Haram Memilih Pemimpin Kafir

Ilustrasi, Halal dan haram memilih pemimpin
Ilustrasi, Halal dan haram memilih pemimpin
Ilustrasi, Halal dan haram memilih pemimpin

An-Najah.net – Di antara kaidah yang disepakati oleh kaum muslimin adalah umat Islam diharamkan mengangkat pemimpin kafir, dan juga haram menaati penguasa kafir. Dikisahkan suatu ketika gubernur Umar bin Khattab, yaitu sahabat Abu Musa Al-Asy’ari bercerita kepada Umar, “Wahai amirul mukminin, saya memiliki sekretaris beragama Nasrani.” Umar RA menjawab, “Celaka kamu, tidakkah kamu merenungi firman Allah SWT:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Ma’idah: 51)

Kenapa kamu tidak mengambil orang-orang muslim?” Maka sahabat Rasulullah SAW tersebut bersabda, “Wahai Amirul Mukminin saya hanya memanfaatkan skillnya. Baginya agamanya.”

Umar bin Khattab, “Sungguh saya tidak akan memuliakan orang yang telah direndahkan oleh Allah SWT dan tidak menghormati manusia yang telah dihinakan oleh Allah SWT. Serta tidak akan mendekat kepada orang yang telah Allah jauhkan dari rahmat-Nya.” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya.

Spirit Al Maidah 51

Menafsirkan ayat 51 surat al-Maidah di atas, Imam Abu Ja’far ath-Thobari RHM menjelaskan, “Allah SWT melarang umat Islam mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dan sekutu, memberikan mereka loyalitas kepemimpinan atau pertemanan. Siapa yang melanggar, maka Allah SWT dan Rasul-Nya berlepas diri dari mereka. Siapa yang menjadikan mereka sebagai penolong, meninggalkan orang-orang beriman, berarti dia adalah bagian dari mereka, bagian dari agama mereka.” (Jami’ul Bayan, 10/400)

Pernah juga Umar RA menulis surat kepada Abu Hurairah RA. Di antara isi suratnya, “Jangan pernah meminta pertolongan dalam mengurusi muslimin dari orang-orang musyrik. Jagalah urusan umat Islam lewat dirimu sendiri. Karena engkau adalah salah satu dari mereka.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1/212)

Allah SWT berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 41)

Imam al-Qodhi bin ‘Iyadh berkata, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum muslimin dengan jalan syar’ie. Jika kenyataannya tidak seperti ini, maka pasti dengan jalan yang menyelisihi syar’ie.” (Ahkamul Qur’an, 1/641)

Keharaman memberikan loyalitas kepemimpinan dan pertemanan kepada orang-orang kafir telah ditegaskan oleh dalam banyak ayat.

Misalnya firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Qs. Ali Imran: 118)

Imam Ath-Thobary menafsirkan ayat ini, “Lewat ayat ini, Allah SWT melarang orang-orang mukminin mengambil orang-orang kafir seperti Yahudi, pengikut hawa nafsu, sebagai teman sejawat, dan sahabat karib yang kelak mereka saling tukar pendapat, dan saling menyandarkan urusan antar mereka.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 4/179)

Bahkan dalam banyak ayat Allah SWT tidak sekedar mengharamkan memberikan loyalitas kepada orang kafir atau murtad, namun juga melarang memberikan loyalitas pertemanan dan kepemimpinan kepada orang yang condong kepada kekufuran, atau jika memimpin akan melanggengkan kekuasaan dan hegemoni orang kafir atas muslimin. Walau dia masih muslim fasik. Bukan kafir, ia tetap haram diberi loyalitas kepemimpinan.

Allah SWT berfirman (artinya), “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Qs. At-Taubah:23)

Selain itu, orang-orang kafir mustahil melaksanakan maqashidul imamah –tujuan prinsip sebuah pemerintahan Islam- yaitu iqomatuddin (menegakkan Islam) dan siyasatu ad-Dunya bihi (mengatur pemerintahan dengan syari’at Islam). Sedangkan pemimpin yang tidak bisa menerapkan tujuan imamah ini telah batal keimamahannya, harus diganti dengan pemimpin lainnya. Walau ia seorang muslim, bahkan jika pelengserannya hukumnya wajib, walau dengan senjata. Tentunya syarat, maslahah dan mafsadah harus menjadi panduan dalam menggantikannya. (silahkan lihat tema utama An-Najah edisi 102).

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 103 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar