Hoax dan Penguasa

Makar wali Allah ingin menchancurkan Islam
Ilustrasi

 

Waspadai Berita Hoax
Waspadai Berita Hoax

an-najah.net   —  Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai hoax lumayan menarik minat masyarakat. Terutama para netizen atau masyarakat dunia maya.

Sebelum kita berbicara apa itu hoax, bagaimana hoax bisa menggurita di dunia maya dan lain sebagainya. Ada baiknya kita memahami kaidah alami yang berkembang di tengah masyarakat. Apa itu?

Kaidah itu berbunyi, “Ucapan manusia adalah perilaku penguasa.” Kaidah itu merupakan terjemahan bebas dari kaidah “An-Naas ‘ala Diini Mulukihim”.

Mari kita simak apa yang dipaparkan oleh Ibnu Samak al-Gharnathi di dalam kitabnya Az-Zaharaatul Mantsuurah. Beliah menuturkan:

Ketika Hajjaj bin Yusuf berkuasa sebagai gubernur Kufah, dan ia adalah penguasa yang sadis lagi lalim. Yang diperbincangkan oleh masyarakat pada subuh hari hingga malamnya adalah siapa yang dieksekusi tadi malam, siapa yang disalib, siapa yang diculik dan lain sebagainya.

Zamanpun berubah, ketika al-Walid bin Abdul Malik berkuasa (86-97 H, khalifah ke-6 Daulah Umawiyah) dan ia adalah penguasa yang tergila-gila dengan arsitektur. Maka yang dibicarakan oleh masyarakat pada saat itu tidak keluar dari; jembatan mana yang paling bagus, bangunan yang mana yang paling indah, taman mana yang akan dikunjungi, dan lain sebagainya.

Ketika Sulaiman bin Abdul Malik berkuasa (tahun 97-99 H, khalifah ke-7 Daulah Umawiyah), masyarakat sibuk berbica mengenai makanan apa yang paling enak, resep masyakan baru, pengolahan daging yang lezad dan gurih dan sebagainya. Hal tersebut disebabkan karena Sulaiman bin Abdul Malik adalah pecinta kuliner.

Zaman berganti, tatkala Umar bin Abdul Aziz berkuasa (tahun 99-102 H, khalifah ke-7 Daulah Umawiyah), dan ia adalah penguasa yang zuhud, ahli ibadah, berkakwa, alim dan cinta akhirat. Yang dibicarakan oleh kaum muslimin pada saat itu adalah berapa juz Al-Qur’an yang telah kau hapal, kapan datang ayyamul bidh, berapa kali engkau berpuasa dalam sebulan, kenapa engkau tidak bangun malam dan lain sebagainya.

Mungkin sekelumit contoh bagai mana watak dan tabi’at penguasa dapat menular pada kebiasaan dan percakapan rakyatnya, bisa membuat kita lebih memahami kaidah tadi.

Kembali kepada hoax, jika berita hoax begitu sering muncul dan menjadi isu nasional, apakah mungkin ini menjadi gambaran watak penguasa kita. Ah sudah lah, biar hati yang berbicara. Saya tidak ingin tulisan ini menjadi alat bukti tuduhan makar.

Sahlan Ahmad