Hukum Istri Hamil Karena Zina

Ilustrasi, Wanita Hamil
Ilustrasi, Wanita Hamil

An-Najah.net – Sebuah kasus terjadi terkait dengan sepasang suami istri. Istri selingkuh sampai hamil, dan ia mengakui di hadapan suami bahwa anak di rahimnya adalah hasil zina dengan laki-laki lain. Suami juga bisa memastikan, karena dia tidak menggauli istrinya sebelum hamil itu. Ia sakit. Yang menjadi pertanyaan saya, haruskah suami menceraikan istri karena perzinaan yang dilakukannya dan kehamilannya. Jika keduanya sepakat untuk menyembunyikan, padahal sama-sama tahu, apa hukumnya? Tergolong dayyuts-kah si suami?  (Zakariah—Padang)

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Zina adalah dosa besar, apalagi jika dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah. Sanksi bagi pelakunya di dunia—apabila kaum muslimin memiliki pemerintahan yang menjalankan hukum Islam—apabila ia belum menikah adalah dicambuk 100 kali, sedangkan bila pelakunya sudah menikah, dirajam sampai mati. Allah berfirman,

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

“Pezina perempuan dan laki-laki, hendaklah kalian mencambuk masing-masing 100 kali.” (QS. An-Nuur: 2)

Umar bin KhathabRA berkata, “Aku khawatir akan berlalunya zaman yang panjang terhadap manusia sehingga ada yang berkata, ‘Aku tidak mendapati perintah rajam di dalam Kitab Allah,’ sehingga mereka tersesat lantaran meninggalkan salah satu kewajiban yang diturunkan oleh Allah. Ketahuilah, sesungguhnya rajam adalah benar bagi yang berzina sementara ia telah menikah; yakni apabila terbukti, atau hamil, atau mengaku.” (HR. Al-Bukhari, hadits no. 6441)

Baca Juga : Malam Tahun Baru, Malam Maksiat Internasional

Itu adalah sanksi bagi orang yang terbukti berzina, baik dengan pengakuannya sendiri dengan ia datang ke pengadilan Islam atau seorang janda terbukti hamil atau pezina dilaporkan oleh pihak lain yang ia dapat mendatangkan 4 orang saksi yang benar-benar menyaksikan “masuknya pedang ke dalam sarung”. Jika pelapor tidak dapat mendatangkan 4 saksi, justru dialah yang terkena sanksi dicambuk 80 kali. Bahkan jika yang melaporkan pasangan zinanya, ia tetap harus mendatangkan 4 orang saksi. Sebab ia dihukumi telah menuduh orang lain melakukan perbuatan zina tanpa bukti.

 Taubat Pezina

Orang yang pernah melakukan perbuatan zina sementara tidak ada yang melaporkan perbuatannya, selain melaporkan diri ke pihak berwenang sebagai bagian dari wujud taubatnya, boleh pula tidak melaporkannya. Dia boleh menyembunyikannya sehingga hanya Allah, dirinya, dan pasangan zinanya yang mengetahuinya. Jika taubatnya sungguh-sungguh, Allah akan mengampuni dosa zina yang telah diperbuatnya. Rasulullah SAW bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُوْرَاتِ فَلْيَسْتَتِرْ بِسَتْرِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا

“Barangsiapa diuji dengan ujian yang kotor ini hendaklah ia menutupinya dengan satir (tutup) Allah Yang Mahamulia lagi Yang Mahatinggi.” (HR. Al-Bayhaqi, al-Hakim, dinyatakan shahih oleh as-Suyuthiy dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)

Jika ia bertaubat dengan taubat nashuha, sesungguhnya tidak ada dosa yang tidak diampuni oleh Allah. Bahkan dosa yang lebih besar daripada zina, jika pelakunya benar-benar bertaubat akan diterima oleh Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa (jika pelakunya bertaubat).” (QS. Az-Zumar: 53)

Baca Juga : Kisah Taubat Tukang Sihir Fir’aun

Menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini adalah seruan bagi orang-orang yang banyak maksiat, baik dari kalangan orang-orang kafir maupun yang lain, agar bertaubat dan kembali kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni semua dosa bagi yang mau bertaubat, bagaimana pun dan sebanyak apa pun dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.”

Jika Pasangan Berzina

Apabila seorang muslim atau muslimah mendapati istri atau suaminya berzina, dan ia mengakuinya, maka jika ia bertaubat, ia mempunyai dua pilihan setelah tidak membeberkan aib itu kepada khalayak. Dia boleh menceraikannya atau meng-khulu’-nya. Dia pun boleh memaafkannya dan membantunya untuk menjadi hamba Allah yang shalih/shalihah.

Sifat memaafkan di sini tidak sama dengan sifat dayyuts. Dayyuts adalah orang yang tahu dan membiarkan keluarganya berbuat keji—termasuk zina padahal pelaku perbuatan keji itu tidak bertaubat.

Jika Istri Hamil karena Zina

Memberi maaf an menutupi aib di sini berlaku pula apabila istri hamil dikarenakan zina yang dilakukannya. Lantas bagaimana dengan anak yang dikandungnya? Para ulama sepakat, penasaban anak tersebut adalah kepada suami sah dari ibu si bayi. Penetapan nasab seperti ini dikenal oleh para ulama dengan penetapan nasab “bilfirasy” (bilfirasy bermakna dengan ranjang). Yang demikian itu karena Rasulullah SAW bersabda,

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

“(Nasab) anak itu kepada (pemilik) ranjang, sedangkan bagi pezina adalah batu (menurut sebagian pensyarah, kesia-siaan—karena tidak semua pezina dirajam).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah Islam mengatur. Apa lagi si anak tidak punya dosa sementara ibunya telah bertaubat dengan taubat nashuha. Wallahua’lambishshawab.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 142 Rubrik Konsultasi Islam

Editor : Miqdad