Haram Menjadikan Orang Kafir Menjadi Pemimpin

Kursi Kekuasaan
Kursi Kekuasaan

An-Najah.net –

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ  وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ  إِنَّ اللَّـهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51)

Isu tentang kepemimpinan Islam selalu hangat dalam perbincangan. Munculnya para walikota, gubernur dan juga para pemimpin yang kafir menjadikan pembahasan ayat ini sangat penting bagi ummat Islam. Meski semua pilihan demokrasi itu pasti akan menghasilkan produk yang rusak, tetapi bagi yang mengambil ijtihad dengan kaidah “akhoffu dhororoin” memilih dua kemadharatan yang lebih ringan menjadikan ayat ini disamping ayat-ayat lainnya sebagai senjata untuk memilih pemimpin yang penting beragama Islam.

Baca Juga : Permusuhan Abadi Antara Muslim dan Kafir

Ada yang mengatakan bahwa larangan pada ayat ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengambil teman setia dengan mengadakan aliansi atau perjanjian persekutuan dengan meninggalkan orang yang beriman. Surat Al-Maidah: 51 tidak ada kaitannya dengan masalah kepemimpinan. Ucapan-ucapan tersebut muncul karena kejahilan seseorang terhadap tafsir yang benar tentang makna “auliya”. Atau karena memang syahwat mereka yang rusak sehingga membantah ayat ini dan ditafsirkan sesuai dengan kehendaknya.

Bahkan ada seorang ketua ormas Islam terbesar di Indonesia yang mengambil perkataan Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Risaalah Al-Hisbah;

حَاكِمٌ كَاِفرٌ عَادِلٌ خَيْرٌ عِنْدَ اللهِ مِنْ حَاكِمٍ مُسْلِمٍ ظَالِم

Pemimpin kafir yang berlaku adil lebih baik disisi Allah ketimbang pemimpin muslim yang dzalim“.

Pernyataan beliau di dalam risalah Al-Hisbah adalah penjelasan tentang pentingnya keadilan serta bahaya kedzaliman terhadap eksistensi sebuah bangsa. Karena dalam urusan dunia Allah tidak pilih kasih. Dia memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik kepada orang mukmin ataupun orang kafir bila ia telah melakukan ikhtiar. Dan sama sekali tidak ada indikasi bahwa Syaikhul Islam merestui kepemimpinan orang kafir sekalipun dia adil. Karena hal ini merupakan masalah pokok yang sudah difahami dalam Islam, di mana agama ini secara tegas menolak kepemimpinan orang kafir terhadap orang Islam. Dan Syaikhul Islam merupakan ulama yang dikenal tegas dalam masalah ini. Dari sinilah penting untuk mengkaji masalah kepemimpinan ini, agar jelas jalan orang orang yang rusak pemikirannya.

Baca Juga : Haram Memilih Pemimpin Kafir

Tafsir

Makna auliya (أَوْلِيَاءَ) adalah walijah (وَلِيجةُ) yang maknanya, “orang kepercayaan, yang khusus dan dekat” (lihat Lisaanul ‘Arab). Auliya dalam bentuk jamak dari wali (ولي) yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305).

Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baihaqi, yang bersumber dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwa ‘Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik Madinah) dan ‘Ubadah bin ash-Shamit (salah seorang tokoh Islam dari Bani ‘Auf bin Khazraj) terikat oleh suatu perjanjian untuk saling membela dengan Yahudi Bani Qainuqa’. Ketika Bani Qainuqa’ memerangi Rasulullah SAW. ‘Abdullah bin Ubay tidak melibatkan diri. Sedangkan ‘Ubadah bin ash-Shamit berangkat menghadap Rasulullah SAW. untuk membersihkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari ikatannya dengan Bani Qainuqa’ itu, serta menggabungkan diri bersama Rasulullah dan menyatakan hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka turunlah ayat ini (QS. Al-Maidah: 51).

Baca Juga : Adab Terhadap Orang Tua Yang Kafir

Imam Ibnu Katsir juga menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia  berkata, ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’

Abu Musa menjawab, ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’.

Umar bertanya, ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’

Abu Musa menjawab, ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’.

Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata, ‘pecat dia!’

Umar lalu membacakan ayat, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Dari dua riwayat ini maka dapat disimpulkan bahwa haram hukumnya untuk menjadikan sekutu bagi orang-orang kafir dan haram untuk menjadikan orang kafir sebagai orang kepercayaan serta menduduki kepemimpinan strategis yang membawahi orang-orang yang beriman. Logika orang yang mengatakan bahwa larangan tersebut hanya untuk persekutuan, maka sudah terbantahkan dengan penjelasan Imam Ibnu katsir di atas.

Bahkan Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam ayat ini: “Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada yahudi dan nasrani Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Baca Juga : Koalisi dengan Amerika, Loyalitas Terhadap Kekafiran

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin. Cukuplah akhlak mereka yang rusak itu dibuktikan dengan kekufuran mereka pada Allah dan Rasulnya SAW. Maka jika pada Allah saja mereka dustai, bagaminakah dengan amanah kepemimpinan? pasti akan lebih mereka khianati.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 132 Rubrik Tafsir

Penulis : Amru

Editor : Anwar