Hukum Menjual Cek

Ilustrasi, Cek
Ilustrasi, Cek
Ilustrasi, Cek
Ilustrasi, Cek

An-Najah.net – Saya memiliki cek senilai 100 juta rupiah. Cek tersebut baru dapat dicairkan satu bulan lagi. Lantaran saat ini saya terdesak kebutuhan, bolehkah cek itu saya jual kepada teman saya senilai 90 juta rupiah secara tunai? (Wahyudi –Solo)

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Para ulama kontemporer seperti Prof. DR. Wahbah az-Zuhayliy dan DR. Muhammad Abdulghaffar asy-Syarif menyatakan bahwa cek dianggap sebagai dokumen pengganti uang.

Dari situ, maka menjual atau menukarnya dengan mata uang yang sama dengan yang tertera dalam cek haruslah tidak terjadi selisih harga dan harus kontan. Menjualnya dengan harga yang lebih murah daripada yang tertera dalam cek adalah tidak boleh, karena mengandung riba.

Riba fadhl—karena ada selisih nilai; dan riba nasi`ah—karena uang baru diterima beberapa hari yang akan datang. Sedangkan bila menjualnya dengan mata uang yang berbeda dengan yang tertera dalam cek, maka juga tidak boleh. Sebab meski tidak ada tiba fadhl, tetap masih ada riba nasi`ah.

Rasulullah saw bersabda, “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 108 Rubrik Konsultasi Islam

Editor : Anwar