Hak dan Kewajiban Pemimpin Dalam Islam

Ketaatan kepada Pemimpin
Ilustrasi, Ketaatan kepada Pemimpin
Ilustrasi, Ketaatan kepada Pemimpin

An-Najah.net – Sebenarnya kewajiban pemimpin atau pemerintahan Islam telah dirangkum dalam tujuan pokok kepemimpinan dalam Islam. (Tema utama pertama) Lebih jelasnya silahkan dibaca, Tugas Utama Pemimpin Dalam Islam

Adapun hak pemimpin yang harus dipenuhi oleh anggota jama’ah atau masyarakat banyak sekali. Salah satunya yaitu wajib taat kepada pemimpin selama dalam masalah kebaikan.

Ketaatan Dalam Makruf, Bukan Kemaksiatan

Hanya saja, ketaatan kepada imam bukan mutlak. Tetapi ada kaidah-kaidah yang mengikat. Yaitu; selama mereka muslim dan selama dalam perkara-perkara yang makruf (baik). Seorang imam yang adil tidak boleh ditaati secara mutlak, namun ia hanya ditaati dalam perkara-perkara yang baik.

Allah SWT berfirman

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. An-Nisa: 59)

Ibnu Hajar al-Atsqolani RHM berkata, “Allah SWT mengulangi penggunaan lafadz “Athi’ur Rasul” (taatilah rasul) dalam ayat ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah SAW adalah perkara yang mutlak. Sedangkan di depan kata “Ulil Amri” tidak ada pengulangan kata “Athi’uu” (taatilah) ini menunjukkan bahwa tidak selamanya ketaatan kepada ulil Amri sebuah harus atau mutlak. Bahkan ada alasan yang mewajibkan untuk tidak taat.” (Fathul Baari, 13/112)

Ibnu Taimiyah RHM berkata, “Ahlu Sunnah tidak menaati para penguasa secara mutlak. Namun ketaatan kepada mereka, selama dalam kerangka ketaatan kepada Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat  an-Nisa’: 59 di atas.” (Minhaj Sunnah, 2/76)

Rasulullah SAW bersabda,

“Wajib bagi siapapun untuk mendengar dan menaati (penguasa) baik dalam perkara-perkara yang disukai maupun yang tidak dia sukai. Kecuali dalam kemaksiatan, maka haram mendengar dan menaatinya (penguasa).” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Ibnu Qayim al-Jauziyah RHM berkata, “Hadits ini menjadi dalil bahwa siapapun yang menaati penguasa dalam perkara-perkara kemaksiatan, maka ia adalah pelaku kemaksiatan. Perintah penguasa, bukan menjadi alasan untuk mendapat ampunan dari Allah. Justru ia dicatat sebagai pelaku maksiat dan berdosa.” (Syarh Sunan –Aunul Ma’bud- Abu Dawud, 7/290)

Di lain hadits Rasulullah SAW bersabda

“Dengarkan dan taatilah walaupun yang memerintahkan kalian seorang budak habsyi, dimana kepalanya seperti buah anggur (hitam). Yaitu selama ia menegakkan kitabullah (hukum Allah).” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)

Hadits ini mengikat ketaatan kepada pemimpin yaitu selama ia menegakkan hukum Allah SWT. Jika tidak demikian, maka tidak ada kewajiban taat bagi rakyat kepadanya. Karena ia telah menyalahi fungsi kepemimpinan.

Sahabat Ubadah bin Shamit meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Kelak akan muncul di tengah kalian penguasa-penguasa sepeninggalku. Ia menawarkan kepada kalian sesuatu yang kalian ingkari, dan ia mengingkari sesuatu yang kalian senangi (kebaikan). Siapa diantara kalian menemui keadaan ini, maka janganlah kalian menaati dalam kemaksiatan kepada Allah SWT.” (HR. Ahmad dan Hakim –shahih-)

Sumber : Majalah An Najah Edisi 103 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar