Iltizam Jama’ah, Karakter Salaf

Ilustrasi Iltizam
Ilustrasi Iltizam
Ilustrasi Iltizam

An-Najah.net – Ketika para sahabat bertanya tentang kebaikan kepada Rasulullah, hudzaifah ibnul Yaman justru bertanya tentang kejahatan karena khawatir jatuh ke dalamnya.

“Wahai Rasulullah dahulu Kami berada dalam kejahiliyahan dan keburukan, lantas Allah mendatangkan kebaikan ini.

Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan lagi?” Rasulullah menjawab, “Ya” Saya bertanya, “Apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan lagi?” Rasulullah menjawab, “Ya, tetapi ada kabut padanya.”

Saya bertanya, “Apakah yang dimaksud Gabut itu?” Rasulullah menjawab, “yaitu suatu kaum yang mengambil petunjuk bukan dari petunjuk ku. Engkau mengenali mereka dan mengingkarinya.”

Kemudian saya bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Rasulullah menjawab, “Ya, yaitu para penyeru menuju pintu jahanam. Barangsiapa menerima seruan mereka,

Niscaya akan dilemparkan ke dalamnya.” Saya bertanya, “wahai Rasulullah! Berilah kami ciri-ciri mereka!” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “mereka mempunyai kulit seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.”

Akhirnya saya bertanya lagi, “Lantas apa yang engkau perintahkan kepada ku apabila aku berjumpa dengan masa itu?” Rasulullah bersabda, “berpegang teguhlah pada jamaah muslimin dan Imam mereka.” Saya bertanya, “Bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imamnya?”

Rasulullah menjawab, “hindarilah semua firqoh itu Walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemput, Sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dr. Shalah Shawy dalam kitab jama’atul muslimin menjelaskan bahwa Nabi Muhammad telah mengabarkan akan datangnya zaman penuh dengan fitnah yang ditandai dengan banyaknya para Da’i yang berada di pintu neraka jahanam.

Mereka menyuruh kepada pintu kebatilan. Sebagaimana hari ini, manusia menyuruh atas nama sekulerisme, komunisme, sosialisme atau kapitalisme.

Tak sedikit yang justru menolak syariat Islam dan menentang berhukum dengan hukum Al-Qur’an dan as-sunnah.

Mereka adalah para Dai bukan dari golongan Yahudi, Nasrani, Budha atau kaum paganis. Tapi mereka subkulit dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.

Tak ada jalan keluar dari kemelut fitnah ini selain mengambil apa yang telah diajarkan Rasulullah. Beliau menanyakan hal itu kepada umatnya yakni harus iltizam (berpegang teguh) terhadap jamaah kaum muslimin dan Imam mereka. Atau uzlah (memisahkan diri) hingga datang kematian.

Jama’ah Perintah Syar’i

Islam menyuruh umat manusia agar hidup berjamaah, berkumpul, saling membantu, saling meringankan dan melarang dari berpecah belah, bercerai-berai juga saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Allah berfirman; “dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran: 103)

Ibnu Katsir dalam tafsir Al Quranul Adzim menjelaskan bahwa ayat ini perintah untuk perpegang Teguh dengan Al-Qur’an, berjamaah dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dua Ahlul kitab berpecah belah dalam Din mereka menjadi 72 golongan dan sungguh umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu Al jamaah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Berkata Ibnu Mas’ud, dalam kitab Syarah I’tiqod Ahlussunnah wal jamaah, “Jamaah adalah adanya kesesuaian dengan Al Haq walaupun keadaan kamu sendirian.”

Abdullah bin Mubarak, ketika ditanya tentang siapa jamaah yang pantas dijadikan panutan, beliau menjawab, “Abu Bakar dan Umar” dan ketika dikatakan mereka telah wafat,

“lalu siapakah yang masih hidup?” Beliau menjawab, “Abu Hamzah As-Sakry?” Beliau menunjuk Abu Hamzah As-Sakry di zamannya karena beliau seorang ahli ilmu, zuhud dan wara’.

Iltizam Jama’ah Hari Ini

Dr. Shalah Shawy menjelaskan makna jamaah mengandung dua pengertian.

Pertama; Dari aspek ilmiah, maksudnya menjelaskan ketaatan berdasarkan al-quran dan as-sunnah yang dipahami oleh generasi Salaf dan para ulama setelah mereka.

Kedua; Aspek politik, yang berarti keharusan mengikuti mereka dalam persoalan mengangkat Imam, taat kepadanya selain maksiat dan tidak memisahkan diri kecuali karena adanya kufrun bawwah nyata pada Imam.

Jama’atul muslimin adalah Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh Imam atau khalifah yang memberlakukan hukum hukum Allah. Jama’atul muslimin adalah bergabungnya makna jamaah secara ilmiah dan politik. Khilafah Islamiyah telah runtuh sejak tahun 1924 dari tangan Bani utsmaniyah.

Maka konsekuensi kaum muslimin adalah kembali pada kaidah alur Sunnah Wal Jamaah yaitu, menyeru kepada Al Haq dan Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah serta mendirikan jamaah, hingga terwujudnya jama’atul muslimin dan Imam Syar’i bagi mereka.

Dahulu para Salaf umat ini hidup di bawah jama’atul muslimin yang tegak. Namun saat ini jama’atul muslimin sirna dan hilang dari muka bumi ini, maka saat ini banyak jamaah Minal muslimin yang bertujuan untuk mengembalikan tegaknya jama’atul Muslimin.

Berdirinya jamaah Minal muslimin ini berdasarkan:

Pertama, kaidah ushuliyah;

“Sesuatu yang tidak akan sempurna sesuatu kewajiban kecuali dengannya maka sesuatu itu menjadi wajib.”

Kedua, perintah Allah agar kaum muslimin berta’awun (tolong menolong) dalam birr (kebaikan) dan taqwa.

“Dan Tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam majmu’ fatawa, “Sesungguhnya Allah dan rasulnya memerintahkan untuk berjamaah dan bersatu, melarang dari berfirqoh dan berpecah belah, serta memerintahkan untuk berta’awun dalam birr dan takwa dan melarang dari berta’awun dalam dosa dan permusuhan.”

Ketiga, Qiyas dari hadits Amir Safar, yaitu perintah mengangkat Amir dalam Safar.

Apabila ada tiga orang dalam Safar maka hendaknya mereka mengangkat Amir (pemimpin) salah satu diantara mereka.” (HR. Abu Dawud)

Apabila I’tizal (memisahkan diri) hingga datang kematian adalah berlepas diri dari fiqrah-fiqrah (golongan-golongan) yang rusak menyelisihi manhaj salaf dan para penyeru kebatilan yang mengajak ke pintu neraka jahanam seperti khawarij, Syi’ah atau kelompok lain seperti hari ini, sekulerisme, liberalisme, kapitalisme dan komunisme.

Jamaah adalah perintah Allah yang bisa mendatangkan Rahmat nya jam adalah perintah Allah yang bisa mendatangkan rahmat-Nya, sedangkan perpecahan dibenci Allah bisa mendatangkan azab Nya.

Allah mengingatkan bahwa orang-orang kafir bekerja secara terorganisasi serta saling tolong-menolong memerangi Islam.

Maka jika kaum muslimin tidak memperkuat iltizam kepada jamaah baik secara ilmiah dan politik, akan berakibat hancurnya pondasi Islam itu sendiri.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 91 Rubrik Tema Utama

Penulis : Anwar

Editor : Helmi Alfian