Haruskah Saya Mengkafirkan, Untuk Menjaga Agamaku?

Oleh: Syaikh DR. Iyyadh al-Qunaibi

Syaikh DR. Iyyadh al-Qunaibi
Syaikh DR. Iyyadh al-Qunaibi

An-Najah.net- Sebagian anak muda mengira, jika mereka tidak mengkafirkan seseorang tertentu atau kelompok tertentu maka agamanya akan berkurang atau telah jatuh dalam kekufuran. Hal ini membawa dampak psikologis. Ia pun bergegas mengkafirkan orang yang masih diragukan, dalam rangka “demi menjaga agamanya.”

Jelas ini adalah kebodohan yang sangat parah. Sebab:

Pertama: Orang muslim awam dituntut untuk mengkafirkan thaghut secara umum (mujmal), ia juga dituntut untuk mengetahui perkara-perkara kufur, sehingga ia bisa menjauhinya. Adapun mengkafirkan seseorang secara personal (ta’yin), maka ini tidak boleh dilakukan kecuali jika: terpenuhi syarat, dan hilangnya (intifa’) mawani’ –penghalang-penghalang kekafiran-. Dan ini kewenangan ulama.

Adapun kaedah, (من لم يكفر الكافر فهو كافر) “Siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka ia kafir.” Yang dimaksud adalah orang kafir asli, yang belum masuk Islam sama sekali. Jika dia muslim, maka kaedah yang dipakai oleh para ulama, berdasarkan kompromi (jam’) sekian dalil, adalah, (من ثبت إسلامه بيقين فإنه لا يزول عنه إلا بيقين) “Siapa yang telah ditetapkan keislamannya secara yakin (pasti), maka keislamannya tidak akan hilang darinya kecuali dengan yakin (pasti) juga.”

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah RHM berkata, “Siapa yang telah ditetapkan keislamannya secara yakin (pasti), maka keislamannya tidak akan hilang darinya berdasarkan keraguan. Bahkan keislamannya tetap ada pada dirinya hingga ditegakkan hujjah, dan dihilangkan syubhat pada dirinya.” (Majmu’ Fatawa, 12/501)

Jika seorang muslim telah megkafirkan thaghut secara global, berlepas diri dari perbuatan-perbuatannya yang kufur, maka telah melaksanakan kewajibannya. Dan tidak masalah baginya jika ia tidak mengkafirkan si fulan dan si fulan.

Kedua: Adapun yang melakukan pengkafiran ihtiyathan (demi menjaga agamanya). Maka ia telah terjatuh dalam sesuatu yang ia hindari! Tidakkah Anda melihat Rasulullah SAW,

مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ: كَافِرٌ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Siapa yang mengatakan kepada saudaranya, ‘Wahai kafir,” Maka kekafiran itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Ahmad)[1]

Karena itu, wahai saudaraku, selama anda tidak memiliki tanggung jawab untuk mengkafirkan seseorang, sehingga anda tidak mengkafirkan, maka tidak akan membahayakan atau mengurangi iman anda.

Justru faktor apa yang mendorong anda mengkafirkan seseorang sehingga anda mempertaruhkan agama anda sendiri dan membuat anda mendapat ancaman yang keras?

Lawanlah kemungkaran, tapi tetap hindari cara-cara dan praktik yang batil. Bahkan, nasehatilah orang untuk menjauhi hal tersebut jika anda memiliki ilmu yang cukup memadai.

Tentang memvonis kafir orang secara spesifik membutuhkan ilmu yang lebih dalam daripada ilmu yang membuat anda mengetahui tentang perbuatan-perbuatan haram atau hal-hal yang menyebabkan orang musyrik. Karena itu, sadarilah di kapabilitas Anda dan terimalah kebenaran.

Catatan:

  1. Atikel ini ditulis untuk mengungkap fenomena yang terjadi. Adanya sekelompok pemuda yang belum memiliki kadar keilmuan mumpuni yang mengkafirkan orang dan jamaah Islam tertentu atas aksi dan rilis yang dikeluarkannya. Namun, tidak berarti mengkafirkannya, sebagai sebuah kehati-hatian.
  2. Di sana ada problem besar, yaitu vonis kafir terhadap seseorang atas perbuatan yang sebenarnya bukan praktik kekafiran. Bahkan, kadang tidak termasuk dosa. Namun, ini bukan tema pembahasan kali ini.
  3. Dalam koreksi ini terdapat nasehat dari Syaikh Athiyatullah Al-Libi Rahimahullah.*

 

Penerjemah: Ali & Abu Raihan

Editor: Akrom Syahid Lc

[1] Dalam hadits lain Rasulullah SAW أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا ““Siapa yang mengatakan kepada saudaranya, ‘Wahai kafir,” Maka kekafiran itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” –HR. Bukhari-