Hukum BPJS yang Dipaksakan (1/2)*

 

uploads--1--2013--12--10589-bpjs-400x300-ini-lho-cara-mendapatkan-layanan-kesehatanAn-Najah.net- Assalamu’alaikum. Saat ini saya butuh biaya yang tidak sedikit untuk biaya pengobatan anak saya. Bolehkan saya ikut program asuransi kesehatan BPJS. Dan seperti asuransi kesehatan pada umumnya, saya harus membayar premi setiap bulannya. Adakah pelanggaran syar’i jika saya ikut program tersebut. Terima kasih atas jawabannya. (Umi—Pekalongan)

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Berkenaan dengan musibah sakit yang menimpa seorang muslim, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berobat. Sebagian ulama berpendapat berobat adalah perbuatan yang disyariatkan, karena hal itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sedangkan menurut sebagian yang lain, meninggalkannya lebih baik. Yaitu apabila orang yang mendapatkan musibah dapat bersabar dan bertawakal kepada Allah dalam menghadapinya.

Mempertimbangkan adanya perbedaan pendapat di atas, bagi yang memilih disyariatkannya berobat mestilah berkomitmen untuk memastikan kehalalan dan kebolehan obat, cara dan sarana pengobatan; termasuk biaya pengobatan.

Dari informasi yang saya dapatkan, asuransi kesehatan BPJS adalah bentuk asuransi kesehatan konvensional yang masih mengandung unsur riba, gharar (ketidakjelasan, spekulasi) dan kezhaliman. Insya Allah pada kesempatan yang lain akan saya jelaskan letak riba, gharar, dan kezhaliman pada asuransi kesehatan BPJS dan asuransi konvensional yang lain. Jika salah satu dari ketiga perkara ini ada dalam suatu akad/transaksi, akibatnya transaksi tersebut menjadi haram. Di sini bukan hanya satu, tetapi tiga-tiganya ada. Maka dari itu, kita harus menghindarinya.

Adapun jika suatu saat nanti BPJS menjadi program wajib pemerintah, yang dikenakan kepada setiap warga negara, maka kita mesti menyadari bahwa itu adalah kezhaliman pemerintah kepada kita. Kita tidak boleh ridha. Jika tidak ikut mengakibatkan hukuman tertentu, maka jika hal itu bisa kita tanggung, itu adalah bentuk menerima konsekuensi berpegang kepada kebenaran. Jika konsekuensinya tak tertanggungkan, maka dengan terpaksa kita boleh mengikutinya. Dalam pada itu, kita harus meminimalisir mudharat, yakni memastikan tidak mengambil lebih dari yang sudah atau akan kita bayarkan. Wallahu A’lam.

*Makalah ini dinukil dari rubrik konsultasi Islam di Majalah An-Najah edisi 109. Rubrik ini diasuh oleh Ust. KH. Imtihan Asy-Syafi’iy -Direktur Ma’had Ali An-Nuur, Surakarta-. Tulisan ini bagian pertama dari dua tulisan