Browse By

Hidup dan Perjuangan HOS Cokroaminoto

HOS Cokroaminoto, Raja tanpa mahkota

HOS Cokroaminoto, Raja tanpa mahkota

An-Najah.net – Siapa yang tidak kenal dengan pria bernama lengkap Raden Hadji Oemar Said (HOS)  Tjokroaminoto. Cokroaminoto, salah satu tokoh Islam yang dikenal sebagai seorang raja tanpa mahkota. Seorang yang cerdas, dan tetap bersemangat dalam melawan penjajahan.

Pemimpin Syarikat Islam (SI) ini menyadari bahwa umat Islam yang tertindas, diubah oleh penjajah menjadi seperti tertidur lelap. Tidak lagi menyadari bahwa dirinya memiliki tanah air, bangsa, dan agama yang terjajah.

Kondisi ini diperparah dengan mereka pasrah tanpa minat untuk melepaskan dirinya dari penindasan yang tiada melelahkan gairah hidupnya. Umat Islam sebagai mayoritas, yang sedang kehilangan seorang pemimpin yang berani membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa mereka sedang tertindas dan terjajah.

Konsep Cokroaminoto,  Lima-K

Dengan mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW, Cokroaminoto berjuang membangkitkan kesadaran umat Islam. Bangkit dengan Al Qur’an dan sunnah. Melalui konsep Lima-K dibangunlah kesadaran umat Islam yang sedang terlena dan lupa akan martabat dirinya, agar bangkit menjadi bangsa yang merdeka:

Pertama, Kemauan.

Seperti yang diingatkan oleh Rasulullah SAW, bahwa dalam diri manusia terdapat segumpal daging. Bila rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Sebaliknya, bila baik maka baiklah seluruh kerja tubuhnya. Apa itu ? Qolbu, sumber gerak motivasi manusia.

Dari pengertian tersebut, Cokroaminoto membangkitkan terlebih dahulu kemauan umat Islam. Apabila umat Islam telah bangkit kemauannya maka umat Islam akan memiliki kekuatan yang tak terhingga.

Tidakkah menurut teori Carl von Clausewitz, ON War bahwa untuk dapat memenangkan perang, maka yang harus diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of the enemy’s will (penghancuran kemauan lawan). (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, hal 62)

Kedua, Kekuatan.

Tidaklah benar, suatu bangsa menjadi “terkalahkan” apabila wilayahnya sudah diduduki. Hal tersebut masih dapat direbut kembali wilayahnya, apabila yang terkalahkan masih mempunyai kemauan.

Oleh karena itu, Cokroaminoto memprioritaskan membangun kekuatan dari kemauan umat. Nusantara Indonesia boleh saja diduduki oleh penjajah, tetapi tidaklah berarti telah terkalahkan pula kemauan umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia.

Ketiga, kemenangan.

Apabila kemauan yang menumbuhkan kekuatan, dan kedua-duanya telah dijadikan landasan dasar gerak juang umat, maka dapat diperhitungkan hasilnya, In syaa Allah akan memperoleh kemenangan.

Keempat, Kekuasaan.

Apalah arti kemenangan, apabila tidak disertai tindak lanjut untuk siap berperan aktif sebagai pembuat kebijakan melalui kekuasaan yang diterima sebagai amanah Allah.

Oleh karena itu, menurut konsep Cokroaminoto bahwa tujuan membangkitkan kesadaran umat Islam adalah agar umat Islam siap dan mau menduduki kembali kekuasaan.

Umat Islam menjadi tertindas diakibatkan kehilangan 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Dilemahkan eksistensinya dengan cara para sultannya dipaksa untuk menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).

Para sultan hanya memiliki gelar sultan, namun tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan kehidupan istana, bersama kerabatnya, sultan terima gaji dari pemerintah kolonial Belanda.

Lalu bagaimana dan apa yang harus diperjuangkan umat Islam? Dalam kondisi tersebut, umat Islam harus dibangkitkan kesadarannya agar berani membangun kembali kekuasaan politik Islam yang pernah eksis di Nusantara Indonesia.

Konsep Haji Oemar Said Tjokroaminoto: “Tidak bisa manoesia mendjadi oetama jang sesoenggoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia mendjadi besar dan moelia dalam arti kata jang sebenarnya, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soeci dan oetama, kalau anda banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja.” Ungkapnya.

Ia menambahkan: “Keoetamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa terjapai karena “Tauhid” sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin “ Tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja”.

Oleh karena itu, apalah arti umat Islam sebagai mayoritas, apabila berjuang merebut kembali kemerdekaan, tetapi tidak ada kesiapan, kemauan, dan keberanian untuk menduduki kekuasaan. Pasti akan terjajah kembali.

Kelima, kemerdekaan.

Hanya dengan peran aktif dalam perjuangan umat Islam akan mendapatkan kekuasaan. Dengan begitu umat Islam akan mendapatkan kemerdekaan. Puncak dari kehidupan bernegara dan berbangsa yang berdaulat adalah melepaskan umat Islam dan bangsa Indonesia seluruhnya dari kemiskinan dan kebodohan serta menegakkan keadilan.

Reaksi Snouck Hurgronje

Di bawah kepemimpinan HOS Cokroaminoto Syarikat Islam berkembang pesat. Penasehat kolonial Belanda Snouck Hurgronje menulis dalam majalah “Indologen Blad” sebagai berikut:

“Suatu bangsa yang masih muda di negeri ini, sedang sadar dan insyaf. Lalu bergerak menempuh masa yang akan menciptakanya menjadi akil baligh, yang mulai memikirkan hal kehidupannya dan hal kedudukannya sebagai warga negara.” Ungkapnya.

Ia menambahkan “Awaslah kita, jika kita melengahkan arti gerakan itu oleh karena masih muda umurnya dan banyak cacat celanya atau jika kita alpa dengan memberikan penghargaan kepada gerakan itu.” (D.M.G Koch, Menuju Kemerdekaan hal ; 33, Yayasan Pembangunan Jakarta, 1951).

Demikianlah nasehat Snouck kepada pemerintah kolonial Belanda agar tetap hati-hati dan waspada atas kebangkitan syarikat Islam yang menggebu-gebu itu. Bahkan upaya pembusukan Organisasi SI terus dilakukan dengan memasukkan faham Komunisme ke dalam tubuh SI. Sehingga SI pecah menjadi SI kanan dan Kiri.

HOS Cokroaminoto kini telah tiada, tetapi narasi perjuangannya tetap ada. Prinsip perjuangan yang ia tanamkan adalah “semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu dan, sepandai-pandai siasat”.

Belajar dari sejarah perjuangan Cokroaminoto bisa diambil spirit kebangkitan umat. Strategi kebangkitan umat diawali memunculkan kemauan kemudian dilanjutkan dengan semangat jihad melawan kezaliman. Namun, perlu disadari bahwa jalan perjuangan ini tidaklah mulus, tetapi batu sandungan senantiasa menghadang. Akan tetapi, dengan keyakinan dan kesabaran yang tertanam dalam hati,  kemenangan akan diperoleh umat Islam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 143 Rubrik Jelajah

Penulis : Anwar

Editor : Ihsan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *