Hikmah dan Munafik di Belakang Ahok

Ahok selalu mengeluarkan kata-kata kotor. Munafik di belakangnya
Ahok, Penista Agama
Ahok selalu mengeluarkan kata-kata kotor. Munafik di belakangnya
Ahok, Penista Agama

An-Najah.net– Hikmah dan munafik di Belakang Ahok. Selalu ada hikmah di setiap takdir yang Allah SWT tentukan. Hikmah itu bisa saja ditangkap oleh seorang hamba, bisa juga tersingkap di kemudian hari. Tabir-tabir ini akan tersingkap bagi hamba-hamba-Nya yang meyakini takdir dan janji-janji Allah SWT.

Allah SWT menjelaskan;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 216)

Banyak hikmah yang bisa diambil oleh seorang muslim dari peristiwa Ahok. Diantaranya; Berbagai gejolak peristiwa seputar Ahok sang penista Islam dan munculnya berbagai dukungan dari barisan munafiqin di Indonesia adalah hadiah besar buat ummat Islam.

Momentum Ahok menjadi wasilah bagi umat Islam, untuk mengetahui orang-orang munafik. Musuh kebuyutan umat Islam. Para pemimpin yang berkhianat terhadap agama dan bangsa pun ditampakkan oleh Allah SWT.

Pada hakekatnya mereka menjadi musuh umat Islam, bersama dalam barisan orang-orang kafir untuk memusuhi Islam. Umat Islam juga, akhirnya sadar bahwa hanya saudara seiman yang bisa dipercaya.

Umat Islam Indonesia akhirnya meyakini, hanya ulama yang layak menyandang gelar ulil amri, yang berhak ditaati. Karena merekalah yang terdepan dalam membela Islam dan umat Islam. Sementara, mereka yang disebut Ulil Amri dari kalangan sekuler dan komunis, hanyalah munafikin yang memendam ketidaksukaan terhadap Islam.

Ucapan dan perbuatan mereka menjadi bukti bahwa mereka tidak senang terhadap perkembangan Islam dan kemenangan syariát Islam. Allah SWT berfirman

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka (munafikun) kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Qs. Muhammad: 30)

Adapun karakter munafik itu banyak. Namun karakter yang menonjol ada dua;

Pertama: Memberikan Loyalitas Kepada Orang Kafir. Allah SWT berfirman;

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Qs. An-Nisa’: 138-139)

Kedua: Menolak Penegakkan Syariát Islam. Mereka akan menyiapkan 1001 alasan untuk menolak penegakkan syariát Islam

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61)

“(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

 

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (Qs. An-Nisa’: 60-61)

Dan pada akhirnya kelak orang-orang munafik ini akan menyesal sejadi-jadinya atas kekalayan mereka dan sekutunya orang-orang kafir menghadang Islam. Persis seperti dikabarkan oleh Allah SWT dalam surat al-Maídah ayt 52.

(فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ)

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”(Qs.al-Maidah: 52)

Dan yang paling menggembirakan lagi adalah umat Islam mulai rindu kepada syariat Islam. Benih-benih kerinduan ini terus merebak dalam jiwa umat Islam Indonesia. Mereka pun yakin, hanya Islam yang bisa memberi kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan abadi. Bukan system lainnya. Sebagaimana dalam diri mereka tumbuh keyakinan, hanya muslim Indonesia yang betul-betul mencintai negara ini dan yang berhak memimpinnya.* (*Masúd Izzul Mujahid* -Pimpinan Redaksi Majalah Islam An-Najah //www.an-najah.net -)