Ikhlas dalam Amal Islam

Keikhlasan dalam Amal Islamy

Keikhlasan dalam Amal Islamy

An-najah.net – Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnyaJami’ al-‘Ulum wa al-Hikammengatakan banyak ulama yang memulai tulisannya dengan menyitir hadits Rasululullah SAW tentang niat, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat, dan tiap-tiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya’. Hal itu dilakukan salah satunya  agar atsar keikhlasan selalu mewarnai setiap tulisan yang dituangkannya.

Abu ‘Umar Muhammad bin ‘Abdillah (lebih dikenal dengan Abu Umar as-Sayf) asy-syahid  –kamaa nahsabuh,.. wallahu hasibuh-  dalam tulisannya Akhlak al Mujahid memulai buku kecil panduan ringkas para mujahid tersebut dengan hadits itu pada bab pertama. Beliau adalah salah seorang murid Syaikh ‘Utsaimin, yang berjihad di Afghanistan menghadapi mulhidin Uni Sovyet, kemudian berjihad di Chechnya, pernah menjabat sebagai ketua Mahkamah Tamyiz Tertinggi (Mahkamah Syar’iyyah) di Chechnya dan gugur sebagai syahid   –insyaaAllah–  dalam pertempuran menghadapi Rusia.

Syarat Diterimanya Amal

Ikhlas merupakan salah satu dari dua syarat diterimanya amal. Syarat lainnyaialah  benarnya amal sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ada dan tidaknya keikhlasan, sempurna atau kurangnya, sangat menentukan maqbul-nya amal. Terkadang suatu perbuatan tampak secara dhahir sebagai amal yang besar, pengorbanan tinggi dan memberi manfaat kepada banyak orang. Di mata manusia pelakunya sangat dihormati, disanjung dan dianggap pahlawan. Namun, ketika pelakunya tidak sepenuh hati mengejar mahabbah, pahala, ridha dan jannah-Nya, amal besar itu tidak bernilai, bahkan menjadi sebab ia dibenamkan kedalam neraka dan  mendapatkan kemurkaan Allah.

Kisah tiga orang pelaku amal besar yang lebih awal dihisap pada hari kiamat yang tercantum dalam kitab Shahih Muslimmenjadi peringatan sangat berharga.Orang pertama adalah mujahid yang berperang hingga terbunuh.Orang-orang menyebutnyasebagai syahid. Sang pelaku juga mengaku bahwa dirinya gugur di jalan Allah.Tapi pengakuannya itudidustakan dan ditolak oleh Allah, lantaran dalam hatinya terselip kehendak lain selain keridhoan-Nya.

Orang kedua adalah qori’ yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an, dia menyangka amalannya akan berbalas jannah. Tapi ternyata ia menuai neraka, lantaran menyelinap di dalam niatnya keinginan untuk mendapat tempat di mata manusia dan keuntungan dunia.

Keikhlasan adalah amal al-qolbiy, tidak dapat diindera oleh orang lain,tidak juga oleh pelakunya.Yang dapat diamati adalah gejala-gejala yang mengindikasikankeikhlasan tersebut; ada tidaknya, sempurna dan kurangnya. Karena itu, ilmu dan kemampuan mengenali jejak-jejak sifat ikhlas dalam  -aktual- amal sangat dituntut bagi para pencari keridloan dan jannah-Nya. Dengan itu peluang untuk selamat menjadi lebih besar.Sementara mereka yang lebih terpaku pada dhahiramal tanpa memperhatikan aspek bathin, tidak mengasah ketrampilan untuk mengenali munculnya indikator keikhlasan atau ketiadaannya dalam dirinya, sejatinya berada dalam bahaya besar rusaknya amal, mardud (tertolak) dan mendapatkan kemurkaan dan siksa-Nya.

Taroju’ Merupakan Pembuktian Terbalik

Amal jihad merupakan dzarwatu sanam (puncak ketinggian amal) dalam Islam. Balasan perolehannya juga paling prestisius. Karena kaidah amal dalam Islam diantaranya adalah al-jazaa’ min jinsi al-amal (balasan amal itu terkait dengan jenis amal;baik-buruknya, berat-ringannya, banyak dan sedikitnya ujian dalam beramal), maka tingginya nilai dan balasan bagi mujahid berbanding lurus dengan beratnya ujian yang dihadapi dalam melaksanakan amal jihad itu. Kalau bukan karena beratnya ujian dalam amal jihad, para mujahid tidak berhak untuk mendapatkan balasan setinggi itu.

Jalan jihad adalah jalan terjal menanjak yang menjanjikan kesulitan dan masyaqqah, pengorbanan, rasa sakit, tekanan kesulitan yang menegangkan syaraf, hilangnya kebebasan, anggota badan bahkan nyawa para mujahid dan orang-orang di sekelilingnya. Para penempuhnya, jika hanya berbekal semangat tanpa ilmu, ilmu tanpa tajribah, merasa cukup dengan menghadapi satu situasi tanpa merasa perlu mengkayakan diri dengan berbagai pengalaman yang membuatnya matang dan dewasa, sangat rentan menghadapi situasi surprise yang membuatnya kehilangan orientasi dan pegangan.

Syaikh ‘Abdullah bin Dloyfillah ar-Rahiliy dalam tulisannya Thoriquka ila al-Ikhlash wa al-Fiqhi fie ad-Din menerapkan pembuktian terbalik ketiadaan keikhlasan dalam beramal. Beliau menyebut diantara indikasi ketidakikhlasan dalam beramal, ‘Diantara indikasiketiadaan keikhlasan (dalam perjuangan), adalah tidak tegar ketika berhadapan dengan tekanan, ujian dan keadaan genting, juga ketika berhadapan dengan tawaran kenyamanan hidup yang menggiurkan, memalingkan dari amal-amal dakwah arah kebaikan’.

Fenomena taroju’ sebagian pelaku amal Islamiy jihadiy; menarik diri dari kafilah jihad, menyesal dan menghasung para jihadis untuk mengikuti langkah-langkahnya, mungkin dapat dikuliti dengan analisa pembuktian terbalik di atas. Kenyataannya, para mantan jihadis tersebutbekerja sama dengan musuh untuk menggarap proyek deradikalisasi yang tidak lain merupakansandi perang pemikiran terhadap jihad.

Taroju’ sangat mungkin merupakan keadaan ketidakseimbangan antara keikhlasan yang dibangun di dalam hati berhadapan dengan besarnya gelombang serangan musuh yang memadukan teknik hard dan soft;paduan antara serangan fisik yang melelahkan dan menekan syaraf, diikuti tawaran kenyamanan hidup yang menggiurkan. Apalagi didukung klaim pemahaman memerangi khawarij atas nama salaf.

Keikhlasan Mendorong Untuk Tsabat dalam Jihad

Keikhlasan merupakan pendorong yang kuat bagi seorang hamba untuk mengerjakan sesuatu karena Allah, atau meninggalkan sesuatu  -juga-  karena-Nya.Dalam amal jihad, keikhlasan akan membimbing dan membantu pelakunya untuk sabar dan tsabat menghadapi kesulitan, tekanan dan penderitaan, juga tidak tergiur dengan tawaran kenyamanan hidup sebagai ganti berhenti menjadi mujahid.

Dari an-Nawas bin Sam’an, Nabi bersabda:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan adalah akhlaq yang bagus, sedangkan dosa adalah apa-apa yang membuat hatimu tidak tenang dan engkau benci jika hal itu diketahui oleh manusia” (HR Imam Muslim).

Dalam hati seorang mukmin mukhlis terdapat filter penyaring yang akan bereaksi terhadap apa yang dilakukan pemilik hati tersebut. Menyesal dan menarik diri dari amaldzirwatu sanam, pasti membuat hati yang masih memiliki filter itu ragu-ragu, tidak tenang dan malu dilihat oleh manusia, apalagi mengajak orang lain untuk mengikuti jejaknya. Tidak merasa malu berbuat buruk, mengajak orang lain berbuat buruk, duduk bersama musuh-musuh aqidah dengan kerelaan, merupakan indikasi hilangnya filter penyaring itu.(Anwar/annajah/dikutip dari majalah annajah edisi 100 rubrik i’dadu uddah)