IBF 2013 Telah Digelar: Perang Buku, Perang Pemikiran

Masihkah PKS Bermasa Depan?
Masihkah PKS Bermasa Depan?

(an-najah.net) – IKAPI DKI Jakarta kembali menggelar Islamic Book Fair (IBF). Pameran yang digelar 1 hingga 10 Maret 2013 ini adalah kali yang ketiga belas. Dengan slogan  “Wisata Buku Islam Terbesar dan Terlengkap,” pameran kali ini mengusung tema “Menuju Umat Berkarakter Qur’ani.” Pameran ini dibuka oleh Menko Perekonomian Hatta Radjasa, sekitar pukul 14.00, Jumat 1 Maret 2013.
 
Tak berlebihan memang, bila panitia mengklaim pameran ini sebagai wisata buku. Ribuan judul dari ratusan penerbit tumpah ruah di Gelora Senayan Jakarta ini. Tema dan segmentasinya pun komplet. Dari sisi usia, tersedia buku mulai untuk anak-anak hingga dewasa. Jenisnya pun beragam. Mulai dari ilmu pengetahuan populer, lifestyle hingga buku-buku referensi (turats).Tentu saja, tak ketinggalan Mushaf Al-Qur’an yang semakin banyak ragamnya dibandingkan pameran-pameran sebelumnya.
 
Demikian pula keragaman pemikiran yang dipajang. Memang, dunia pemikiran tak bisa dilepaskan dari buku. Jual buku berarti jual pemikiran; jual pemikiran sulit tanpa buku. Itu pula yang dapat kita potret di IBF kali ini—dan tentu sebelumnya juga demikian. Kelompok Syiah, misalnya. Yang paling mencolok adalah Penerbit Misbah dengan produk-produk pemikiran Syiah. Sementara yang melawan pun banyak—meski tak berwujud penerbit berbendera resmi anti Syiah. Seperti Penerbit Al-Kautsar, yang cukup mencolok memajang buku-buku kontra Syiah di samping produk-produk lainnya seperti kontra Liberalisme.
Terbitan Al-Kautsar
Terbitan Al-Kautsar
 
Hizbut Tahrir pun tak absen. Dikemas dalam beberapa produk, mulai dari buku sejarah, training dan motivasi sampai kepada yang blak-blakan jualan ide Khilafah. Kemasannya menarik, sehingga hadir di publik sebagai sebuah ide yang layak populer, akrab dan bisa didekati calon konsumen, serta tidak menakutkan. Yang layak mendapat applause adalah Penerbit Maghirah yang merilis produk baru berjudul: PKS Masihkah Ada Harapan. Dilaunching di panggung utama. Ketika pembawa acara menyebutkan judul “Masihkah Ada Harapan,” beberapa wanita berjilbab berteriak, “Masih…!”.
 
Demikianlah, IBF tak hanya menjadi ajang kompetisi brand dan benefit bagi penerbit-penerbit buku Islam, namun juga etalase untuk menjajakan dan membela sebuah pemikiran. Menyelam ke IBF, sangat terasa sekali aroma pameran pemikiran Islamnya.
 
Sayang, tak semua pemikiran Islam hadir dan beradu-jaja di sini. Di antara yang terlihat absen (mungkin ada tapi tidak mencolok) adalah kelompok pemikiran Jihadis. Buku-buku terbitan Jazera misalnya, memang hadir namun hanya berada di sebuah stan membaur (dan tenggelam) dengan produk-produk lain yang tidak khas Jihadis. Apalagi sudah sekian kali Ar-Rahmah absen dari IBF.
 
Salah satu Produk HTI
Salah satu Produk HTI
Absennya kelompok Jihadis ini menarik untuk kita kaji penyebabnya. Apakah pengusung kelompok ini kekurangan ide-ide kreatif untuk menjajakan ideologinya, atau bahkan mereka tak peduli urusan penjajaan ideologi berjurus lemah gemulai seperti tampil di forum terbuka ala IBF? Jangan-jangan, waktu mereka hanya fokus di penggalangan model klasik face to face (dakwah fardiyah) dan pembinaan internal. Semoga hanya karena faktor kesempatan saja, bukan karena pemahaman jihad sentris yang menganggap semua bisa beres hanya dengan senjata. []
 
Reporter: TS
Editor: Agus