Hikmah Dibalik Nama Surat Al Baqarah

Hikmah Al Qur'an
Hikmah Al Qur’an

An-Najah.net – Sebagian orang mungkin bertanya-tanya mengapa surat ini dinamakan surat Al Baqarah? Ada yang mengatakan demikian karena didalamnya memuat cerita tentang Al Baqarah (Sapi Betina). Padahal surat Al Baqarah tidak hanya menceritakan kisah ini, ada banyak kisah didalamnya.

Lalu mengapa kisah ini dipilih sebagai nama surat sedangkan kisah yang lainnya tidak? Kisah Sapi Betina merefleksikan kesalahan Bani Israil yang mendasar dan pokok. Kisah ini diambil sebagai nama surat agar kaum muslimin diberi amanah kepemimpinan dapat mengigatnya dan menghindari kesalahan serupa.

Mengelak Tugas Sebagai Pembuka Kejahatan

Kesalahan bani israil terlihat jelas pada ayat 67-71 :

  1. Dan (ingatlah) pada saat Nabi Musa berkata kepada kaumnya; “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi.” Mereka menjawab; “Apakah engkau menjadikan kami lelucon?”. Nabi Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadikanku salah seorang dari orang-orang yang bodoh.”.
  2. Mereka berkata:“Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami agar Ia memberikan penjelasan sapi yang bagaimana?. Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sesungguhnya sapi tersebut tidak berumur tua juga tidak muda tepatnya usia sedang yaitu usia diantara keduanya, maka segerahlah kalian kerjakan apa yang telah diperintahkan.”.
  3. Mereka kembali berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami agar Ia menjelaskan apa warna sapi tersebut?”. Nabi Musa menjawabnya: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sesungguhnya warna sapi itu berwarna kuning cemerlang, warnanya membuat senang bagi orang-orang yang melihatnya.”
  4. Mereka berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami agar Ia menjelaskan sapi tersebut, karena sesungguhnya sapi tersebut masih samar bagi kami. Dan sesunggungnya kami dengan kehendak Allah itu termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”.
  5. Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Ia berfirman bahwa sesungguhnya seekor sapi tersebut yaitu sapi yang tidak dihina sebagai pembajak tanah, tidak pula digunakan (Sebagai kendaraan) untuk mengairi tanaman, dan terbebas dari cacat pada diri sapi tersebut.”. Mereka berkata: “Sekarang engkau menjelaskan sesuatu yang jelas (benar)”, kemudian mereka menyembelih sapi yang dimaksud dan hampir mereka tidak menjalankannya.(Qs. Al Baqarah : 67 – 71)

Kisah Al Baqarah merefleksikan kesalahan bani israil, mulai dari pandangan materialisme, pembangkangan, ketidaktaatan kepada Allah dan para nabi,dan menyimpang dari manhaj yang benar. Apabila melaksanakan perintah Allah, mereka melakukan dengan terpaksa dan hampir tidak mau melakukannya.

Hikmah Kisah Sapi Betina

Dalam kisah sapi betina itu, ada seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil terbunuh. Tidak seorang pun mengetahui pelakunya sehingga terjadilah perselisihan diantara mereka. Lalu Allah menurunkan wahyu agar mereka menyembelih sapi betina dan mengambil sekerat daging untuk dipukulkan kepada si mayit. Allahpun menghidupkannya, dan mayit itu memberitahukan nama pembunuhnya.

Hikmah dari kisah itu adalah Allah meminta mereka melakukan hal itu karena mereka selalu berpandangan materialis. Ini juga untuk memperlihatkan bahwa Allah Swt, berkuasa atas segala sesuatu dan tidak semua urusan selalu berlaku sebagaimana biasa. Oleh karena itu, Allah menghidupkan manusia yang sudah meninggal dengan binatang yang sudah mati sehingga mayit itu pun berbicara.

Pada mulanya mereka enggan melaksanakan perintah Allah karena jerat materalisme yang telah membelenggu pikiran mereka dan tidak paham terhadap hikmah yang terkandung didalamnya.

Kisah sapi betina merupakan peringan keras agar kita tidak terjerumus ke lembah materialisme. Peringatan tegas agar kita tidak membantah dalam urusan agama Allah, dan tidak mengelak dalam melaksanakan syari’at Allah Swt. Ini juga merupakan penyadaran kita tidak mengerjakan syari’at Allah dengan terpaksa atau tidak suka.

Surat ini dinamai Al Baqarah untuk menunjukkan betapa berbahayanya perilaku-perilaku menentang terhadap syari’at-syari’at Allah Swt. Padahal sudah seharusnya ketika seorang yang beriman ketika diseru oleh Allah dan rasul-Nya mereka hanya mengatakan “Sami’naa Wa Atha’naa” kami mendengar dan kami taat. Ini merupakan wujud akan keislaman secara kaffah.

Penulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd

Editor : Abu Khalid