Hukum Memanfaatkan Uang Anak

Uang milik Anak2
Uang milik Anak2

An-Najah.net – Ustadz, Alhamdulillah kami telah dikaruniai seorang putra lagi. Semoga kelak putra-putri kami menjadi pejuang di jalan Allah. Neneknya yang di kampung terkadang mengirimkan uang atas nama cucu-cucunya (putra-putri kami). Pertanyaan kami, bolehkan kami memanfaatkan uang tersebut untuk memenuhi kepentingan kami? (Setia Budi, Temanggung)

Hak orang tua terhadap anaknya amatlah besar. Banyak ayat dan hadits yang menerangkannya. Salah satunya adalah firman Allah,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra`: 23)

Pada ayat ini Allah menempatkan kewajiban berbakti kepada keduanya beriringan dengan kewajiban beribadah kepada-Nya. Tentu ini perkara yang serius.

Tidak diragukan pula bahwa anak adalah buah dari usaha dan tarbiyah orang tuanya. Mereka mendidiknya sedari kecil, mengajarinya, dan membiayai kehidupannya. Anak-anak punya “utang” kepada kedua orang tuanya dimana dia tidak akan mampu menyahurnya sepanjang hidupnya.

Kontradiksi

 Di sisi yang lain, kepemilikan terhadap harta diakui dalam Islam. Harta yang dimiliki oleh seseorang, baik dengan jerih payahnya ataupun pemberian orang lain, adalah benar-benar miliknya. Tidak boleh ada yang mengambilnya secara zhalim. Lantas, bagaimana jika orang tua seseorang mengambil hartanya; bolehkah hal itu dilakukan?

Ada sebuah hadits yang dijadikan dasar dalam masalah ini. Jabir bin ‘Abdullah ra menyatakan bahwa ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, saya punya harta dan anak. Ayah saya hendak mengambil semua harta saya.” Beliau saw bersabda,

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

“Kamu dan hartamu boleh (diambil) ayahmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2291, Ibnu Hibban 2/142, Ahmad 6902).

Memberi catatan hadits di atas, Ibnul Qayyim berkata, “Huruf lam dalam hadits tersebut (لِأَبِيكَ) secara qath’i tidak memberi faedah hukum kepemilikan… barangsiapa yang menyimpulkan hukum mubah, maka ia telah memahami makna hadits tersebut dengan baik.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1/116)

Yang menguatkan pandangan bahwa harta anak tetap milik anak, bukan milik ayahnya adalah bahwa apabila seseorang meninggal dunia, yang mewarisi hartanya bukan hanya ayahnya. Ibunya, istrinya, dan anak-anaknya pun mewarisinya. Jika hartanya milik ayahnya mestinya hanya ayahnya yang mewarisinya.

Kemubahan di sini pun tidak berlaku mutlak. Ada syarat-syarat yang harus diperhatikan. Syarat-syarat itu sebagaimana disebut oleh Syekh Muhamad bin Shalih al-Utsaimin dalam Fatawa Islamiyah: 108-109 adalah:

  1. Tidak mendatangkan mudarat buat si anak.

  2. Harta yang diambil bukanlah kebutuhan si anak.

  3. Harta diambil tidak untuk diberikan kepada anak yang lain, sebab hal itu akan mengakibatkan permusuhan di antara keduanya.

  4. Ayah mengambil harta anaknya untuk memenuhi kebutuhannya, bukan sekedar memenuhi keinginannya.

Syarat yang keempat di atas tidak disebutkan oleh Syekh ‘Utsaimin, tetapi dalam beberapa hadits secara eksplisit dijelaskan. Di antaranya, Rasulullah saw. bersabda,

فَهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ لَكُمْ إِذَا احْتَجْتُمْ إِلَيْهَا

“Mereka dan harta mereka adalah boleh buat kamu apabila kamu membutuhkan.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim 2/284 dan al-Bayhaqi 7/480)

Pandangan Para Ahli Fikih

Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i berpendapat, seorang ayah hanya boleh mengambil sebagian harta anaknya; yakni sekadar kebutuhannya.

Al-Jashash dan Ibnu al-‘Arabiy berpendapat, seorang ayah boleh mengambil harta anaknya sekehendaknya tanpa syarat apa pun.

Ibnu Qudamah berpendapat, seorang ayah boleh mengambil harta anaknya sekehendaknya, baik untuk memenuhi kebutuhannya ataupun yang lain, baik anaknya masih kecil maupun sudah besar, dengan memenuhi dua syarat: apa yang dilakukannya itu tidak mendatangkan mudarat buat si anak; dan tidak mengambilnya untuk diberikan kepada anak yang lain.

Ibnu Taymiyah berkata, “Seorang ayah boleh mengambil harta anaknya tanpa seizinnya, yakni sebatas kebutuhannya. Anak tidak punya hak untuk melarangnya.” (Majmu’ Fatawa, 34: 102)

Kesimpulan

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa boleh bagi orang tua untuk mengambil dan memanfaatkan harta si anak sekadar kebutuhan. Hanya sekadar kebutuhan. Apalagi jika diketahui bahwa neneknya yang di kampung mengirimkan sejumlah dana itu untuk membeli kebutuhan seluruh anggota keluarga, bukan hanya buat si anak. Hal itu dapat diketahui dari kebiasaan masyarakat atau kebiasaan keluarga.

Namun jika orang tua memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga, seyogianya tidak mengambil dan memanfaatkan harta milik anak. Lebih baik harta anak-anak disimpan di tempat khusus dan diserahkan kepada mereka saat mereka sudah dewasa. Hal ini akan menanamkan akhlaq amanah kepada mereka. Mereka telah mendapatkan contoh bagaimana beramanah dalam urusan harta dari orang yang—umumnya—paling mereka kagumi. Orang yang paling dekat dengan kehidupan mereka. Apalagi jika sepanjang masa tarbiyah anak-anak tahu persis bagaimana orang tuanya menjaga amanah harta. Wallahu a’lam.

Penulis : KH. Imtihan Syafi’i

Sumber : Majalah An-najah Edisi 147 Rubrik Konsultasi

Editor : Anwar