Hukum Donor Organ Tubuh

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Saya ingin bertanya bagaimana hukumnyamendonorkanorgan dalam tubuh kepada saudara atau orang lain, seperti ginjal, kornea mata dan yang lainnya. Terima kasih atas jawabannya. (Nuraini—Solo)

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Mendonorkan organ dalam tubuh seperti ginjal dan lain sebagainya kepada saudara atau orang lain, jika untuk melakukannya seseorang meminta imbalan, para ulama kontemporer sepakat tidak boleh. Para ulama tidak membolehkan memperdagangkan organ tubuh manusia. Sebab, memperdagangkannya bertentangan dengan pemuliaan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Juga, jika hal ini dibolehkan, orang-orang akan bersegera dan berlomba-lomba melakukannya saat mendapat sedikit kesulitan hidup. Dan ini berbahaya sekali.

Adapun jika seseorang mendonorkannya tanpa imbalan, hal itu diperbolehkan dengan beberapa syarat, sebagaimana dijelaskan dalam putusan muktamar al-Majma’ al-Fiqhiy yang diadakan pada tanggal 18 JumadalAkhirah 1408/ 6 Pebruari 1988.

Tidak boleh mendatangkan mudharat yang semisal. Pada kasus donor ginjal, harus dipastikan kedua ginjal calon pendonor benar-benar sehat sehingga ia dapat hidup dengan satu ginjal. Jika salah satu ginjalnya bermasalah, ia tidak boleh mendonorkanginjalnya yang sehat untuk orang lain, bahkan jika itu untuk saudara atau anak yang dicintainya. Dia tidak boleh mencelakai dirinya sendiri dalam rangka menyelamatkan orang lain.

Sedangkan pada kasus donor jantung, kornea mata, atau organ tubuh lain yang tanpanya seseorang tidak dapat hidup atau hidup dengan sangat susah, sebelum dipindahkan, pendonor harus dipastikan sudah meninggal dunia: nafasnya sudah berhenti, jantungnya sudah tidak berdenyut, dan otaknya sudah tidak berfungsi.

Para ulama berpegang pada prinsip, “Tidak boleh mendatang mudharat dan tidak boleh membalas kemudharatan dengan mudharat.” Juga, “Kemudharatan tidak boleh ditepis dengan cara mendatangkan mudharat yang semisal dengannya.”

Syarat berikutnya adalah penerima donor mestilah orang yang dilindungi darahnya dalam Islam: seorang muslim atau kafir dzimmi. Orang kafir yang tidak tinggal dan tunduk kepada aturan Darul Islam tidak boleh menjadi penerima donor. Wallahua’lam. (K.H. Imtihan Syafi’i)

Diambil dari majalah Islam An-Najah Edisi 133, Desember 2016, Rubrik konsultasi Islami.

Editor: Sahlan Ahmad