Hukum Minum Obat Penunda Haid di Bulan Ramadhan

Ilustrasi, Obat Penunda haid
Ilustrasi, Obat Penunda haid

An-Najah.net – Assalamu’alaikum. Ustadz, saya mau bertanya. Apa hukum meminum obat penunda haid saat Romadhan, sebab semua orang tahu bagaimana keutamaan bulan Ramadhan itu. Bagaimana jika saya minum obat itu agar bisa puasa satu bulan penuh? (Ummu Azwa—Purbalingga)

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah. Sahalawat dan salam semoga terlimpah ruah kepada Rasulullah SAW.

Para ulama sepakat bahwa perempuan yang sedang haid terhalang dari menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Juga, apabila seorang perempuan mendapati haid di siang hari saat ia berpuasa, batallah puasanya.

Fenomena kaum perempuan yang mengonsumsi obat-obatan penunda haid telah ditemukan sejak zaman dahulu. Para ulama sepakat, apabila setelah meminumnya seorang perempuan mendapati mudarat pada dirinya, ia harus menghentikan meminum obat-obatan tersebut. Adapun jika setelah meminumnya seorang perempuan tidak mendapati mudarat, atau mendapati mudarat yang ringan seperti tumbuhnya jerawat atau gatal-gatal, para ulama berbeda pendapat.

Para ulama madzhab Maliki melarang pemakaian obat-obatan penunda haid. Sebab, mungkin saja mudarat yang ditimbulkan oleh pil penunda haid tersebut adalah efek jangka panjang. Tidak dirasakan seketika, tetapi seiring dengan perjalanan waktu, dampak buruk akan dirasakan di kemudian hari. Menurut mereka, hal itu bertentangan dengan fitrah manusia dan kondisi khusus yang Allah berikan kepada seorang perempuan. Maka, seyogianyalah seorang perempuan menerima takdir Allah untuknya, tidak berpuasa saat datang bulan/haid, dan mengqadha`-nya di lain hari. Hal itu lebih baik untuknya.

Sedangkan menurut para ulama madzhab Syafi’i dan Hambali, mengonsumsi obat-obatan penunda haid dibolehkan bagi perempuan dengan tujuan meraih kebaikan dan keberkahan hari-hari di bulan Ramadhan dengan berpuasa. Ibnu Qudamah mengutip pernyataan Imam Ahmad, “Tidak mengapa seorang perempuan meminum obat penunda haid, jika obatnya dikenal (tidak menimbulkan mudarat),” (Al-Mughni, 1/221).

Alasan mereka, hukum asal segala sesuatu adalah mubah. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan haramnya mengonsumsi pil penunda haid.

Para ulama kontemporer umumnya membedakan hukum mengonsumsi obat-obatan penunda haid. Bagi perempuan yang belum menikah, sebaiknya tidak melakukannya. Sebab, ia belum tahu apakah ada dampak buruk jangka panjang untuk alat-alat reproduksinya atau tidak. Adapun untuk mereka yang sudah menikah dan memiliki anak, mengonsumsinya tidak mengapa.

Wallahu a’lam.

Penulis : KH. Imtihan Asy Syafi’i

Sumber : Majalah An-Najah edisi 116 Rubrik Konsultasi Islam

Editor : Anwar