Ibrah Dari Kisah Dakwah Nabi Nuh

An-Najah.net – Perdebatan antara Nabi Nuh as dengan kaummya terjadi dalam waktu yang sangat lama, sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim”. (Al-Ankabut : 14). Meski Nabi Nuh as menyampaikan dakwah selama itu, namun hanya segelintir orang saja yang beriman padanya.

Ujian Dakwah Nabi Nuh

Setiap kali satu generasi berlalu, mereka berpesan kepada generasi berikutnya agar tidak beriman kepada Nuh, harus memerangi dan menentangnya. Ketika anak-anak sudah mulai baligh dan mengerti kata-kata orangtua, mereka sepakat untuk tidak beriman kepada Nuh sepanjang hidup.

Baca Juga : Pembunuhan Karakter 

Tabiat dan watak mereka enggan untuk beriman dan mengikuti kebenaran. Karena itu Nuh, berkata, “Dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.” (Nuh: 27).

Bahkan mereka menghujani Nabi Nuh dengan berbagai cacian dan cemooh, menyebarluaskan berbagai macam fitnah, antara lain;

Menuduh Nabi as sebagai orang yang kurang waras (pirirannya) dan sesat. Allah Ta’ala berfirman, Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”. Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam“. (QS. Al-‘Araf: 60,61)

Menuduh Nabi Nuh as sebagai orang gila. Allah Ta’ala berfirman, “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman”. (QS. Al-Qomar: 9)

Menuduh Nabi Nuh as banyak berdebat dan berdusta atas nama Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, Mereka berkata “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar“. (QS. Hud: 32)

Mengancam nabi Nuh dirajam hingga tewas. Allah Ta’ala berfirman, “Mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam”. (QS. Asy-Syu’ara: 116)

Baca Juga : Ujian Pewaris Nabi

Kolot dan Sombong

Akibat memiliki sifat yang kolot dan sombong, mereka dengan jelas dan gamblang menantang Allah Ta’ala untuk diturunkan adzab kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya, “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.” (QS. Hud: 32-33)

Ibnu Taimiyyah menjelaskan, “Sesungguhnya, yang mampu melakukan hal itu hanyalah Allah Ta’ala. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Dia dan tidak ada satu urusan pun yang lepas dari kendali-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, cukup dengan mengatakan, “Kun fa yakun” (jadi maka jadilah ia) (Ibnu Katsir, Qoshoshosul Ambiya, cet 1, jilid I, hal. 93)

Baca Juga : Menghadapi Ujian dengan Keimanan

Ibrah Kisah Nabi Nuh

Pertama, teguh dan sabar dalam dakwah.

Perdebatan panjang antara Nabi Nuh as dengan kaumnya memakan waktu 950 tahun lamanya. Mereka menuduh dengan berbagai macam tuduhan, mencaci dan menghina, menyebarluaskan berbagai macam fitnah namun beliau tetap teguh dan sabar menghadapinya.

Nabi Nuh as tetap teguh dan sabar selama 950 tahun lamanya, dalam mendakwahkan dinul Islam. Berdakwah di pagi dan malam hari, tanpa kenal lelah. Maka, tidak pantas jika kita mengeluh dalam perjalanan dakwah kita yang berjalan hanya puluhan tahun, apalagi baru beberapa bulan. Cacian, celaan, fitnah dan berbagai ujian dalam liku-liku dakwah sudah menjadi sunnatullah.

Bukankah Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar, sebagaimana firman-Nya, yang berbunyi, “dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imran: 146) Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa cinta itu terdiri dari dua aspek yaitu keinginan berbuat baik kepada yang dicintai dan berusaha keras untuk dapat berhubungan dengannya.

Oleh karena itu orang sabar yang dicintai Allah Ta’ala pasti akan selalu diberi yang terbaik oleh Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala tidak mungkin jauh darinya apalagi meninggalkannya.

Bahkan, dalam firman yang lainnya Allah Ta’ala akan menjamin kemenangan dan pertolongan bagi orang-orang yang bersabar, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkan kesabaranmu, bersiap-siagalah dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S. Ali Imran : 200)

Kedua, hidayah hanya milik Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan diwahyukan kepada Nuh bahwa sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Oleh karena itu, janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Hud: 36)

Firman Allah Ta’ala di atas merupakan pelipur hati Nabi Nuh as atas sikap dan perilaku kaumnya terhadap beliau. Di samping itu, ayat tersebut juga merupakan motivasi bagi beliau untuk bersabar dalam menghapi kaum yang tidak juga beriman, kecuali sedikit saja yang telah beriman.

Saudaraku, janganlah berputus asa!, jangan mengeluh! Tetap teguh dan sabar, serta yakin pertolongan Allah Ta’ala pasti datang. Ingatlah firman Allah Ta’ala, bahwa tugas kita hanya memberi peringatan dan hidayah itu hanya milik Allah Ta’ala. Allah berfirman,

فَذَكِّرْ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٌ، لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (QS. Al-Ghosiyah: 21,22) Wallahu ta’ala ‘alam

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 171 Rubrik Ibrah

Penulis : Ibnu Alatas

Editor : Anwar

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.