Browse By

Hikayat Perang Sabil, Bahan Bakar di Jihad Aceh

Perang Sabil

Perang Sabil

An-Najah.net – Aceh atau dikenal Serambi Mekah merupakan salah satu daerah istimewa di Indonesia.

Pasalnya, Aceh diperbolehkan menjalankan syariat Islam bagi warganya. Hak istimewa ini yang tidak dimiliki daerah lainnya.

Pemberian ini bukan tanpa landasan. Aceh memiliki latar belakang historis yang luar biasa.

Sejak abad ke-16 Aceh sudah menjadi kesultanan Islam yang independen. Memang di masa jayanya, Aceh dikenal sebagai negara Islam yang sangat berpengaruh di wilayah Ujung Sumatera.

Aceh terlibat pertikaian berdarah melawan penjajah kafir Portugis di Malaka. Kemudian, Aceh juga mengadakan perang yang panjang dengan penjajah Belanda (1873 M).

Jihad Aceh adalah perang terpanjang yang dilakukan melawan penjajah Belanda. Dalam perang tersebut, ratusan ribu orang jadi korban perang, ratusan Kampung dibakar oleh Belanda.

Bahkan, karena kesalnya Belanda pada rakyat Aceh, Belanda membakar pohon dan tanaman yang mereka lewati demi memutus pasokan logistik pasukan Aceh.

Namun, masyarakat Aceh terkenal dengan keberanian dan keuletannya dalam medan pertempuran.

Semangat berjuang rakyat Aceh melawan Belanda yang berlangsung selama 69 tahun (1873 sampai 1942 M) membuat banyak para ahli keheranan. Tidak ada daerah lain yang bisa bertahan begitu lama melawan Belanda.

Bahkan, sampai Belanda sudah angkat kaki, pergi meninggalkan Aceh api berlawanan belum juga padam, Hal inilah yang menarik perhatian banyak kalangan untuk menguak rahasia dibalik kesuksesan para pejuang Aceh melawan aneksasi Belanda.

Setelah dilakukan penelitian dan pencarian yang mendalam. Tertujulah semua mata pada sebuah naskah sastra berupa kumpulan syair yang pada masa lalu menjadi bacaan terlarang di era penjajahan Belanda. Naskah itu dikenal dengan “Hikayat Perang Sabil”.

Center Of Gravity

Orang Aceh sangat senang mendengarkan pembacaan hikayat. Pembacaan hikayat Perang Sabil dilakukan sebelum orang maju ke medan pertempuran.

Tradisi membaca hikayat sebelum orang terjun ke dalam peperangan adalah tradisi dalam kebudayaan Melayu.

Ketika perang melawan Belanda, masyarakat Aceh membawa hikayat Perang Sabil di Dayah-dayah (pesantren), di meunasah (tempat belajar/sekolah), dirumah, maupun di tempat lain sebelum pergi berperang.

Hikayat Perang Sabil sebagai media dakwah sanggup membangkitkan semangat perang. Jihad fisabilillah untuk melawan serdadu-serdadu penjajah Belanda.

Hikayat Perang Sabil dipandang oleh pimpinan tentara pemerintahan militer Hindia Belanda sebagai senjata yang sangat berbahaya, sehingga dilarang membaca, menyimpan dan mengedarkannya.

Sastra Bukan Sekedar Kata. Sastra adalah bagian dari kehidupan, sastra adalah ungkapan realitas kehidupan, sastra adalah gambaran harapan dan jutaan keinginan, sastra adalah penyemangat kehidupan.

Diantara sejarah nusantara yang melekat antara sastra dan semangat kehidupan adalah sejarah Aceh.

Salah satu yang istimewa dari Khazanah kesastraan Aceh ialah banyaknya sastra yang menggelorakan semangat jihad fisabilillah. Di antara karya sastra klasik Gelora semangat jihad fisabilillah adalah hikayat.

Hikayat Perang Sabil memegang peran penting. Iya adalah Center Of Gravity dalam jihad rakyat Aceh melawan penjajah Belanda.

Center Of Gravity adalah pusat dari seluruh kekuatan dan gerakan, yang segala sesuatu bergantung padanya. Iya juga merupakan titik di mana seluruh energi harus diarahkan.

Center Of Gravity juga merupakan sumber kekuatan yang memberikan kekuatan moral atau fisik, kebebasan untuk melakukan tindakan atau kemauan untuk melakukan aksi. (K. Subroto, Hikayat Perang Sabil, Syamina, hal; 5)

Hikayat Perang Sabil bukan karya sastra biasa. Tetapi ia adalah sebuah karya yang menggali intisari dari wahyu ilahi.

Karenanya keberadaannya akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Para ulama Aceh berhasil menyampaikan pesan-pesan dari Al-Qur’an dan hadis dalam karya yang dipahami oleh masyarakat Islam di Aceh saat itu.

Karena itu, tidak mengherankan jika akhirnya syair-syair jihad pun sampai bisa menjadi lagu pengantar tidur bagi anak-anak Aceh untuk menjadikan jihad sebagai jalan hidup mereka.

Faktor pendukung lainnya yang juga penting adalah peran ulama yang baik. Ulama yang baik dan murid-muridnya telah membuktikan diri sebagai teladan dalam melawan kezaliman dan ketidakadilan penjajah Belanda.

Terbukti wilayah Pidie yang merupakan basis dayah (Pesantren) menjadi wilayah terakhir yang bisa ditaklukkan Belanda.

Metode Pewarisan Ideologi

Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Pewarisan sebuah Ideologi merupakan suatu perkara yang penting. Hal ini supaya tidak terjadi keterputusan mata rantai perjuangan.

Sejarah di Aceh telah mengajarkan kepada kaum muslimin zaman ini. Salah satu metode untuk mewariskan ideologi kepada generasi muda melalui cerita, kisah atau hikayat.

Bahkan, dengan cerita tidak hanya anak-anak saja yang suka ternyata orang dewasa juga menyukainya. Metode kisah merupakan suatu metode yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan.

Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita yang pengaruhnya besar terhadap perasaan. Oleh karenanya dijadikan sebagai salah satu teknik metode pendidikan.

Sebagai orang tua yang menghendaki keturunannya menjadi anak-anak ideologis bukan sekedar biologis. Di mana mereka mampu menjadi pelanjut estafet mengemban amanah iqomatuddin.

Sudah Selayaknya mereka memberikan asupan kisah-kisah yang bisa menumbuhkan semangat juang pada anak-anaknya. Bukan, kisah-kisah yang berisi kesyirikan.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 121 Rubrik Jelajah

Penulis : Abu Khalid

Editor : Helmi Alfian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *