Hilangnya Etika Beda Pendapat, Menandakan Kedunguannya

Hilangnya etike beda pendapat, menandakan kedunguannya
Hilangnya etike beda pendapat, menandakan kedunguannya

An-Najah.net – Berlakulah bijak saat berpendapat. Dungu, kata sifat yang tidak pantas disebutkan karena identik dengan merendahkan dan meremehkan seseorang yang dimaksudkan, dan mohon maaf jika kami menulis kata dungu di artikel ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata ini sering dipakai sebagai cemoohan dan hinaan, yang bermakna merendahkan. Tapi, mohon pemaklumannya karena tulisan ini sedang menjelaskan ilmu syar’i yang berpatokan pada hadis Nabi Muhammad Saw.

Baca juga: Teladan Hebat dari Para Sahabat

Perbedaan pendapat suatu kemestian. Perbedaan pendapat pun ada dua, yaitu; pertama, perbedaan yang tidak boleh ditoleransi dan tidak boleh dibiarkan. Ini sebenarnya sebuah penyimpangan, yaitu perbedaan-perbedaan dalam perkara usul seperti rukun iman dan rukun Islam.

Kedua perbedaan yang boleh ditoleransi, yaitu dalam perkara-perkara furu’. Seperti; perbedaan bacaan Qunut ketika shalat subuh, jumlah rakaat shalat tarawih, zikir berjamaah, dan lain sebagainya.

Untuk jenis pertama, tidak ada ruang toleransi dan tidak ada ruang untuk berbeda pendapat. Jika ada yang berbeda pendapat, maka salah satunya pasti menyimpang. Contoh, jika ada yang berpendapat bahwa rukun iman ada lima, seperti pendapatnya Syiah.

Mereka mengatakan rukun Islam itu ada lima, yaitu; shalat, puasa, zakat, haji dan wilayah. Sedangkan rukun imannya, at-Tauhid, an-Naubuwwah, al-Imamah, al-Adlu, al-Ma’ad. Maka keyakinan tersebut merupakan sebuah penyimpangan bukan perbedaan yang ditolerir.

Baca juga: Waspadai, Syiah Ajarkan Nikah Mut’ah Lewat FTV

Sementara untuk jenis kedua harus ada legowo dan sabar antar umat Islam. Karena perbedaan seperti ini, telah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Baik masalah menjamak shalat karena bersafar, makan daging dabbah (biawak), dan lain semisalnya.

Jika kedua perkara ini salah dipahami; jenis pertama diberi toleransi, sementara jenis kedua tidak diberi toleransi, maka yang terjadi adalah penyimpangan dan menjamurnya kelompok-kelompok sesat.

Contohnya: ada beberapa orang yang menganggap bahwa Ahmadiyah hanya perbedaan pendapat, sementara cadar dianggap sebagai penyimpangan. Akhirnya, mereka memberikan toleransi terhadap kesesatan Ahmadiyah, dan tidak toleran terhadap perbedaan pendapat tentang cadar; antara wajib dan sunnah.

Sungguh bijak perkataan KH. Cholil Ridwan tatkala menjadi Ketua MUI, yang berkomentar, “Masalah khilafiyah antar NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan seterusnya, itu bukan masalah yang diprioritaskan. Namun, yang mendasar adalah bagaimana satu keluarga besar ini bisa membuka front bersama untuk melawan musuh-musuh Islam.” Dalam acara bedah buku, “Mendamaikan Ahlus Sunnah Di Nusantara” Jakarta, (09/03/13) Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas