Hizbullah, Selamat Tinggal Basyar

New York (an-najah.net) – Kekalahan demi kekalahan yang dialami tentara rezim Suriah mengakibatkan para muda yang bergabung dengannya mulai meninggalkannya, Kamis (30/4).

Gempuran hebat yang dilancarkan para pejuang di beberapa medan pertempuran sebulan terakhir membuat koalisi rezim tidak berkutik. Suatu kenyaataan yang menempatkan rezim dalam posisi yang rawan.

“Suatu keadaan yang buruk bagi Asad, tetapi itu belum mencapai titik didihnya,” unkap seorang pejabat senior AS menolak disebutkan namanya.

Surat kabar The New York Times melaporkan bahwa meningkatnya fenomena deserse di tubuh tentara rezim Suriah memaksa pemerintah untuk mengandalkan milisi Suriah dan milisi luar negeri, khususnya Hizbullah yang sekarang berlagak seperti pemimpin bagi milisi lainnya.

Masuknya Hizbullah ke Suriah dan perlakuan khusus yang diberikan rezim kepada mereka membuat milisi asli dan tentara negara marah dan merasa disisihkan.

Surat kabar bersangkutan juga mencatat adanya tanda-tanda ketegangan antara milisi Hizbullah dengan pasukan rezim, hal tersebut terjadi di seluruh wilayah.

Baru-baru ini rezim Suriah memecat dua dari empat kepala badan intelijen setelah pecahnya konflik besar di antara mereka, salah seorang darinya meninggal setelah dipukul oleh penjaga lainnya.

Kini, Hizbullah hadir bukan lagi untuk menyelamatkan Assad, seperti yang terjadi pada 2013. ketika mereka mengirim ratusan pejuang untuk menghancurkan mujahiddin di al-Qushairi, wilayah dekat perbatasan Lebanon.

“Para pejuang Hizbullah hanya akan memasuki wilayah Suriah jika di sana terdapat kepentingan pribadi,” kata para pejabat intelijen Amerika.

 

(Ahsan/an-najah).