه إلى يوم القيامة

Haji merupakan salah satu rukun Islam. Allah menjadikannya sebagai rukun atau pilar tentu karena ibadah haji memuat banyak manfaat dan hikmah bagi keislaman dan kehidupan setiap muslim.

Sebagaimana ibadah yang lain, ada syarat wajib haji yang apabila tidak terpenuhi, seseorang tidak wajib menunaikan ibadah tersebut. Syarat-syarat wajib haji adalah muslim, berakal, balig, merdeka, dan mampu; yakni menunaikan dan membiayainya. Jika yang menunaikannya perempuan ada tambahan syarat, yakni ada mahram yang menyertainya.

Hanya, para ulama berbeda pendapat mengenai syarat mahram ini. Para ulama madzhab Hanafi dan Hambali berpendapat, ia menjadi syarat. Dasarnya adalah hadits-hadits Nabi yang melarang perempuan bepergian tanpa mahram. Hanya, Imam Ahmad memerinci. Apabila yang berangkat adalah perempuan muda, ia harus bersama mahram.

Para ulama madzhabSyafi’i tidak mensyaratkannya. Mereka membolehkan seorang perempuan berangkat haji meskipun tanpa mahram yang menyertai dengan catatan, ia bersama rombongan yang di dalam rombongan itu ada banyak perempuan. Pijakan lainnya, menurut mereka ini adalah safar wajib (berarti hanya berlaku untuk haji pertama; tidak berlaku untuk haji kedua, umrah, dan perjalanan lainnya). Safar wajib tidak mensyaratkan adanya mahram seperti seorang perempuan yang semula ditawan oleh orang-orang kafir, lalu berhasil melarikan diri, ia tidak perlu mencari mahram yang akan menemaninya dalam pelariannya.

Para ulama madzhab Maliki berpendapat, jika seorang perempuan memiliki mahram, ia tidak boleh berangkat haji tanpa mahram. Namun jika mahramnya tidak mampu untuk berangkat, ia boleh berangkat bersama rombongan yang di dalamnya ada banyak perempuan.

Dari perbedaan pendapat di atas, tidak mengapa jika kita mengambil pendapat madzhabSyafi’i atau Maliki. Masyarakat kita kebanyakan bermadzhabSyafi’i. Walaupun jika memilih madzhab Hanafi dan Hambali sehingga Bapak perlu menabung agar kelak dapat berangkat bersama istri, itu lebih baik. Wallahua’lam. (K.H. Imtihan Syafi’i)

Diambil dari majalah Islam An-Najah Edisi 133, Desember 2016, Rubrik konsultasi Islami.

Editor: Sahlan Ahmad