Hukum Uang Muka dan Menjual Barang Kepada Selain Penawar

Ilustrasi, uang muka
Ilustrasi, uang muka

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakutuh.

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana hukumnya bila suatu barang sudah ditawar seorang pembeli tapi pembeli itu tidak memberi uang muka atau uang panjar atau DP. Meskipun tidak memberi uang muka, ia berjanji akan datang untuk membayar. Setelah lewat waktu yang ia janjikan, pembeli itu tidak datang. Beberapa waktu kemudian, ada pembeli lain yang menawar hendak membeli barang itu. Karena merasa belum mendapat kepastian dari pembeli pertama dan uang panjar belum dibayar, barang tersebut dijual kepada pembeli kedua. Tak lama kemudian pembeli pertama datang, dan si penjual menjelaskan bahwa barang sudah dijual dengan alasan pembeli pertama tidak kunjung datang dan belum memberikan uang panjar. Penjual pun sekalian meminta maaf. Yang terjadi, pembeli pertama tidak terima dan marah-marah. Pertanyaan saya, apakah perbuatan si penjual merupakan dosa? Jazakallah khairan atas jawabannya. (Zul, Lampung, 081271971xxx)

  Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga terlimpah ruah kepada Rasulullah, para sahabat, dan pengikut beliau sampai akhir zaman.

Saudara Zul di Lampung yang dirahmati Allah, karena dalam pertanyaan Anda tersirat pemahaman bolehnya transaksi jual beli dengan memberikan uang muka, saya merasa perlu menjelaskan masalah ini agar kita bisa mengambil sikap terbaik dalam menjalankan semua transaksi jual beli kita.

Gambaran jual beli dengan uang muka adalah seseorang menjual barang, lalu si pembeli memberi sejumlah uang kepada si penjual dengan syarat bila ia jadi mengambil barang tersebut, maka uang muka tersebut masuk dalam harga yang harus dibayar. Namun kalau ia tidak jadi membelinya, maka sejumlah uang muka yang dibayarkannya itu menjadi milik penjual.

Para ahli fiqh berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya transaksi jual beli dengan uang muka. Kebanyakan melarang dan sebagian membolehkan. Mereka yang melarang dan menyatakan ketidaksahan jual beli dengan uang muka adalah para ahli fiqh madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i. Pendapat mereka ini pula yang dipilih oleh asy-Syawkani. Di antara alasan mereka adalah:

  • Hadits ‘Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ

“Rasulullah saw melarang jual beli dengan sistem uang muka.” (HR. Imam Malik)

Meskipun hadits ini dha’if, namun—menurut asy-Syawkani—jalur periwatannya banyak sehingga saling menguatkan dan dapat dijadikan hujjah.

  • Jual beli dengan uang muka termasuk memakan harta orang lain dengan cara batil. Sebab si penjual akan mengambil sejumlah uang dari pembeli tanpa ada kompensasi yang ia berikan kepada pembeli jika transaksi itu tidak jadi. Memakan harta orang lain, hukumnya haram sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu!” (An Nisa’: 29)

  • Jual beli dengan uang muka ini mengandung dua syarat batil, yaitu syarat memberikan uang kepada penjual tanpa ada kompensasi (jika transaksi tidak jadi dilanjutkan) dan syarat boleh mengembalikan barang jika ternyata salah satu dari kedua belah pihak tidak ridha, padahal transaksi sudah terjadi.

Mereka yang membolehkan adalah para ahli fiqh madzhab Hambali. Di antara alasan mereka adalah:

  • Adanya atsar yang menyebutkan bahwa ‘Umar bin Khaththab membolehkan transaksi seperti ini. Dan ini pula pendapat tabi’in: Sa’id bin Musayyib dan Muhammad bin Sirin.
  • Hadits ‘Amru bin Syu’aib lemah sehingga tidak dapat dijadikan hujjah dan masalah ini dikembalikan kepada hukum asal dalam muamalah, semua transaksi dibolehkan kecuali jika ada larangannya.
  • Uang muka adalah kompensasi yang diberikan oleh calon pembeli kepada penjual atas waktu menunggu dan menyimpan barang selama kurun waktu tertentu. Oleh sebab itulah, kebolehan transaksi ini dengan syarat batas waktu jadi tidaknya transaksi harus jelas.

Inilah pendapat para ahli fiqh klasik dalam masalah jual beli dengan uang muka. Para ulama kontemporer seperti Syaikh ‘Abdul’aziz bin Baaz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin lebih merajihkan pendapat yang kedua.

Untuk kita, lebih berhati-hati dengan tidak melakukannya adalah sikap terbaik. Namun jika kita memilih yang membolehkan dengan menepati syarat kebolehannya, hal itu pun tidak mengapa.

Saudara Zul yang dirahmati Allah, karena calon pembeli pertama tidak memberi uang muka—jika kita mengikuti pendapat yang membolehkan—dan tanda jadi transaksi jual beli adalah serah terima barang dan itu belum terjadi, maka yang dilakukan penjual yakni menawarkan atau menjual barang miliknya kepada calon pembeli lain adalah sah menurut syariat. Sebenarnya dia tidak perlu minta maaf, karena ia tidak melakukan kesalahan. Namun, dengan alasan adab dan sopan santun, minta maaf seperti yang Anda gambarkan itu bukanlah perbuatan tercela. Wallahu a’lam bish shawab. (Ustadz. Imtihan As-Syafi’i, Konsultasi Islam Majalah An-najah edisi 93)