Hukum Shalat Orang Mukim Di Belakang Musafir

safar
safar

An-Najah.net – Shalat orang mukim di belakang musafir adalah sah. Safar merupakan bagian ‎kehidupan setiap muslim dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Rabb-Nya atau untuk ‎meraih kemaslahatan duniawinya. Dari kesempurnaan agama ini serta kemudahan-kemudahan ‎yang ada di dalamnya, Allah Ta’ala telah menetapkan hukum-hukum safar serta mengajarkan ‎adab-adabnya di dalam Al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya.‎

Dalam fikh safar ini, banyak dari kalangan kaum muslimin pada khususnya, yang belum ‎mengetahui seluk beluk permasalah di dalamnya. Seperti seseorang yang mukim shalat ‎dibelakang musafir, lantas bagaimana hukumnya? ‎

Lansung saja, jawabannya shalat si mukim sah. Dengan catatan, jika si musafir meng-qoshor ‎shalatnya, maka si mukim menyempurnakan jumlah rakaat shalatnya setelah musafir itu salam. ‎

Bukankah Nabi Muhammad Saw pernah tinggal di Mekkah ketika Fathu Makkah selama 18 ‎malam, selama itu beliau mengimami manusia shalat dua rakaat-dua rakaat selain shalat Magrib, ‎kemudian beliau bersabda: “Wahai penduduk Mekah, berdirilah dan tambahlah shalat dua rakaat ‎lagi, karena kami adalah kaum yang sedang safar.” (HR Abu Dawud, no. 1229)‎

Walaupun hadits di atas didaifkan al-Bani, namun para ulama sepakat membolehkannya. ‎Sebagaimana perkataan lbnu Qudamah, “Seluruh ulama sepakat bahwa jika orang yang mukim ‎bermakmum kepada musafir, ketika musafir itu salam setelah dua rakaat, maka orang mukim ‎tersebut harus menyempurnakan shalatnya.” (Ibnu Qudamah, al-Mughi, jilid 2, hal. 211 versi ‎syamila)‎

Begitu juga asar Umar bin Khattab, bahwasanya jika beliau (Umar) datang ke Mekah la ‎mengimami manusia dengan shalat dua rakaat, kemudian berkata. “Wahai penduduk Mekah, ‎sempurnakanlah shalat kalian karena kami adalah kaum yang sedang safar.” (Malik bin Anas, al-‎Muwatho’, cet I, jilid 2, hal. 206, bab Shalatu Musafir Idza Kana Imaaman au Kaana Wara’al ‎Imam) ‎

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa orang mukim melaksanakan shalat wajib di belakang ‎musafir, dalam shalat Dzuhur, Ashar dan Isya’, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya ‎sebanyak empat rakaat. ‎

Adapun jika orang yang mukim itu shalat di belakang musafir dalam rangka semata-mata mencari ‎keutamaan shalat berjamaah, di mana sebelumnya ia sudah melaksanakan shalat wajib, maka ia ‎shalat dua rakaat seperti si musafir, sebab dalam kondisi tersebut shalat itu baginya bernilai ‎sunnah. (Abdul ‘Aziz bin Bazz, Majmu’ Fatawa, jilid 12, hal. 259, bab: Imamatul Musafir bil ‎Muqim wal ‘Aks, versi Syamila)‎

Dan apa seorang musafir mengimami masyarakat yang mukim lalu ia shalat secara sempurna ‎empat rakaat, maka shalat mereka sah sedangkan dia melakukan sesuatu yang tidak afdhal. ‎‎(Abdul ‘Aziz bin Bazz, Majmu’ Fatawa, jilid 12, hal. 260, bab: Imamatul Musafir bil Muqim wal ‎‎‘Aks, versi Syamila). Wallahu ‘alam

Penulis : Ibnu Jihad

Editor  : Ibnu Alatas